Society Planet & People

Menabur Kebaikan

Tamara Dewi Gondo

@tamarawuu

Model & Pebisnis Sosial

Walaupun kita punya segalanya itu semua tidak menjamin kebahagiaan sejati dalam hidup kita. Tetapi kebahagiaan sejati sebenarnya bisa didapatkan saat kita bisa mengantarkan kebahagiaan untuk orang lain. Meskipun mungkin orang-orang tersebut tidak menyukai kita, meskipun mereka tidak mengerti makna kebaikan kita. Yang terpenting adalah kita tetap melakukannya. Kita manusia diciptakan oleh Tuhan yang sama meskipun terlahir berbeda. Sehingga sudah menjadi tanggung jawab kita untuk saling membantu. Memang, kita tidak bisa memilih terlahir kaya atau miskin tapi kita bisa memilih untuk membantu orang lain.

Memang, kita tidak bisa memilih terlahir kaya atau miskin tapi kita bisa memilih untuk membantu orang lain.

Suatu saat saya pernah mengunjungi desa terpencil di Sumatera untuk mengajar anak-anak di sana. Saya melihat kondisi sekolah dan anak-anak muridnya yang kurang beruntung: bangunan sekolah yang hampir rubuh, pakaian anak-anak yang compang-camping dan tanpa alas kaki. Ketika kami turun dari bus, anak-anak menyambut kita dengan kebahagiaan yang tidak terlupakan. It was a joy amidst their circumstances that touched me. Terlintaslah bayangan sebagian  teman-teman saya di Jakarta dalam lingkungan keluarga yang berkelimpahan rezeki. Setiap minggu menghabiskan banyak uang untuk pesta tetapi rasanya masih tak terlihat bahagia. Dari pengalaman tersebut saya lantas berkomitmen pada diri sendiri untuk tidak berhenti di saat itu saja. Saya mau terus menyebarkan kebaikan dan kebahagiaan untuk orang lain sampai-sampai mengambil jurusan sosiologi untuk tahu bagaimana sebenarnya bisa berkontribusi dalam ranah kemanusiaan. 

Dalam pengalaman saya di dunia ‘social work’, berbuat baik itu hal yang tidak mudah. Kita harus sadar mengapa dan bagaimana memberikan kebaikan. Suatu kali, saya pernah menyumbang mainan dan bantuan dana ke suatu yayasan.  Hal itu malah membuat mereka mempunyai mindset “Saya pantas mendapatkan ini dan tidak ada salahnya meminta”. Bisa-bisa maksud kita menolong justru bisa “menyakiti” orang yang kita tolong. Sehingga kita harus tahu benar apa yang orang tersebut butuhkan. Tidak hanya sekadar memberikan apa yang mudah untuk kita. Akan jauh lebih baik jika kita bisa memberikan kehormatan (dignity) untuk orang tersebut. Gol terbesar dari sebuah kebaikan itu sendiri adalah untuk membiarkan orang lain hidup dalam tujuan hidup dan potensi mereka. Jangan sampai kebaikan tersebut seakan merampas kebebasan mereka untuk memilih menjadi mandiri.

Gol terbesar dari sebuah kebaikan itu sendiri adalah untuk membiarkan orang lain hidup dalam tujuan hidup dan potensi mereka.

Kebaikan juga bisa bersifat sementara saat kita tidak menghadirkan keadilan di dalam prosesnya. Banyak orang percaya kisah kepahlawanan Robin Hood yang mencuri dari orang kaya untuk diberikan ke orang miskin itu benar. Menurut saya aksi tersebut justru tidak akan menciptakan kebaikan yang bertahan lama. Mungkin saja kan kalau misalnya orang miskin yang sudah diberi kelimpahan tersebut menjadi kaya nantinya mereka akan mengikuti jejak Robin Hood? Melakukan tindak kriminal atas dasar kebaikan. Menurut saya melakukan aksi kebaikan bukan berporos pada hasil melainkan pada proses. Lihat saja Nelson Mandela seorang tokoh pejuang kemanusiaan. Ia memperjuangkan keadilan dan kebenaran tanpa memunculkan peperangan. Akhirnya aksinya pun berbuah manis, melahirkan pribadi-pribadi dengan sifat yang bisa memaafkan dan menjunjung tinggi perdamaian. Coba bandingkan dengan daerah-daerah lain di Timur Tengah yang menyelesaikan konflik dengan perang. Bukannya tercipta solusi malah terus memunculkan perang lainnya. 

Kala kita mencintai seseorang dan berkata, “Saya cinta kamu,” kita tidak fokus pada kata “saya” atau pada aksi itu sendiri yaitu “cinta”. Kita fokus pada kata “kamu” yang adalah orang lain. Arti kebaikan itu sendiri jadi akan lebih bermakna saat kita melakukannya dengan tujuan membantu orang lain berkembang. Membuat mereka merasa dihargai atas kebaikan yang kita berikan. Kebaikan tanpa motif tertentu, tanpa agenda terselubung. Itulah misi saya dalam hidup. Saya ingin menjadi pribadi yang baik bukan hanya dengan satu kali mengadakan bakti sosial saja tapi dengan perilaku sehari-hari. Tak peduli apapun yang dinilai orang lain atas kebaikan yang saya sebarkan. Saya cukup percaya diri akan tujuan kemanusiaan yang saya percaya. Walaupun saya tahu mungkin banyak orang memiliki ekspektasi tertentu pada saya melihat aksi-aksi sosial yang telah saya lakukan. Namun saya melakukan aksi kemanusiaan bukan untuk memberikan kesan baik. Saya hanya ingin mengekspresikan diri dengan membagikan cinta dan kebaikan itu sendiri untuk orang banyak.

Arti kebaikan itu sendiri jadi akan lebih bermakna saat kita melakukannya dengan tujuan membantu orang lain berkembang.

Related Articles

Card image
Society
Kembali Merangkul Hidup dengan Filsafat Mandala Cakravartin

Mengusahakan kehidupan yang komplit, penuh, utuh, barangkali adalah tujuan semua manusia. Siapa yang tidak mau hidupnya berkelimpahan, sehat, tenang dan bahagia? Namun ternyata dalam hidup ada juga luka, tragedi dan malapetaka. Semakin ditolak, semakin diri ini tercerai berai.

By Hendrick Tanuwidjaja
10 June 2023
Card image
Society
Melatih Keraguan yang Sehat dalam Menerima Informasi

Satu hal yang rasanya menjadi cukup penting dalam menyambut tahun politik di 2024 mendatang adalah akses informasi terkait isu-isu politik yang relevan dan kredibel. Generasi muda, khususnya para pemilih pemula sepertinya cukup kebingungan untuk mencari informasi yang dapat dipercaya dan tepat sasaran.

By Abigail Limuria
15 April 2023
Card image
Society
Optimisme dan Keresahan Generasi Muda Indonesia

Bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda pada 2022 lalu, British Council Indonesia meluncurkan hasil riset NEXT Generation. Studi yang dilakukan di 19 negara termasuk Indonesia ini bertujuan untuk melihat aspirasi serta kegelisahan yang dimiliki anak muda di negara masing-masing.

By Ari Sutanti
25 March 2023