Society Art & Culture

Mempopulerkan Budaya

Arawinda Kirana

@arawindak

Penari & Pegiat Budaya

Budaya adalah yang membuat sebuah negara berbeda, lebih berwarna. Budaya juga membuat kita memiliki identitas dan tentunya membuat kita berbeda. Saat kita berada di luar negeri, budaya yang ada di dalam diri membuat kita jadi unik dan istimewa. Sejak umur 6 tahun, aku sudah berada dalam komunitas seni budaya karena menjadi penari Bali. Aku melihat kegigihan para seniman-seniman di sana yang terus berjuang mempertahankan budaya, ingin terus belajar dan mengajarkan seni budaya pada lebih banyak orang. Terutama anak-anak muda. Berada di komunitas tersebut juga menyadarkanku betapa indahnya budaya di negara kita. Aku merasa berbeda dari anak-anak seumurku yang belum banyak tahu tentang budaya. Ketika mendaftar sekolah di luar negeri pun, budaya sepertinya menjadi alasan mereka menerima karena kehadiranku menambah nilai keberagaman di sana. 

Budaya adalah yang membuat sebuah negara berbeda, lebih berwarna. Budaya juga membuat kita memiliki identitas dan tentunya membuat kita berbeda.

Kalau kita bisa memikirkan lebih seksama, setiap budaya pasti punya sejarahnya sendiri. Ia membentuk identitas kita sekarang ini. Tapi aku tergelitik saat tahu bahwa dulu kita dijajah selama 365 tahun dan tetap memiliki budaya yang kental. Sementara setelah merdeka banyak sekali kebudayaan yang terhapus. Aku merasa apakah benar ini yang dinamakan kemerdekaan untuk kita? Sehingga mulailah aku tergerak untuk melanjutkan perjuangan orang-orang di masa lampau yang menciptakan dan terus menyebarkan esensi seni dan budaya kita agar tidak tergerus arus globalisasi. Meski sebenarnya aku juga tidak merasa globalisasi adalah sesuatu hal yang buruk. Kita tetap bisa menjadi manusia yang berbudaya tanpa harus menolak globalisasi. Di India, contohnya. Mereka juga terpapar globalisasi tapi tetap mengenakan baju adat ke berbagai tempat. Yang terpenting adalah bagaimana kita melestarikan budaya di dalam negeri dan mempromosikannya keluar. 

Kita tetap bisa menjadi manusia yang berbudaya tanpa harus menolak globalisasi.

Faktanya, kita seharusnya merasa bangga jika sekarang bisa mengenakan kain batik sebab dulu di zaman kerajaan, tidak semua orang bisa pakai. Dulu kebanyakan orang memakai kain polos karena yang bisa pakai kain bermotif hanyalah para keturunan bangsawan. Kita sekarang punya privilese itu dan seharusnya bisa merasa istimewa bisa mengenakannya. Aku sungguh mengagumi penciptaan batik yang merupakan bentuk seni dengan arti yang begitu mendalam. Semua aspek batik memiliki makna. Nenek moyang kita memikirkan filosofinya sedemikian rupa agar batik menjadi identitas kita.

Dengan mengenakan batik tulis atau tenun kita juga sudah berkontribusi pada slow fashion selain juga sebagai bentuk apresiasi para pengrajin lokal yang sudah semakin tergusur. Oi, penggagas Swara Gembira, salah satu komunitas yang memerjuangkan revolusi seni budaya Indonesia, menceritakan tentanga pengalamannya yang pernah mengunjungi mereka dan bertanya apakah anak-anaknya diajarkan juga. Mereka bilang, “Tidak diajarkan supaya mereka tidak miskin seperti saya”. Ini sungguh sangat disayangkan. Membatik adalah sebuah bentuk seni yang sakral dan harus dipertahankan. Jika hilang, berarti kita kehilangan salah satu identitas bangsa yang menjadi keunikan kita. Cerita ini menyentuh sekaligus memotivasiku untuk mulai mempopulerkan kain. Aku berpikir, “Kalau bukan aku, siapa lagi?”.

Aku sempat berdiskusi dengan beberapa tokoh budaya. Kami meyakini bahwa perlu diadakan sebuah pembaruan budaya, terutama batik. Kain tradisional begitu luar biasa indahnya dan aku tetap merasa keren menggunakannya. Tapi menurutku kalau kita mau menggapai anak-anak muda lebih banyak, sepertinya kita harus melakukan modernisasi terhadap batik. Seperti yang dilakukan oleh Swara Gembira yang menciptakan inovasi pencampuran batik dan bahan kulit. Aku percaya dengan adanya revolusi budaya akan semakin banyak anak-anak muda yang melirik untuk menggunakan kain batik atau tenun. 

Selama ini promosi budaya pun terasa masih kurang. Adanya aturan mengenakan batik di setiap Hari Jumat menurutku tidak membangun minat masyarakat. Seakan pemerintah mengharuskan kita pakai batik yang bukan keinginan kita sendiri. Efek psikologisnya bisa membuat orang jadi malas memakai. Jadi aku punya misi untuk membangun minat anak-anak muda agar tergerak dari hatinya sendiri. Salah satunya adalah dengan memanfaatkan media sosial yaitu membuat video-video yang tentang kain, dan menghidupi kain dalam keseharian sesimpel memakai kain setiap hari. Aku selalu bilang pada teman-teman yang mengikuti akun media sosialku bahwa kain sangatlah keren karena bisa jadi apa saja. Satu kain bisa dibentuk menjadi 10 jenis pakaian mulai dari atasan, bawahan, aksesori, hingga tas. Menyampaikan pesan-pesan semacam ini aku berharap kaum muda bisa terus berpikir kreatif dan berkarya dengan kain hingga akhirnya mencintai budaya kita. 

 

Related Articles

Card image
Society
Bercakap Bersama Hannah Al Rashid: Kekerasan Seksual

Siul-siulan yang menganggu, memandang yang terlalu lama menimbulkan rasa jijik tak nyaman, mempertontonkan alat kelamin, pemerkosaan. Semua ini tidak diinginkan. Semua ini kekerasan seksual. Saya bercakap bersama Hannah Al Rashid. Dia bercerita tentang kekerasan seksual yang dia alami, patriarki, relasi kuasa, dan pentingnya kerjasama antara perempuan dan laki-laki dalam menghapus kekerasan seksual di sekitar kita.

By Marissa Anita
28 November 2020
Card image
Society
Belajar Dari Pandemi

Seringkali kita manusia cenderung menggampangkan sesuatu yang belum ada di hadapan kita. Walaupun pandemi ini banyak menimbulkan hal yang tidak mengenakkan, namun tetap ada sisi baiknya. Banyak permasalahan di industri kesehatan yang tidak jadi sorotan sekarang akhirnya satu persatu muncul ke permukaan.

By dr. Shela Putri Sundawa
28 November 2020
Card image
Society
Berteman Tanpa Batas

Jika orang tua sudah mendidik anak-anaknya sejak kecil untuk berkelompok dan tidak mengajarkan keberagaman, di masa depan akan semakin banyak terjadi perselisihan di antara kita. Padahal kita memang diciptakan berbeda, bukan? Apalagi sebagai orang Indonesia yang begitu beragam. Mengapa kita justru sulit menerima perbedaan?

By Reda Gaudiamo
28 November 2020