Society Planet & People

Mematahkan Stigma Kata Janda

Myrna Soeryo

@myrnasoeryo

Pegiat Organisasi Wanita

Mendengar kata “janda”, sebagian orang mungkin akan langsung mendaratkan sejumlah persepsi negatif. Bahkan seringkali kata janda dikaitkan dengan perempuan penggoda. Padahal kalau mengacu Kamus Besar Bahasa Indonesia kata janda sendiri berarti status perempuan yang sudah tidak memiliki pendamping setelah menikah. Lalu mengapa kata janda bisa jadi negatif? Kemungkinan besar alasanya diperkirakan karena adanya kebudayaan patriarki dan kecenderungan masyarakat yang menjadi misoginis atau memiliki kebencian terhadap perempuan. Menempatkan pria di posisi yang lebih tinggi dari perempuan dan kerapkali menjatuhkan kesalahan pada perempuan. 

Lalu mengapa kata janda bisa jadi negatif? Kemungkinan besar alasanya diperkirakan karena adanya kebudayaan patriarki dan kecenderungan masyarakat yang menjadi misoginis atau memiliki kebencian terhadap perempuan.

Bahkan saya menemukan ada beberapa figur publik yang menggunakan kata janda sebagai bahan bercanda dan secara sadar menempelkan konotasi negatif pada kata tersebut. Ungkapannya menguatkan stigma janda sebagai perempuan yang suka menggoda dan merebut suami orang. Kemudian kalau kita mengetik pada mesin pencarian online, kata janda juga sering digunakan di luar konteks. Saya merasa banyak media yang mencari clickbait hingga menempatkan kata janda pada konteks yang menggelitik seseorang untuk membuka tautan. Sekalipun sebenarnya isinya tidak berhubungan dengan judul. Selain itu saya sempat melihat satu iklan properti menggunakan kata janda sebagai promosi. Iklan itu bertuliskan: Beli Rumah Dapat Janda. Padahal maksud dari kata janda itu sendiri adalah singkatan dari nama-nama hadiah yang kalau digabungkan menjadi kata janda. Dalam konteks ini tentu saja definisi kata janda jadi tidak tepat dan bahkan bisa diperhitungkan melecehkan seorang janda. 

Sebagai seorang janda, saya sendiri pernah mengalami pengalaman yang kurang menyenangkan. Dulu saya pernah datang ke salah satu dokter langganan. Dia bertanya, “Kok suaminya tidak ikut?”. Lalu saya menjawab, “Kami sudah tidak bersama lagi.” Kemudian sang dokter melontarkan kalimat yang cukup menyinggung, “Oh pasti Ibu karena terlalu sibuk kerja jadi suaminya tidak diurus ya? Makanya suaminya kabur”. Dokter —yang kebetulan pria, itu tidak punya hubungan dekat dengan saya dan dia bisa dengan mudah mengomentari sesuatu yang bukan urusannya. Jadi sudah jelas sekali bukan bagaimana kata janda bermakna amat buruk di masyarakat kita?

Sungguh ironis perempuan selalu dianggap pihak yang bersalah. Padahal bisa saja perempuan tersebut memutuskan bercerai karena menyadari hubungan pernikahannya tidak sehat. Bisa saja sebenarnya pernikahannya penuh dengan kekerasan baik secara verbal, mental atau fisik. Sehingga seorang perempuan yang berani keluar dari pernikahan tak sehat tersebut seharusnya dinilai sebagai pemenang sebab dia berhasil mengeluarkan diri dan mungkin anak-anaknya serta kembali menjadi dirinya sendiri. 

Sehingga seorang perempuan yang berani keluar dari pernikahan tak sehat tersebut seharusnya dinilai sebagai pemenang sebab dia berhasil mengeluarkan diri dan mungkin anak-anaknya serta kembali menjadi dirinya sendiri. 

Mungkin kita yang hidup di kota besar, stigma negatif dari kata janda hanya mengganggu pikiran saja. Akibatnya perempuan yang sudah bercerai tidak mau dilabelkan sebagai janda dan memilih untuk diketahui sebagai single mom, single parent atau single lagi. Lalu bagaimana dengan mereka yang tinggal di daerah atau kota kecil? Kata janda yang bermakna negatif itu bisa berdampak lebih buruk. Banyak janda di daerah sampai kesulitan mendapatkan penghasilan karena dikucilkan oleh warga sekitar. Contohnya ketika ada seorang janda yang memiliki toko kelontong. Lalu para istri melarang suaminya berbelanja di sana karena takut digoda olehnya. Sungguh kasihan sekali hidupnya dipersulit hanya karena stigma negatif pada statusnya yang menjanda. 

Berangkat dari segala isu tentang kata janda yang mengalami peyorasi atau penurunan makna, saya bersama Mary Silvita (head of law), Asep Suaji (co-founder) dan Mutiara Proehoeman, penggagas #SaveJanda, bersama sekelompok perempuan yang pernah dan sedang berstatus janda lainnya mengembangkan gerakan berbasis komunitas ini. Secara garis besar, kami ingin memberikan edukasi secara terus menerus dan bertahap pada masyarakat agar tak lagi memandang label janda menjadi sesuatu yang buruk. Salah satu misi kami juga untuk mengajak media membantu kami mengangkat profil janda yang berhasil. Banyak sekali para janda yang berhasil dalam kariernya. Sayangnya media jarang sekali mengangkat cerita janda yang berhasil dan sebaliknya mereka kebanyakan mengangkat kisah-kisah janda yang kurang menginspirasi. Inilah yang kami rasa harus diperjuangkan. 

Kami percaya kalau kami bisa mendorong dan membantu para janda secara ekonomi, mandiri dan membuat mereka berdaya, masyarakat lambat laun dapat mengubah pemikiran negatifnya terhadap label janda. Selain itu, kami juga ingin berkontribusi dalam sisi psikologi para janda yang terguncang karena segala perlakuan kurang baik dan bahkan pelecehan secara halus. Kami menghadirkan para ahli di bidang psikologi lewat Instagram Live untuk memberikan inspirasi pada mereka. Kami juga menyediakan ruang untuk mereka bisa mencurahkan perasaan dan pengalaman lewat grup WhatsApp. Utamanya, kami ingin mendorong para perempuan untuk menyadari bahwa mereka punya pilihan untuk bahagia. Terutama untuk mereka yang berada dalam sebuah pernikahan toxic. Kami ingin membantu mereka untuk berani keluar dari pernikahan tersebut dan memilih jalan terbaik untuk kesehatan mentalnya serta anak-anaknya.

Kami percaya kalau kami bisa mendorong dan membantu para janda secara ekonomi, mandiri dan membuat mereka berdaya, masyarakat lambat laun dapat mengubah pemikiran negatifnya terhadap label janda.

Related Articles

Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021
Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021