Society Planet & People

Kemakmuran dari Alam

Ketertarikan saya terhadap isu lingkungan sebenarnya berawal jauh ketika saya masih kecil. Dengan latar belakang keluarga saya yang seorang petani, sedari kecil saya memang sudah akrab dengan dunia pertanian. Saya tinggal di Denpasar, di pusat kota, tetapi setiap liburan sekolah yang biasanya bertepatan dengan musim panen saya selalu pergi ke kampung. Budaya ini juga memang sudah ada turun temurun dalam keluarga, apalagi kampung saya di Tabanan yang dikenal sebagai lumbung pangan Pulau Bali.

Keluarga saya punya warisan turun temurun mulai dari kebun kopi, cengkeh, cokelat, kelapa, hingga beras. Sewaktu kecil mungkin saya belum menyadari nilai dari pengalaman ini. Tetapi begitu dewasa, saya menyadari kedekatan saya akan dunia pertanian memberikan saya sebuah perspektif baru dalam melihat kemewahan. Saya melihat kampung halaman saya seperti swalayan bahwa ternyata kemakmuran itu ada di lahan kita. 

Saya melihat kampung halaman saya seperti swalayan bahwa ternyata kemakmuran itu ada di lahan kita. 

Sudut pandang ini lantas berlanjut hingga saya dewasa, saya juga percaya bahwa pada akhirnya semesta akan mempertemukan kita dengan orang-orang yang memiliki ketertarikan yang sama. Fakta bahwa rata-rata petani di Indonesia kini sudah paruh baya sedangkan generasi muda yang berminat meneruskan profesi ini hanya 3%, ada bencana yang sangat terprediksi bahwa kita bisa kehilangan sektor pangan dalam 5-10 tahun ke depan. Akhirnya apa pun yang saya lakukan selalu berkaitan dengan isu ini. Bagaimana saya bisa mendukung dan melestarikan kekayaan yang dimiliki Indonesia dengan cara apa pun yang saya bisa, termasuk melalui film dan musik.

Gagasan-gagasan di dunia produsen pada sektor hulu ini, terutama kopi, juga akhirnya membangun kedekatan saya dengan Visinema, sehingga ketika saya membicarkan kegelisahan saya yang lainnya yaitu mengenai sampah plastik, gayung pun bersambut. Kami pun akhirnya berkolaborasi untuk menggarap film "Pulau Plastik", sebuah film yang menyuarakan isu lingkungan, terutama sampah plastik, di bumi pertiwi kita ini.

Isu sampah plastik di Bali sendiri sebenarnya sudah cukup banyak dibicarakan dalam 15 tahun terakhir. Mungkin karena Bali sebagai daerah pariwisata memang acap kali berjalan berdampingan dengan sampah yang dihasilkan. Namun isu ini kembali ramai diperbincangkan beberapa tahun lalu, salah satunya setelah pernyataan dari seorang peneliti lingkungan asal Amerika Serikat, Jenna Jamback, yang mengatakan bahwa Indonesia adalah negara kedua terbesar di dunia yang menghasilkan sampah plastik di laut. Bagi saya, berita ini adalah aib. Saya sangat bereaksi akan hal ini dan juga merasa malu.

Indonesia adalah negara kedua terbesar di dunia yang menghasilkan sampah plastik di laut.

Perasaan ini akhirnya memunculkan diskusi dengan teman-teman yang memiliki kekhawatiran yang sama dan berusaha melakukan sesuatu akan hal ini. Akhirnya munculah inisiatif unutk membuat serial Pulau Plastik sebanyak 4 episode dengan durasi sekitar 20 menit untuk kita putar di masyarakat. Ternyata serial ini mendapat sambutan baik dan akhirnya diputuskan untuk dijadikan film panjang hasil kerjasama dengan Visinema. Film Pulau Plastik juga mendapatkan banyak apresiasi hingga diundang untuk diputarkan di University of Melbourne, kantor National Geographic di Washington, hingga tahun ini bisa masuk dalam SXSW Film Festival di Texas.

Proses pembuatan film dokumenter ini juga melibatkan Angga Sasongko dari Visinema serta Ewa Wojkowska dari Kopernik sebagai executive producer, dan disutradarai oleh Dandhy Laksono dan Rahung Nasution. Salah satu proses yang juga memakan banyak waktu dalam proses pembuatan film ini ada riset. Kami bekerja sama dengan Universitas Airlangga, Univeritas Udayana, Institut Pertanian Bogor, dan LIPI untuk riset film Pulau Plastik. Kami ingin membawa isu ini ke level nasional agar urgensi pembahasan topik mengenai bahaya sampah plastik yang mencemari laut Indonesia dapat didukung dengan regulasi yang jelas.

Film ini bukan anti plastik, karena kita juga melihat plastik sebagai benda ekonomis, yang dulu dibuat agar mudah dibentuk dan tahan lama, juga bisa menggantikan panggunaan bahan lain seperti kayu dari pohon. Kendati demikian, plastik bisa menjadi masalah  kalau bahan yang murah dan tahan lama ini dijadikan bahan sekali pakai. Misalnya sedotan yang hanya kita pakai 5 menit tapi ada di alam selama ratusan tahun karena manajemen sampah yang buruk akhirnya sampah plastik ini berakhir di lautan. Harapan kami melalui film ini kita dapat memahami bahwa bagaimana kita selama ini semena-mena terhadap penggunaan plastik dan semoga  ke depannya kita sebagai konsumen juga bisa lebih bertanggung jawab terhadap apa yang kita lakukan semuanya ada dampaknya pada bumi.

Film ini bukan anti plastik, karena kita juga melihat plastik sebagai benda ekonomis, yang dulu dibuat agar mudah dibentuk dan tahan lama, juga bisa menggantikan panggunaan bahan lain seperti kayu dari pohon.

Kami juga mendukung agar pemerintah menjadikan ini sebagai isu prioritas karena akan berhubungan erat dengan ketahanan pangan nasional. LIPI berpendapat bila laju penggunaan plastik tetap sama, di tahun 2050, jumlah plastik bisa lebih banyak daripada ikan di laut. Padahal, cadangan protein terbanyak kita ada di lautan. Mengkhawatirkan, bukan? Masalah plastik yang ada di Indonesia juga bukan semata-mata hanya masalah Indonesia, tapi global. Produk kemasan dari negara-negara maju juga hanya 9% yang bisa didaur ulang, dan selebihnya dikirim ke negara lain seperti Indonesia. Jadi, ini adalah tanggung jawab dunia. 

Related Articles

Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022
Card image
Society
Apresiasi Seni di Ruang Publik

Ketika berbicara mengenai apresiasi seni, menurut saya hal ini bisa dilakukan mulai dari cara-cara yang sederhana. Bisa kita mulai dengan memajang karya seni di halaman rumah kita. Kalau mungkin kita memiliki properti lain seperti villa atau restoran, tempat-tempat tersebut juga bisa menjadi opsi bagi kita untuk mengapresiasi karya seni yang juga bisa dilihat oleh publik.

By Hafidh Ahmad Irfanda
16 April 2022