Society Planet & People

Kebahagiaan Dalam Kebersamaan

Andien

@andienaisyah

Musisi

Fotografi Oleh: Nafhan Nurul

Banyak orang berpikir bahwa kebahagiaan itu datang ketika kita memiliki materi atau bertemu dengan orang-orang yang membuat kita bahagia. Kemudian pengertian itu pun berkembang menjadi sebuah stigma di mana ketika bertemu dengan orang yang kurang disuka atau di luar pergaulannya mereka akan menarik diri dan tidak mau bersentuhan sama sekali. Lama kelamaan semua berubah menjadi bentuk bisnis untung-rugi. Kalau mereka tidak mendapatkan keuntungan dari orang tersebut maka mereka tidak mau menjalin harmonisasi. Padahal kebahagiaan sejati terletak dalam diri. Standar kebahagiaan itu bukan berasal dari seberapa untung kita dalam melakukan sesuatu atau bertemu seseorang tetapi apa yang ada di dalam diri.

Standar kebahagiaan itu bukan berasal dari seberapa untung kita dalam melakukan sesuatu atau bertemu seseorang tetapi apa yang ada di dalam diri.

Coba kita renungkan kembali. Kapan terakhir kali kita melakukan hal sosial tanpa memikirkan keuntungan duniawi untuk diri? Kapan kita rela untuk melakukan sesuatu tanpa pamrih? Atau beraksi demi orang lain yang membutuhkan? Memang, dunia yang belakangan carut-marut dengan uang dan kekuasaan ini dapat membuat kita kurang berkaca. Kita mengukur banyak hal berdasarkan diri sendiri. Mengembangkan sentralisasi diri dan membuat ego berbicara lebih banyak daripada hati yang tulus. Padahal, ketika kita berhadapan dengan orang lain yang berlatar belakang berbeda dengan kita, melihat keunikannya dan kemampuannya tersendiri dapat membuat kita berkaca dan berpikir betapa kita dapat menyentuh jiwa kita sendiri. Itulah mengapa saya pikir berkolaborasi dengan komunitas sosial sangatlah penting. Kita bisa belajar untuk tidak hanya hidup keluar tapi melihat ke dalam.

Dunia yang belakangan carut-marut ini dapat membuat kita kurang berkaca. Kita mengukur banyak hal berdasarkan diri sendiri. Mengembangkan sentralisasi diri dan membuat ego berbicara lebih banyak daripada hati yang tulus.

Seperti kolaborasi yang dilakukan di Happiness Festival menjadi kebutuhan tersendiri untuk saya. Mungkin terlihat saya mengurusi orang lain tapi sebenarnya saya mengurusi diri sendiri. Bersentuhan dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan membuat saya melihat dan merefleksikan hidup ke dalam diri sendiri sehingga memunculkan elemen-elemen kebahagiaan. Pun saya yakin ketika para pengunjung festival yang ikut berdialog atau mengikuti workshop mereka dapat mengetahui jawaban atas apa yang mereka cari dalam hubungannya dengan pengembangan diri.

Bersentuhan dengan orang-orang yang membutuhkan bantuan membuat saya melihat dan merefleksikan hidup ke dalam diri sendiri

Pada Sanggar Jiwa Bertumbuh yang saya geluti, misalnya, merupakan sebuah wadah untuk memfasilitasi orang-orang yang memiliki kekhawatiran tentang kesehatan jiwa. Saya berkolaborasi dengan beberapa pihak untuk menggali isu-isu yang berakar dari masalah kejiwaan seperti depresi atau anxiety. Kami menemukan bahwa banyak orang merasa butuh perubahan dalam hidup mereka. Meski bukan motivator atau profesional di bidangnya yang dapat memberikan solusi tapi kami berusaha untuk menyediakan ruang untuk membantu mereka yang membutuhkan solusi dari dalam diri sendiri.

Tidak lain dengan kolaborasi yang saya lakukan bersama Art Therapy Center Mediatama yang sebenarnya sudah dilakukan akhir tahun lalu. Kolaborasi ini adalah berupa pameran karya seni yang melibatkan anak-anak disabilitas. Awalnya pun pameran ini bagian dari proyek album saya yang bertakuk Warna-Warna di mana anak-anak disabilitas tersebut merespon pada lagu-lagu dalam album tersebut. Prosesnya pun sangat menarik bagaimana mereka mendengarkan lagu, berimajinasi dan menuangkannya ke dalam sebuah karya. Lalu berlanjutlah bentuk kolaborasi tersebut yang menggiring pada Happiness Festival di mana terdapat diskusi panel tentang kolaborasi ini. Pelajaran berharga pun disebarkan lewat dialog komunitas tersebut.

Sebagian masyarakat menganggap anak-anak disabilitas itu terbelakang, kesulitan untuk melakukan kegiatan-kegiatan pada umumnya. “Mereka tidak mampu. Mereka tidak bisa”, seringkali ditujukan pada mereka. Kenyataannya, mereka adalah orang-orang yang memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda dengan kita. Itu saja, kok.  Contohnya kalau kita melihat sebuah tomat, kita pasti membayangkan warna merahnya, bentuk bulatnya seperti bentuk asli yang kita lihat. Sedangkan mereka bisa berimajinasi seluas-luasnya. Mereka menggambar tomat dengan warna ungu, dengan bentuk yang tidak bulat sempurna.

Dari penemuan pemahaman ini pun saya akhirnya banyak belajar dari mereka. Membuat saya percaya dari setiap kolaborasi sosial yang terjadi akan memperluas jangkauan penglihatan kita. Sebelumnya mungkin pemikiran kita hanya berdasarkan satu teori dan praktik saja. Berputar-putar pada hal yang sama. Tapi dengan adanya kegiatan-kegiatan seperti ini kita bisa menambah ilmu, wawasan bahkan memperluas perspektif hidup. Tentu saja kolaborasi sosial ini pun membuat seluruh lapisan pihak yang terlibat bahagia. Tidak hanya anak-anak disabilitas yang berkarya saja tapi juga mereka yang melihat karya mereka. Kebersamaan ini juga yang menjadikan kita manusia sebagai Manusia.

Setiap kolaborasi sosial yang terjadi akan memperluas jangkauan penglihatan kita.

Related Articles

Card image
Society
Aku Berpikir Maka Aku Ada

Dalam segala aspek hidup, filsafat menjadi penting untuk membantu pola pikir kritis; untuk kita bisa mempertanyakan kebenaran suatu informasi agar tidak mudah terjerumus. Ia bisa jadi semacam alat untuk berpikir secara luas demi membantu kita memiliki perspektif yang lebih objektif.

By Nathanael Pribady
24 October 2020
Card image
Society
Memutus Rantai Bahaya

Saya ingat saat sumpah dokter terdapat kalimat yang menyatakan bahwa saya harus bisa memperlakukan para dokter seperti keluarga. Sehingga ketika mendengar kabar duka tentang para tenaga kesehatan yang meninggal karena Covid-19, muncul haru yang mendalam untuk saya.

By dr. Gabriella Florencia, MD
17 October 2020
Card image
Society
Pendidikan dan Perubahan

Pendidikan mungkin bukan satu-satunya cara untuk mengubah perilaku. Akan tetapi, untuk menerima dan menghadapi perubahan, kita membutuhkan pengetahuan yang diperoleh dari pendidikan. Tidak ada perubahan bila tidak ada pengetahuan.

By Iman Usman
17 October 2020