Society Lifehacks

Esensi Beragama

Sedari kecil kedua orangtuaku tidak pernah memaksa kehendaknya soal agama. Mereka membiarkanku untuk mencerna sendiri kebaikan dan keburukan dalam berperilaku dan bagaimana aku bisa menilai agama itu sendiri. Bahkan mereka memberikanku kebebasan untuk mengonsumsi beragam sastra yang berisikan ajaran-ajaran yang mungkin berseberangan dengan paham agama. Mulai dari ajaran moderat sampai liberal. Meskipun begitu mereka juga tetap memperlihatkan pandangan mereka tentang ajaran Islam. Sampai suatu kali aku mengenal Profesor Quraish Shihab dengan buku-bukunya dengan topik yang menurutku amat menggigit. Isinya bukanlah sekadar tafsir melainkan penggabungan pemikirannya sebagai salah satu ulama tersohor negeri ini dan dalam sudut pandangnya yang diplomatis. Mengetahui dulu beliau pernah menjadi Menteri Agama. 

Banyak belajar dari beliau aku pun sampai merujuk pemahamannya pada projek menulis di sekolah ketika berumur 14 tahun. Berjudul Read Without Prejudice, Do Without Doubt, aku menuangkan berbagai pengamatan sebagai remaja memandang sebuah agama tanpa bermaksud untuk mengajari. Usia remaja bisa dibilang masa-masa manusia banyak mempertanyakan sesuatu. Termasuk agama. Masa di mana sudah tidak lagi semuanya diatur oleh orang tua tapi juga belum sedalam itu memahami agama. Aku melihat banyak anak-anak remaja di sekelilingku yang mungkin banyak menyerap ilmu-ilmu kebaratan sampai mengurangi pemikirannya tentang agama. Bahkan banyak yang berpikir bahwa sesuatu yang ilmiah dan rasional adalah yang paling benar dan apa yang diajarkan orang tua mereka soal agama salah. Padahal sebenarnya bukan salah tapi tidak cocok saja dengan apa yang mereka pikirkan. Mereka menggunakan perspektif “salah” yang seharusnya perspektif “tidak suka”. Ketika itu aku jadi memiliki kecemasan kalau sampai para remaja menganggap agama itu salah apalagi sampai menganggap remeh ilmu teologi. Sehingga dalam buku itu aku berusaha untuk memberikan advokasi tentang kebaikan agama yang merujuk dari para praktisi profesional. Namun tetap diselingi dengan argumenku sendiri sebagai seorang remaja.

Ketika itu aku jadi memiliki kecemasan kalau sampai para remaja menganggap agama itu salah apalagi sampai menganggap remeh ilmu teologi.

Beranjak dewasa aku semakin memahami bahwa berbicara agama adalah berbicara hal yang amat sensitif. Rasanya hampir tidak mungkin berbicara fakta tentang agama. Ibaratnya seperti kita bicara tentang cinta. Bukan berarti ketika kita mencintai seseorang kita bisa melakukan apapun. Begitu juga dengan membenci. Ketika benci seseorang, bukan berarti semua hal yang ada pada orang itu adalah buruk. Dulu ketika aku menulis buku itu, aku melihat banyak remaja yang mungkin dipaksa atau tidak suka dengan beberapa kewajiban yang ada di agamanya. Tapi bukan berarti semua unsur yang ada di dalam agama itu salah sampai akhirnya merasa tidak ada kebaikan yang bisa diambil dari ajarannya. Aku merasa bahwa banyak orang yang berbicara agama seringkali sulit meninggalkan unsur subjektivitasnya ketika hendak menyampaikan objektivitas. Apalagi ketika ia berusaha menjelaskan perspektif keagamaannya terhadap agama yang berbeda. Misalnya, dalam ajaran Hindu ada anjuran untuk tidak makan daging sapi. Tapi bukan berarti makan daging itu salah. Begitu juga dengan ajaran Islam yang menganjurkan tidak makan babi. Kedua perbedaan ini tidak dapat didebat karena ajarannya yang berbeda. Bukan mana yang lebih salah atau benar. 

Beranjak dewasa aku semakin memahami bahwa berbicara agama adalah berbicara hal yang amat sensitif. Rasanya hampir tidak mungkin berbicara fakta tentang agama.

Aku cukup heran mengapa masih ada pihak-pihak yang sering bertikai soal agama. Menurutku itu tidak merepresentasikan esensi beragama. Aku percaya di semua agama diajarkan toleransi, diciptakan berbeda-beda. Sayangnya yang jadi rumit adalah ketika banyak faktor manusia yang dicampur adukan seperti unsur politik. Pada dasarnya, isu SARA (Suku Agama, Ras dan Antargolongan) berbasis pada sisi psikologis manusia yang dinamakan skemata di mana kita manusia suka sekali mengelompokkan sesuatu hingga seringkali berpandangan bahwa kelompok yang berbeda dengan kita adalah kelompok yang buruk. Menurutku, pemahaman ini sungguh pemahaman yang masih berada di tingkat dasar sekali. Kalau mau ditelaah lebih dalam, semua agama memiliki esensi yang sama di mana aspek kesamaan derajat sosial juga berada di dalamnya. 

Pada dasarnya, isu SARA berbasis pada sisi psikologis manusia yang dinamakan skemata di mana kita manusia suka sekali mengelompokkan sesuatu hingga seringkali berpandangan bahwa kelompok yang berbeda dengan kita adalah kelompok yang buruk.

Berdasarkan buku The History of God oleh Karen Amstrong yang meneliti tentang Yudaisme, Kristen, dan Islam, dia menemukan bahwa sebenarnya ketiga agama ini berada dalam satu garis yang didalamnya memiliki ajaran yang mirip. Setiap agama sebenarnya memiliki perpotongan ajaran agama lain di luarnya karena adanya multikulturalisme yang terjadi ketika terbentuk satu ajaran agama. Masalah yang sering terjadi adalah kita sering lupa sisi multikulturalisme itu sehingga sulit menghargai perbedaan. Kalau saja kita punya self-fulfillment, dalam artian bahwa kita bisa mengapresiasi perbedaan diri kita sendiri nantinya kita bisa lebih mudah menghargai perbedaan yang dimiliki orang lain. Sehingga kita bisa mulai berpikir bahwa kita tidak punya hak atas orang lain dan kita semua ini baik pria atau wanita itu setara. Namun yang terjadi faktor superioritas yang memunculkan keegoisan atas pendirian kita yang langsung menilai sesuatu yang tidak kita suka itu salah.

Sekarang ini aku sedang berkuliah di jurusan filsafat. Sebagian orang mungkin merasa takut ketika terlalu banyak belajar filsafat bisa mengurangi kepercayaan beragama. Memang banyak filsuf yang tidak beragama bahkan anti agama tertentu. Tapi bukan berarti semuanya dalam filsafat selalu berkebalikan dengan agama. Antara filsafat dan agama bisa saling melengkapi asal kita mau menelaahnya lebih dalam. Adanya philosophical thinking yang mengarahkan kita pada berpikir kritis dapat membantu kita mengapresiasi ilmu teologi itu sendiri. Bagiku, ilmu teologi adalah ilmu yang paling karismatik. Bayangkan, di satu sisi kita tidak bisa mendebat keberadaan agama tapi di sisi lain kita juga menemukan kesulitan untuk melakukan validasi pada rasionalisme di dalamnya. Dulu mungkin kalau aku berdoa cuma karena kewajiban tapi sekarang setelah memelajari filsafat aku jadi lebih punya kesadaran bahwa di dunia ini tidak cuma tentang rasionalisme tapi ada lagi di atasnya yang tidak bisa dijelaskan. Filsafat justru mengajarkan pengukuran tersendiri pada masing-masing ilmu termasuk ilmu teologi. 

Adanya philosophical thinking yang mengarahkan kita pada berpikir kritis dapat membantu kita mengapresiasi ilmu teologi itu sendiri.

Sehingga sebenarnya yang paling penting adalah bukan mempertanyakan agama seseorang apa, bagaimana ibadahnya tapi bagaimana kita bisa menerapkan ajaran agama di masyarakat dan mengapresiasi nilai ketuhanan yang diajarkan dari agama. Kalau hanya pergi ke tempat ibadah dan menjalani ritual keagamaan saja tapi masih bisa benci agama lain berarti sebenarnya ia tidak memahami esensi dari ilmu teologi itu sendiri. Apalagi sebenarnya negara kita merujuk pada ideologi pancasila yang menyatakan Ketuhanan yang Maha Esa. Sehingga seharusnya kita bisa lebih menitik-beratkan pada nilai ketuhanan ketimbang nilai keagamaan sehingga kita bisa memahami bahwa agama bukanlah alat. Ada yang lebih tinggi dari agama yaitu Tuhan. Sebab pada akhirnya inti dari beragama adalah bagaimana kita bisa mengapresiasi sesuatu yang ada di atas kita dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang dengan ajaran Islam, Kristiani, Hindu, Buddha, dan lain-lain. 

Sehingga sebenarnya yang paling penting adalah bukan mempertanyakan agama seseorang apa, bagaimana ibadahnya tapi bagaimana kita bisa menerapkan ajaran agama di masyarakat dan mengapresiasi nilai ketuhanan yang diajarkan dari agama.

Related Articles

Card image
Society
Menyeimbangkan Penggunaan Dunia Digital

Kerap kali kita mengira adiksi hanya datang dari alkohol atau obat-obatan saja. Sayangnya, belakangan banyak penelitian yang menemukan bahwa internet dan media sosial juga bisa menjadi sumber adiksi.

By Ilham Anggi
30 May 2020
Card image
Society
Peduli Kesehatan Mental

Melihat banyaknya orang yang bisa sampai menuliskan masalah pribadinya di media sosial juga orang yang dikenal memiliki masalah itu membuat saya menyadari betapa banyak orang butuh sebuah ruang yang tepat untuk dapat menyampaikan emosi mereka. Apalagi kalau mereka bisa bertemu dengan para profesional dan praktisi psikologi yang dapat membantu masalah kejiwaan mereka. 

By Audrey Maximillian
30 May 2020
Card image
Society
Hutan dan Pelajaran Kehidupan

Pelajaran kehidupan seringkali aku dapat saat tengah melangkah ke daerah dan hutan yang alamnya masih terjaga. Dengan warga lokal yang masih sangat menghargai satu sama lain tanpa melihat latar belakang kita, kesederhanaan dan ketulusan mereka selalu membuatku terkesima serta ingin datang kembali ke suatu tempat yang membuatku merasa beruntung pernah mendatanginya.

By Diyah Deviyanti
30 May 2020