Society Planet & People

Di Luar Ruang Nan Nyaman

Saya anggap Ernest Hemingway adalah orang yang pertama kali terusik oleh gesekan antara ruang yang nyaman dan "kenyataan" di luarnya. Kesimpulan ini saya ambil dari cerita pendek berjudul “Cat in The Rain” (1925) yang dianggap sebagai salah satu mahakarya Hemingway dan paling banyak dibicarakan.  

Ceritanya sangat singkat dan sederhana. Sepasang suami istri yang belum dikaruniai seorang anak tengah menginap di sebuah hotel. Sebenarnya, tak seberapa detail penggambaran interior hotelnya. Tapi narasi teksnya sangat terasa kuat, bahwa mereka sudah mendapatkan kenyamanan yang prima di saat itu. Larut malam, hujan yang deras tiada henti, situasi pasca perang dunia pertama yang tak menentu, ranjang yang empuk, selimut yang molek, buku-buku yang mengundang untuk dibaca, ruangan yang hangat, dan digambarkan salah satu tokohnya yaitu sang suami begitu asyik membaca sambil bersandar di ranjang. Mau apa lagi?

Tapi istrinya punya cara yang berbeda. Perempuan itu begitu resah melihat ada seekor kucing kehujanan di bawah hotel. Lantaran seekor kucing yang berteduh di bawah meja hijau di luar hotel itulah cerita kedua tokohnya benar-benar bergerak. Perempuan itu tak mampu untuk mengabaikan pemandangan di luar hotel. Bahkan dia menginginkan kucing itu. Melihat suaminya yang sedang tidak ingin diganggu, perempuan itu lantas mencarinya, dan seorang petugas hotel membantunya sampai dapat.

Teks dalam cerita begitu terasa, bahwa Hemingway menulisnya dengan konsep dan penuh simbol. Saya singkirkan dulu pendapat para kritikus sastra yang telah menganalisa cerpen ini sebagai simbol-simbol dari kelesuan hubungan pasutri itu. Tapi, sebagai pet lover, saya sangat memahami apa yang dirasakan perempuan dalam cerita itu. Kerinduan akan kasih sayang di dalam dirinya harus dia salurkan. Kucing adalah salah satu dari sekian banyak cara untuk melunasi gairah berkasih sayang.

Kerinduan akan kasih sayang di dalam dirinya harus dia salurkan. Kucing adalah salah satu dari sekian banyak cara untuk melunasi gairah berkasih sayang.

Saatnya kita kembali ke dunia masa kini. Sebagai praktisi dunia interior, selain faktor-faktor lainnya, saya juga mengutamakan unsur kenyamanan si pemakai dari hasil desain saya. Saya selalu membayangkan fungsi dari interior yang saya hasilkan. Fungsional harus. Mutu barang tahan lama to the max, lah. Efisiensi juga mutlak. Kepuasan pemakai jasa saya itu penting. Dan estetika hasil desain juga tak kalah penting. Saya akan selalu memegang prinsip-prinsip tadi saat berada di dalam industri ini.   

Tapi ada yang tak bisa saya buang mentah-mentah. Minimal dalam kehidupan saya pribadi. Saya tanpa embel-embel dunia profesionalisme. Ada sesuatu yang terus bergerak di dalam diri saya. Bahkan dari hari ke hari semakin kuat terasa. Saya punya sisi pribadi lain yang mungkin cukup "bertentangan" dengan industri ini. Tak akan pernah bisa saya abai begitu saja ketika melihat kucing liar di jalanan tengah terkulai lemas, ada kucing yang teraniaya penuh luka, bayi kucing yang sendirian tanpa induk, atau kucing yang sudah terbilang dewasa tapi tampak kelaparan.

Mau dipelihara di mana lagi?

Siapa nanti yang akan mengurusnya?

Repot nggak, sih, kalau kucing itu dipelihara?

Makanannya? Kotorannya?

Kalau sakit? Gimana?

Dalam hal ini saya hampir-hampir akan pernah menghitung kancing.

Ambil, jangan...

Jangan, ambil...

........, ........

Hitung-hitungan seperti itu hampir saya abaikan. Saya katakan hampir. Bukan sama sekali tidak. Saya masih berusaha bekerja sama dengan pihak-pihak lain. Misalnya urun dana keroyokan (crowd fundraising) dalam grup WhatsApp dengan beberapa teman misalnya. Mencarikan adopter, atau shelter yang saya tidak pungkiri, juga akan merogoh kantong pribadi sampai dalam untuk makanan, pasir, dan lain-lain.

Untuk kucing-kucing milik saya pribadi, saya sudah hampir-hampir kehilangan ilmu matematika yang saya dapatkan sejak kecil. Ketika kucing-kucing saya sakit, semua daya dan upaya saya lakukan. Perobatan jenis apa pun saya ‘iya, kan’. Berapa biayanya, "ya setuju!"

Di luar sana, kekerasan terhadap lingkungan juga hampir-hampir tak terbendung. Semakin canggih teknologi, semakin brutal juga kejadian di seputar lingkungan. Tak perlu jauh-jauh sampai kasus-kasus di pedalaman hutan di Kalimantan, di depan mata kita, lingkungan terdekat saya pun di Jakarta masih terasa sangat kuat. Bahkan kucing milik saya pribadi pun, yang hidup dan tinggal di dalam rumah, mengalami kebrutalan orang yang senang menyakiti binatang.   

Di luar sana, kekerasan terhadap lingkungan juga hampir-hampir tak terbendung. Semakin canggih teknologi, semakin brutal juga kejadian di seputar lingkungan.

Tapi jangan lupa. Semakin ganasnya pelaku kekerasan terhadap binatang (liar), akan semakin kencang juga gerakan pet lovers. Puluhan shelter, ratusan, atau bahkan mungkin ribuan rescuer pun terus bahu membahu untuk saling memberi daya serta menggawaikan informasi-informasi seputar penyelamatan binatang.  

Maka seminimal mungkin gerakan halus yang bisa kita lakukan, jangan ditunda. Jika kita tak bisa memberinya makan dan tempat tinggal, kita tak perlu menyiksanya. Usirlah tanpa kekerasan. Atau setidaknya, jika ada yang tidak menyukai binatang, tidak perlu terlampau radikal sampai memukul, mengikat dengan karet yang rentan infeksi, menimpuknya dengan benda keras, dan lain-lain.

Maka seminimal mungkin gerakan halus yang bisa kita lakukan, jangan ditunda. Jika kita tak bisa memberinya makan dan tempat tinggal, kita tak perlu menyiksanya.

Saat ini, ada seekor kucing jalanan rutin mengunjungi kantor saya. Kami tidak usir. Kami beri tempat dia untuk tidur dari keranjang bekas parsel. Tempat makannya pun bekas biskuit yang masih layak. Pun tempat minumnya dari mangkuk bekas sup dari GO-FOOD. Kami tidak sengaja melakukan hal-hal kecil untuk menggunakan kembali barang bekas layak pakai. Kalau sisa makanannya jadi berantakan, percayalah, tak akan lebih dari tujuh menit untuk membersihkannya.

Kucing-kucing yang kami pelihara di dalam kantor lain lagi ceritanya. Semula saya menjerit di dalam hati, ketika kucing-kucing itu mencakar sursi dan sofa kantor. (Ah, yang bener aje, masa konsultan interior sofanya ada bagian yang tercabik-cabik). Tapi lama-kelamaan kami biasa. Saya tidak mengganggap sofa itu punya riasan tambahan hasil kolaborasi seniman instalasi. Ini adalah tanda baik, pikir saya. Saya pikir ini pintu rejeki dimulai dari cabikan itu. Kami harus bekerja lebih giat. Ketika melihat hasil cabikan itu, timbul niat untuk memperbaiki sofa, atau bahkan membeli sofa yang lebih baik pun akan bisa kami lakukan nantinya.

Sebenarnya, apa yang saya lakukan dan perempuan dalam cerpen Hemingway itu adalah sedikit dari banyak cerita bagaimana "dunia yang tidak masuk akal" ini terjadi, dan sampai sekarang. Di luar sana, begitu banyak pahlawan lingkungan yang lebih berkeringat ketimbang  yang saya dan perempuan dalam cerpen Hemingway lakukan. Kecakapan halus ini akan saya pelihara sampai kapan pun. Di tengah perubahan zaman yang semakin rumit, saya yakin, apa yang ditulis Hemingway lewat narasi ceritanya 95 tahun yang lampau masih relevan untuk saat ini. Apakah kita akan tetap merasa bisa tenang-tenang saja di dalam ruangan yang nyaman sementara ada kucing, anjing, pengemis, atau orang yang kehujanan di luar sana?

Apakah kita akan tetap merasa bisa tenang-tenang saja di dalam ruangan yang nyaman sementara ada kucing, anjing, pengemis, atau orang yang kehujanan di luar sana?

Related Articles

Card image
Society
Beradaptasi dengan Inovasi

Saya telah mendengar dan melihat banyak cerita tentang pemilik usaha kecil yang awalnya memulai berbisnis karena penasaran. Mereka belajar dari Youtube, bereksperimen sambil terus di rumah karena pembatasan sosial, dan ternyata membuahkan bisnis yang berkembang.

By Jerome Polin
02 July 2022
Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022