Society Planet & People

Damai Saat Berbagi

Masalah adalah sebuah kepastian di dunia ini. Tidak ada seorang pun di dunia ini yang kebal hidup tanpa masalah. Namun setiap orang memiliki pilihan bagaimana harus merespon setiap masalah yang datang. Mungkin saya terlihat tenang-tenang saja dari luar, tapi banyak pergumulan yang harus dihadapi. Dari semua paket pergumulan itu, saya belajar untuk membenahi diri dan berusaha menyelesaikan. Saya tidak membiarkan diri untuk panik, atau putus asa, dan saya selalu percaya pasti ada jalan keluar.

Sudah banyak tahapan dalam masa pandemi ini yang kita lewati, Sungguh, saya tidak pernah menduga bahwa pandemi akan berlangsung hingga lebih dari 1,5 tahun. Dari sisi pendapatan, di awal-awal sangat mengkhawatirkan karena banyak job sebagai pembawa acara harus terhenti. Perusahaan food and beverage yang saya kelola pun menurun pendapatannya. Bersyukur saya masih bisa mengajar public speaking. Dan karena kebaikan Tuhan, di musim yang sulit ini saya masih bisa menggaji karyawan saya.

Selain semua permasalahan yang ada, banyak hal yang juga seharusnya kita syukuri. Pandemi memaksa kita semakin dekat dengan keluarga, hal ini menjadi moment refleksi kami sebagai keluarga harus lebih mensyukuri apa yang kita miliki, rumah yang kami tempati, orang-orang baik yang ada di sekitar kami. Hal ini mengajarkan saya bahawa perhatian kecil dari keluarga maupun orang-orang di sekitar kita bisa menjadi begitu berarti.

Pandemi memaksa kita semakin dekat dengan keluarga, hal ini menjadi momen refleksi kami sebagai keluarga harus lebih mensyukuri apa yang kita miliki, rumah yang kami tempati, orang-orang baik yang ada di sekitar kami. Hal ini mengajarkan saya bahawa perhatian kecil dari keluarga maupun orang-orang di sekitar kita bisa menjadi begitu berarti.

Pandemi juga mengajarkan saya untuk bisa berdamai dengan ketakutan akan ketidakpastian. Entah seperti apa masa di depan yang harus dihadapi. Saya merasakan bahwa ketenangan jiwa bisa didapatkan ketika kita memusatkan fokus kita kepada kehidupan orang lain dibandingkan diri sendiri. Ketika masa-masa sulit sekalipun, kita masih bisa melakukan sesuatu untuk orang lain. Dari sinilah kita justru mendapat keuntungan, kita merasa lebih berdaya, bersukacita.

Saya melihat bangsa Indonesia adalah bangsa yang murah hati. Tradisi gotong royong yang luar biasa. Kita bisa melihat selama pandemi ini banyak orang mengumpulkan dana untuk membantu orang lain, dan banyak orang dengan sangat ringan tangan turut berpartisipasi. Dari donasi yang mulai dari Rp 1.000, Rp 2.000 tapi bisa terkumpul sekian banyak dana, siapapun bisa berkondribusi. Ini sungguh nyata ketika saya menggalang donasi untuk masyarakat yang terdampak badai Seroja di Nusa Tenggara Timur melalui Wahana Visi Indonesia dan ketika saya menggalang donasi untuk ibu-ibu buruh gendong di Pasar Beringharjo dan Giwangan, DIY.

Kadang kita berpikir, hidup lagi susah kok bantu orang lain? Tapi entah kenapa justru saat kita ringan tangan membantu orang lain tanpa berharap apapun, jiwa kita akan bersorak dan damai, seperti bentuk perlawanan dan kemenangan atas situasi ini. Mungkin mindset di musim ini harus diubah, biasanya ketika kita memberi, itu dalam rangka kita give back atas apa yang sudah kita dapatkan. Tapi kini walau kondisi tidak menyenangkan untuk diri sendiri, mari kita memberikan hal yang menyenangkan untuk orang lain. Itulah bentuk penolakan saya terhadap ketidakberdayaan pandemi ini.

Kadang kita berpikir, hidup lagi susah kok bantu orang lain? Tapi entah kenapa justru saat kita ringan tangan membantu orang lain tanpa berharap apapun, jiwa kita akan bersorak dan damai, seperti bentuk perlawanan dan kemenangan atas situasi ini.

Saya juga melihat, kalau kita mau mencoba keluar dari pikiran-pikiran negatif kita, secara realistis kita akan berupaya mencari jalan untuk mengatasi berbagai persoalan yang kita alami. It soothes our soul, menenangkan jiwa kita.

Anak-anak perempuan saya, meskipun mereka juga sempat merasa frustrasi dengan kondisi pandemi ini, mereka dan teman-temannya juga bisa berbagi. Saya selalu mengajarkan untuk mulai berbagi dari orang-orang yang paling dekat. Mereka pun berbagi dengan masyarakat yang tinggal di kampung belakang perumahan kami, juga bahkan bisa membantu para pengemudi ojek online.

Saya selalu menyampaikan pada anak-anak saya, by giving, you are actually receiving. Dengan memberi, saat itu juga kita menerima, kita merasa lebih berguna dan berarti. Dan saya senang mereka bisa melakukannya dengan sepenuh hati mereka.

Di awal pandemi, saya pernah membacakan tulisan "We are not in the same boat". Semakin hari, tulisan itu terasa semakin relevan dalam kondisi kita di Indonesia. Bagaimana pandemi COVID-19 ini bukan hanya menjadi masalah kesehatan saja, tetapi juga masalah perekonomian.

Kita itu hanya senasib mengalami pandemi, tetapi semua menghadapi situasi yang berbeda. Ada yang kehilangan keluarga, kehilangan pekerjaan. Maka yang diperlukan saat ini adalah respect dan empati kita pada orang lain. Perlu kerja sama dari semua pihak dan disiplin yang ketat untuk menerapkan protokol kesehatan agar kita dapat segera keluar dari situasi pandemi.

Pada akhirnya, setiap orang harus berbuat yang terbaik minimal untuk dirinya sendiri. Kita harus saling mengingatkan untuk itu. Melihat situasi sekarang ini, kita tidak akan bisa kembali ke situasi normal seperti dulu. Yang akan terjadi ke depan, benar-benar adalah kenormalan baru atau new normal. Bisa jadi seumur hidup kita akan terus memakai masker ke mana pun, tidak bisa lagi berpelukan, cipika-cipiki.

Pada akhirnya, setiap orang harus berbuat yang terbaik minimal untuk dirinya sendiri. Kita harus saling mengingatkan untuk itu.

Namun, setidaknya, kalau kita bertahan sampai saat ini, kita bisa aman, sejahtera, kita bisa membantu orang-orang yang lebih tidak beruntung. Saat ini ibarat kita sedang perang. Dalam peperangan, setiap orang pasti akan mencari selamat sendiri. Tapi, untuk apa selamat sendirian? Kalau kita bisa berbagi, maka kita bisa selamat bersama-sama. Lebih indah bukan?

Dalam peperangan, setiap orang pasti akan mencari selamat sendiri. Tapi, untuk apa selamat sendirian? Kalau kita bisa berbagi, maka kita bisa selamat bersama-sama. Lebih indah bukan?

 

Related Articles

Card image
Society
Kembali ke Sekolah

Sistem persekolahan di Indonesia telah mengalami krisis dalam 20 tahun terakhir, artinya bahkan sebelum pandemi terjadi. Setidaknya ada dua pengaruh yang dihadirkan pandemi dalam sistem persekolahan. Pertama, memperparah krisis pembelajaran terutama pada kelompok marjinal. Kedua, mengungkap krisis pembelajaran yang telah terjadi sebelumnya. 

By Bukik Setiawan
15 January 2022
Card image
Society
Makna Perjalanan Hidup

Hidup adalah kompetisi, sebuah ungkapan umum yang diyakini beberapa di antara kita. Sebenarnya dulu saya tidak terlalu setuju dengan hal ini. Ketika kita menganggap hidup adalah kompetisi, kita cenderung ingin menjadi pemenang, kita selalu ingin menjadi yang terbaik. Kita bahkan tidak benar-benar tahu apa yang kita tuju dan perlombakan dalam hidup.

By Adam A. Abednego
11 December 2021
Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021