Society Planet & People

Dalam Balutan Kisah

Denica Flesch

@denicaflesch

Pengusaha Sosial

Fotografi Oleh: Ayunda Kusuma

Coba buka lemari pakaian Anda dan perhatikan isinya. Dari sekian baju yang ada, berapa banyak yang benar-benar kita gunakan hingga berulang kali? Adakah yang hanya pernah digunakan sekali hingga dua kali saja?  Sekarang, coba pilih salah satu baju yang sering Anda kenakan. Apakah Anda tahu siapa yang membuatnya? Atau apakah Anda tahu bagaimana kisah di baliknya?

Bila kita menyadari, di masa kini, alternatif model pakaian yang ada menjadi cukup homogen. Saat ada suatu model yang tengah menjadi tren, maka hampir seluruh orang meniru gaya tersebut, hingga pada akhirnya membuat penampilan mereka terlihat sama. Bagaimana dan mengapa sebuah pakaian dibuat, serta siapa yang membuatnya, seringkali kita tidak mengetahuinya. Dan dengan tidak mengetahui kisah di balik sebuah pakaian, kita memiliki kecenderungan menginginkan pakaian yang berharga murah. Dengan harga yang murah pula, menjadikan kita selalu merasa ingin membeli lebih. Sehingga pada akhirnya, tanpa kita sadari, kita memiliki lebih banyak pakaian daripada yang sebenarnya kita butuhkan, sementara bisa jadi pakaian yang kita miliki tersebut tidak memiliki arti bagi kita. Oleh karena tidak memiliki makna, maka kita menjadi tidak bahagia atau puas dengan memilikinya. Semuanya membentuk hubungan sebab akibat. Sementara itu, salah satu tujuan kita melakukan kegiatan konsumsi adalah untuk memberi kita kepuasan, bukan? Bila belum terpenuhi, pantas saja bila kita memiliki keinginan terus menerus untuk membeli. Di sisi lain, kita pun mengetahui bila manusia pada dasarnya tidak pernah puas akan suatu hal dan selalu menginginkan ‘lebih’.

Akan selalu ada tren beserta model baru bermunculan setiap saat. Terlepas darinya, sebenarnya apa yang kita kenakan, tidak pernah jauh dari beberapa model saja yang memang kita merasa pantas mengenakannya. Kita pun sebenarnya tidak membutuhkan model pakaian yang banyak sekali. Alih-alih selalu mengikuti tren yang sedang berjalan, mengapa tidak kita memakai pakaian yang benar-benar mewakili diri kita?

For me now, it is not about buying a product, but buying a story. Berbicara mengenai membeli pakaian, kini saya lebih mementingkan kisah yang terdapat dalam suatu helai baju, alih-alih hanya membeli sekedar produk saja. Bila kita menginginkan cerita yang dibawa oleh suatu pakaian masuk ke dalam hidup dan menjalin koneksi dengan diri kita, maka tidak apa-apa membelinya. Namun bila tidak, maka tidak usah paksakan untuk memilikinya. Apakah kita ingin sehelai pakaian yang dibuat dengan membayar pekerjanya dengan upah tidak layak untuk menghias tubuh kita? Apakah kita akan mengenakannya dengan bangga?

Dahulu saya pun dapat dengan mudahnya membeli sesuatu yang asal menarik perhatian saya. Namun, pada akhirnya saya memutuskan berubah, karena menyadari bahwa pola konsumsi ‘asal beli’, hanya akan memperburuk keadaan dunia yang kita tempati saat ini. Sebut saja masalah lingkungan, kemakmuran penduduk, hingga kelangsungan suatu budaya. Sedikit saja kegiatan konsumsi yang kita lakukan, maka secara tidak langsung kita telah melakukan ‘voting’ atau mendukung suatu standar dan sistem yang ada untuk produk tersebut sampai ke kita. Permasalahannya adalah, sebagai konsumen, kita tidak semudah itu tahu bagaimana proses dan kisah yang ada di balik banyaknya pakaian yang beredar di pasaran. Sehingga kurang lebih, inilah yang dapat membuat industri kerajinan, yang termasuk pembuatan pakaian di dalamnya, menjadi rusak.

Alasan mengapa industri kerajinan ‘rusak’ adalah karena produk ini dibuat di pabrik. Memang, tidak berarti selalu atau semua. Namun, adakah dari kita yang mengetahui bagaimana para pengrajin diupah? Beberapa pabrik malah melakukan outsource melalui makelar yang kadangkala membuat harga suatu produk menjadi sangat murah, di bawah harga semestinya. Saya mendapati bahwa antara produsen dan konsumen, seringkali terdapat sistem yang tidak transparan dan berlapis untuk suatu produk, hingga hasil penjualan kain seharga 1 juta, bisa saja hanya memberi nafkah pada pengrajin sebesar 25 ribu rupiah. Sistem yang ada telah rusak, dan ada yang salah di dalamnya. Kita harus membangun ‘jembatan’ antara para pengrajin di daerah dengan konsumen di kota, agar siapa pun yang pada akhirnya membeli hasil para pengrajin, tahu benar siapa yang mereka dukung dan sebagai jaminan agar praktik eksploitasi para pengrajin tidak terjadi.

Menyoroti industri kerajinan, upah pengrajin hanyalah salah satu aspek dari sekian banyak yang sebenarnya masih perlu dibenahi, yang bagi saya layak untuk disebut ‘dibuat dengan semestinya’, atau dalam istilah saya adalah #MadeRight. Istilah #MadeRight sendiri sebenarnya adalah standar yang diterapkan oleh saya melalui brand pakaian yang saya bangun, SukkhaCitta, akan 3 hal yang menurut pengamatan merupakan yang paling bermasalah di industri kerajinan. Terlepas dari brand yang saya bangun, #MadeRight sebenarnya adalah sebuah gerakan yang coba saya suarakan, sebagai ajakan baik untuk produsen maupun konsumen, akan suatu praktik produksi industri kerajinan yang etis. Brand SukkhaCitta hanyalah suatu kendaraan yang membuat alur komunikasi pesan menjadi lebih mudah.

Bila dijabarkan, pilar pertama #MadeRight adalah menyediakan upah yang layak. Bagaimana kita tahu seorang pengrajin telah mendapat upah yang layak? Sebenarnya ada sejumlah perhitungan terlebih dahulu yang harus dilakukan, yang tentunya sangat tergantung pada banyak aspek. Beruntung saya pernah bekerja sebagai ekonom. Di suatu desa pengerajin yang mengerjakan kain untuk SukkhaCitta, kami terlebih dahulu melakukan perhitungan akan living wage untuk 1 keluarga dengan 2 anak. Sebagai contoh di desa A membutuhkan 3 juta untuk mencukupi kebutuhan harian, kesehatan, dan pendidikan. Saya tidak ingin hanya kecukupan harian saja yang mampu dipenuhi. Setiap orang berhak akan kesehatan dan pendidikan juga. Oleh karenanya, dalam membeli karya pengrajin atau mengupah mereka, pemenuhan kebutuhan akan living wage yang diperlukan menjadi dasar perhitungan yang harus dipenuhi.

Pilar kedua adalah, produk yang dihasilkan harus memiliki dampak yang baik bagi lingkungan berkelanjutan. Dengan berkembangnya isu lingkungan belakangan ini, sebenarnya makin banyak dorongan untuk mendaur ulang pakaian, alih-alih membuat yang baru. Namun di satu sisi, bila para pengrajin tidak membuat kain dan pakaian, maka bagaimana mereka akan memperoleh penghasilan? Oleh karenanya, opsi yang kami ambil adalah memastikan bila kegiatan produksi yang dilakukan, memiliki dampak buruk yang paling minim bagi lingkungan, melalui penggunaan material dari sumber yang benar-benar terpilih, dan proses produksi yang memperhatikan hasil limbah buangan.

Pilar terakhir, adalah keberlanjutan budaya yang dilakukan, diajarkan, dan dikembangkan oleh usaha yang dimiliki melalui pengrajinnya. Sebagai contoh, apa yang dimaksud batik adalah kain yang berasal dari proses menitik dan melukis menggunakan canting atau cap beserta lilin malam. Namun realitanya, saat ini banyak motif batik yang dihasilkan melalui proses printing, yang sebenarnya sudah tidak sesuai lagi dengan esensi dari hasil tradisi membatik yang sebenarnya. Karena alasan ini, di SukkhaCitta kami hanya menggunakan kain batik tulis atau kain tenun untuk dibuat menjadi pakaian.

Sebagai konsumen, kadangkala kita tidak menyadari bila kita sangat memiliki kekuatan dalam menentukan produk apa saja yang beredar di pasar. Penawaran akan selalu mengikuti permintaan. Dengan memilih untuk tidak membeli suatu produk, secara langsung kita telah mendorong produsen untuk tidak membuat suatu produk tertentu. Oleh karenanya, apa salahnya untuk mencoba memikirkan secara bijak sebelumnya alasan kita ingin membeli sesuatu? Try to practice a thoughtful and meaningful approach of buying.  Tidak ada langkah yang terlalu kecil untuk memulai sesuatu. Kita bisa mengubah lanskap suatu industri besar, dan memperbaiki apa yang rusak saat ini untuk kebaikan bersama di masa depan.

Related Articles

Card image
Society
Menyeimbangkan Penggunaan Dunia Digital

Kerap kali kita mengira adiksi hanya datang dari alkohol atau obat-obatan saja. Sayangnya, belakangan banyak penelitian yang menemukan bahwa internet dan media sosial juga bisa menjadi sumber adiksi.

By Ilham Anggi
30 May 2020
Card image
Society
Peduli Kesehatan Mental

Melihat banyaknya orang yang bisa sampai menuliskan masalah pribadinya di media sosial juga orang yang dikenal memiliki masalah itu membuat saya menyadari betapa banyak orang butuh sebuah ruang yang tepat untuk dapat menyampaikan emosi mereka. Apalagi kalau mereka bisa bertemu dengan para profesional dan praktisi psikologi yang dapat membantu masalah kejiwaan mereka. 

By Audrey Maximillian
30 May 2020
Card image
Society
Hutan dan Pelajaran Kehidupan

Pelajaran kehidupan seringkali aku dapat saat tengah melangkah ke daerah dan hutan yang alamnya masih terjaga. Dengan warga lokal yang masih sangat menghargai satu sama lain tanpa melihat latar belakang kita, kesederhanaan dan ketulusan mereka selalu membuatku terkesima serta ingin datang kembali ke suatu tempat yang membuatku merasa beruntung pernah mendatanginya.

By Diyah Deviyanti
30 May 2020