Society Lifehacks

Berteman Tanpa Batas

Masa kecil itu masa menyenangkan.

Saya ingat betul asiknya bermain bersama teman-teman di sekitar rumah. Kami bermain karena senang bisa bersama-sama. Tidak penting ini anaknya siapa, orang apa, agamanya apa. Tidak penting.  Jadi saya sangat heran dan kesal ketika  kami baru saja pindah rumah, anak saya yang masih kecil pulang  dengan pertanyaan, “Agama saya apa?”. Buat saya inin mengherankan, bagaimana anak-anak sekecil itu bisa menayakan agama sahabat barunya. 

Saya ingat betul asiknya bermain bersama teman-teman di sekitar rumah. Kami bermain karena senang bisa bersama-sama. Tidak penting ini anaknya siapa, orang apa, agamanya apa. Tidak penting.

Keluarga kami memang cukup santai dalam membicarakan agama. Barangkali karena saya dan suami berbeda keyakinan, saya Kristen dan suami Islam. Anak bisa melihat bahwa di rumah ada perbedaan. Di Minggu pagi saya pergi ke gereja (kadang ayahnya mengantar sesekali). Dan ia juga tahu bahwa pada bulan tertentu ayahnya berpuasa, dan saya (sesekali juga) menemaninya saat sahur. Saya selalu bilang padanya, “Ngobrol sama Tuhan caranya bisa berbeda. Mak begini, Bapak begitu. Sekarang ini agama kamu Kristen karena kami menikah di gereja dan ada janji dengan pendeta. Tapi kalau di tengah jalan kamu menemukan sesuatu yang baru, kamu cocok dengan itu silakan. Agama itu sifatnya pribadi, dan kalau kamu beragama beda dengan yang lain bukan berarti tidak bisa berteman dengan yang berbeda.”

Pertanyaan anak saya ternyata mengganggu pikiran saya saat itu. Rasanya pertanyaan tentang agama itu menyiratkan bahwa perbedaan agama menentukan mereka bisa berteman atau tidak. Sewaktu saya kecil, tidak pernah ada pertanyaan begitu. Saya setiap hari minggu pergi ke gereja. Saya tahu teman-teman saya berpuasa, shalat lima waktu. Tapi kami tidak pernah mempertanyakan apalagi  bermasalah dengan itu.

Seiring berjalannya waktu, saya melihat banyak perubahan perilaku masyarakat. Terutama dalam aspek agama. Saya mengamati kehadiran segelintir orang tua yang tiba-tiba berusaha moralis, namun sebenarnya tidak sungguh-sungguh memperhatikan anak dalam kesehariannya. Saya khawatir ketika anak-anak belum memahami konsep agama lalu dicekoki dengan fanatisme agama. 

Seiring berjalannya waktu, saya melihat banyak perubahan perilaku masyarakat. Terutama dalam aspek agama.

Saya memang bukan sosiolog atau antropolog yang bisa menjelaskan alasan mengapa bisa hadir perubahan perilaku masyarakat kita. Tapi asumsi saya adalah adanya pergeseran pemahaman tentang iman dan agama yang menimbulkan fanatisme. Saya merasa banyak orang secara tidak sadar meyakini bahwa menjadi homogen adalah sesuatu yang eksklusif dan memberikan rasa aman. Berkelompok menjadi sangat menyenangkan. Ini sedikit ironis, menurut saya. Ketika dulu kita pernah berada dalam masa pemerintahan yang menekan di mana tidak banyak aliran agama yang tidak diperbolehkan, kebersamaan justru sangat terasa. Tapi kemudian di kala aturan melunak, kita diberikan kesempatan untuk memilih, diberi keleluasaan dan kebebasan, kita justru membuat mengkotak-kotakan diri.

Rasa terganggu pada pertanyaan tentang agama yang datang dari anak saya akibat perilaku sahabatnya begitu kuat. Menggelisahkan. Dan begitu hebatnya hingga akhirnya saya merasa harus berbuat sesuatu, menyampaikan hal-hal yang saya pikir perlu diutarakan kepada para ibu dan bapak yang sebaya dengan saya saat itu.

Saya putar otak untuk menyampaikannya. Karena saya bukan psikolog anak, bukan sosiolog juga, maka akan sangat tidak pas bila saya menulis dari sudut pandang saya saat itu. Menulis sebagai catatan masa lalu berdasarkan hal yang saya ingat dari perilaku ibu saya juga tidak terlalu pas. Lalu saya temukan cara: membuat karakter anak yang bercerita tentang kesehariannya, bermain tanpa punya maksud apapun kecuali menikmati pertemanan. Saya mengatur latar waktunya di zaman dulu agar bisa sedikit mengingatkan para orang tua yang seumur saya saat itu akan kebebasan berteman di masa kecil. Dengan harapan semoga mereka bisa sedikit menyadari adanya perubahan perilaku di masyarakat yang membuat kita mengurangi rasa toleransi pada perbedaan. Menurut saya, jika orang tua sudah mendidik anak-anaknya sejak kecil untuk berkelompok dan tidak mengajarkan keberagaman, di masa depan akan semakin banyak terjadi perselisihan di antara kita. Padahal kita memang diciptakan berbeda, bukan? Apalagi sebagai orang Indonesia yang begitu beragam.

Berbeda itu indah. Itu yang harus terus kita sampaikan pada anak-anak. Karena pada perbedaan itulah kita menjadi Indonesia yang luarbiasa ini. Bukan begitu?

 

Related Articles

Card image
Society
Jaga Jarak Demi Sehat

Harus kita sadari bahwa virus Covid-19 nyatanya adalah penyakit yang menyebar di udara. Semua orang punya risiko untuk terserang virus sekalipun sudah menjauhi keramaian, tidak berkumpul dengan teman-teman di area publik, atau hanya sekadar pergi ke supermarket untuk belanja. Oleh sebab itu, sebenarnya menjaga jarak adalah hal yang paling utama selain dilengkapi dengan mencuci tangan dan memakai masker. 

By dr. Eric Daniel Tenda, DIC, PhD, SpPD, FINASIM
16 January 2021
Card image
Society
Pelajaran Dari Ibu

Melihat kedua orang tua, saya selalu merasa mereka adalah pasangan yang ideal, yang saling mendukung dengan pandangan dan ajarannya masing-masing. Dari ayah, saya belajar tentang kerja keras, tanggung jawab, dan bermimpi tinggi. Dari ibu, saya belajar hal-hal lainnya di luar itu semua.

By Amanda Subagio
16 January 2021
Card image
Society
Mempelajari Warisan

Bagi bangsa ini, masa lalu adalah kekayaan. Jadi masa lalu harus digali. Baiknya kita jangan terpesona dengan sesuatu yang baru tanpa tahu kekayaan yang kita punya di masa lalu. Mengenal sejarah dan budaya adalah langkah untuk mengenal diri sendiri.

By Nina Akbar Tandjung
09 January 2021