Society Health & Wellness

Bersama Hadapi Masalah Mental

Dr. Sandersan Onie

@drsandyonie

Peneliti Psikologi dan Penulis

Menurut saya pemahaman masyarakat Indonesia mengenai kesehatan mental tengah memasuki fase yang berbeda dari 5 hingga 10 tahun lalu. Sekarang, kesadaran akan kesehatan mental bisa dikatakan ada di skala menengah dengan penggunaan istilah yang berbeda seperti, galau. Meskipun demikian, banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Hal ini mengakibatkan setiap kelompok akan merasa bahwa mereka selalu harus mulai dari awal. Padahal, riset, perundang-undangan, dan usahanya sudah dimulai sejak lama.

Terdapat persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri. Hal ini mengakibatkan setiap kelompok akan merasa bahwa mereka selalu harus mulai dari awal.

Narasi lain yang juga beredar adalah pemahaman akan kesehatan mental hanya terpusat di kota-kota besar saja. Sebenarnya pemerintah sudah berupaya untuk menyamakan pemahaman kesehatan mental di seluruh Indonesia sejak bertahun-tahun lalu. Sekarang saya sedang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan Indonesia dan WHO dalam perumusan strategi pencegahan bunuh diri pertama dari Indonesia. Salah satu masalah yang dihadapi dalam melakukan pencegahan bunuh diri dan penanganan masalah kesehatan mental di Indonesia adalah cara penanggulangannya diambil dari luar negeri tanpa penyesuaian budaya di Indonesia. 

Pada dasarnya penelitian dalam bidang psikologi juga masih terus mengalami pengembangan. 10 tahun lagi mungkin saja kita tidak lagi membahas soal depresi melainkan istilah baru lain. Rekan saya di WHO pernah mencoba melakukan penyuluhan kesehatan mental ke daerah pelosok tapi karena belum disesuaikan dengan konteks budaya Indonesia, karena kurangnya ahli dan penelitian terkait ini, maka mereka mengajarkan istilah seperti disfungsi kognitif kepada masyarakat di pedesaan. Perlu diingat juga bahwa belum ada bukti yang cukup bahwa depresi di Amerika, sebagai negara pencetus kata ini, dan Indonesia looks exactly the same. Jadi bagaimana mungkin kita membuat panduan pencegahan atau penanganan masalah mental tertentu kalau masalahnya sendiri belum cukup diteliti di Indonesia. 

Menurut saya, sebenarnya kita butuh pertolongan jauh sebelum masuk dalam tahap depresi. Sebagian penelitian saya fokus membahas mengenai pencegahan bunuh diri. Pada level yang lebih tinggi, saya harus menonton video CCTV dari orang yang meninggal karena bunuh diri, and it’s very stressful. Saya paham, saya mungkin tidak depresi tapi saya tetap butuh dukungan. Bagi saya, hanya ada dua jenis orang di dunia ini. Orang yang butuh bantuan atau orang yang belum sadar bahwa mereka ternyata butuh bantuan. Dalam artian kita tetap butuh support system dalam fase apa pun yang sedang kita jalani. Kita tetap butuh teman yang benar-benar bisa saling mendengar dan berbagi perasaan. Kesepian justru lebih sering dirasakan oleh para senior yang berusia lebih dari 45-50 tahun. Ini yang menjadi alasan kelompok ini memiliki persentase tertinggi angka bunuh diri. 

Bagi saya, hanya ada dua jenis orang di dunia ini. Orang yang butuh bantuan atau orang yang belum sadar bahwa mereka ternyata butuh bantuan. Dalam artian kita tetap butuh support system dalam fase apa pun yang sedang kita jalani. Kita tetap butuh teman yang benar-benar bisa saling mendengar dan berbagi perasaan. Kesepian justru lebih sering dirasakan oleh para senior yang berusia lebih dari 45-50 tahun.

Sampai saat ini belum ada alasan konkret mengapa orang bisa memiliki tendensi untuk bunuh diri. Banyak diantaranya bahkan tidak memiliki diagnosa medis untuk depresi atau kecemasan. Ada tiga alasan bunuh diri yang paling umum ditemui, tapi ini adalah versi penjelasan yang sangat singkat. Pertama adalah hopelessness, merasa tidak ada harapan dan jalan keluar. Ini terkadang dialami oleh orang yang menderita penyakit kronis atau orang-orang yang mengalami kejatuhan finansial yang sangat drastis mereka merasa tidak ada jalan keluar. Ini menjadi sangat subjektif, ada orang yang menghadapi masalah yang luar biasa berat tapi mereka tetap merasa punya harapan ada juga orang yang terlihat masalahnya tidak seberat yang lain tapi mereka merasa tidak ada jalan keluar. Kedua loneliness, mereka bisa saja dikelilingi banyak orang tapi tetap merasa sendirian. Mereka merasa tidak ada orang yang dapat memahami perasaan mereka. Ketiga adalah kemudahan akses mereka kepada metode bunuh diri. Karena kalau mereka punya pemikiran tapi tidak tahu metodenya mereka tidak akan bunuh diri. Maka cara paling strategis dalam pencegahan yang dapat dilakukan adalah dengan menghilangkan metodenya.

Ketika kita berusaha memberikan pendampingan pada orang terdekat kita yang sedang mengalami masalah mental. Terkadang mereka bisa lebih manja dan membuat kita merasakan compassion fatigue atau kelelahan saat memberikan pendampingan. Satu hal yang perlu kita ingat bahwa keselamatan dan hasil akhir dari kondisi mental seseorang bukan tanggung jawab kita, tanggung jawab kita adalah berusaha melakukan pendampingan terbaik. Kebanyakan orang mereka sangat berempati dan punya pemikiran bahwa kita bertanggung jawab akan keselamatan orang lain. Bagian kita adalah do our best. Compassion fatigue is a real thing, kita tidak bisa membantu orang lain kalau kita juga sedang melalui masa gelap. Ingat ini buka egois, self-care is healthy. 

Satu hal yang perlu kita ingat bahwa keselamatan dan hasil akhir dari kondisi mental seseorang bukan tanggung jawab kita, tanggung jawab kita adalah berusaha melakukan pendampingan terbaik.

Pemahaman akan cara bagaimana menjadi pendengar dan pendamping yang baik ini berusaha saya sampaikan melalui buku “Indonesian Mental Health First Aid Booklet”. Bayangkan kalau semua orang di sekeliling kita paham bagaimana cara menjadi pendengar yang baik? Tentu akan sangat menyenangkan. Kita adalah bangsa yang sangat komunal, kemudian saya berpikir bagaimana kalau kita memanfaatkan komunitas ini untuk kesehatan mental daripada merusaknya. Ada tiga perubahan yang diharapkan setelah membaca buku ini. Pertama, kita bisa melengkapi diri dengan pengetahuan dan kemampuan terbaik untuk membantu orang terdekat kita. Kedua, agar kita lebih paham akan kesehatan mental. Ketiga yang membedakan buku ini dengan booklet first aid lain karena buku ini dibuka dengan pengalaman pribadi. Bukan hanya karena saya ingin sharing, tapi karena hasil riset mengatakan bahwa cara paling efektif untuk menurunkan stigma adalah dengan mendengar personal stories. 

Bayangkan kalau semua orang di sekeliling kita paham bagaimana cara menjadi pendengar yang baik? Tentu akan sangat menyenangkan. Kita adalah bangsa yang sangat komunal, kemudian saya berpikir bagaimana kalau kita memanfaatkan komunitas ini untuk kesehatan mental daripada merusaknya.

Untuk teman-teman yang mungkin sedang tidak merasa baik baik saja ingat bahwa kita butuh self-care. Tubuh kita hanya satu, kita harus merawat tubuh kita dan berbaik hati kepada diri kita sendiri. Pastikan kita punya waktu untuk istirahat. Bukan hanya liburan atau rebahan, tetapi melepaskan diri dari pekerjaan. Karena bisa saja kita lagi liburan di Bali tapi pikiran kita masih stress karena kerjaan. Jangan menyerah mencari professional,  kadang walaupun sudah mendapat bantuan profesional kita belum merasa cocok dengan konselingnya. Jangan menyerah karena itu tanggung jawab saya untuk mencari professional

Untuk teman-teman yang mungkin sedang tidak merasa baik baik saja ingat bahwa kita butuh self-care. Pastikan kita punya waktu untuk istirahat. Bukan hanya liburan atau rebahan, tetapi melepaskan diri dari pekerjaan. Karena bisa saja kita lagi liburan di Bali tapi pikiran kita masih stress karena kerjaan.

Temukan komunitas yang tepat, mereka tidak akan mencari kamu, kamu yang harus berusaha menemukan mereka. Kebanyakan orang mungkin berusaha mengubah orang-orang sekitar agar bisa lebih mengerti, sayangnya justru mungkin kamu akan kecewa jika berharap mereka akan berubah seketika. Lebih baik temukan komunitas yang memang bersedia mendengar dan memahami apa yang sedang kamu lalui. Saya ingin bilang bahwa masalah terbesar yang kita hadapi di Indonesia sekarang adalah karena semua orang berusaha menjadi pahlawan kesehatan mental. Setiap orang berusaha melakukan sesuatu yang baru dan bergerak secara terpisah. Mental health bukan hal yang sederhana, yang perlu kita lakukan adalah bergerak bersama-sama dalam mengatasi masalah mental di Indonesia. Hal terbaik yang bisa kita lakukan dalam aspek kesehatan mental adalah dengan membantu orang-orang terdekat kita. Saya sangat percaya bahwa kalau saya bisa buat riset besar tapi saya tidak mampu menolong orang di dekat saya maka itu sia-sia.

Masalah terbesar yang kita hadapi di Indonesia sekarang adalah karena semua orang berusaha menjadi pahlawan kesehatan mental. Setiap orang berusaha melakukan sesuatu yang baru dan bergerak secara terpisah. Mental health bukan hal yang sederhana, yang perlu kita lakukan adalah bergerak bersama-sama dalam mengatasi masalah mental di Indonesia.

Related Articles

Card image
Society
Kembali ke Sekolah

Sistem persekolahan di Indonesia telah mengalami krisis dalam 20 tahun terakhir, artinya bahkan sebelum pandemi terjadi. Setidaknya ada dua pengaruh yang dihadirkan pandemi dalam sistem persekolahan. Pertama, memperparah krisis pembelajaran terutama pada kelompok marjinal. Kedua, mengungkap krisis pembelajaran yang telah terjadi sebelumnya. 

By Bukik Setiawan
15 January 2022
Card image
Society
Makna Perjalanan Hidup

Hidup adalah kompetisi, sebuah ungkapan umum yang diyakini beberapa di antara kita. Sebenarnya dulu saya tidak terlalu setuju dengan hal ini. Ketika kita menganggap hidup adalah kompetisi, kita cenderung ingin menjadi pemenang, kita selalu ingin menjadi yang terbaik. Kita bahkan tidak benar-benar tahu apa yang kita tuju dan perlombakan dalam hidup.

By Adam A. Abednego
11 December 2021
Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021