Society Art & Culture

Bernostalgia Lewat Lidah

Suara bel berbunyi tepat jam 13:00. Lapangan sekolah yang sebelumnya kosong dan hening seketika dipenuhi dengan riuh anak-anak yang berlarian menuju pintu gerbang keluar. Bagi mereka yang sudah dijemput, saatnya pulang. Namun untuk mereka yang masih berada di sekolah, saatnya melakukan eksplorasi lidah. Salah satunya saya. Sekolah dasar saya berada di wilayah Menteng di Jalan Besuki. Sepulang sekolah, trotoar sudah dipenuhi oleh penjaja makanan dan mainan. Masing-masing penjaja seketika dikerubungi oleh anak sekolah yang sangat antusias, tidak ada yang sepi pembeli. Namun ada satu jajanan yang selalu saya incar dahulu sebelum mencoba yang lain: yaitu telur dadar mini dengan daun bawang. Aroma telur yang ditumis dalam cetakan kue cubit itu seakan bisa mengenali saya. Saya selalu senang melihat bagaimana bapak penjual memecah telur yang masih utuh, lalu dimasukan ke dalam mangkuk, memberi cincangan daun bawang, garam, lada, mengocoknya cepat, lalu dituangkanlah ke masing-masing cetakan yang sudah diminyaki dan panas. Suara desisan telur yang meletup itulah pertanda bahwa lidah ini sebentar lagi akan berekreasi.

Namun apabila saya sedang ingin yang manis-manis, saya akan mendatangi bapak yang sangat ahli dalam membuat permen gula karamel yang dapat ia bentuk segala rupa. Biasanya, adonan gula yang dimasak itu akan dibentuk entah itu kuda, terompet ataupun bunga. Kami pun mendapatkan tiga pilihan pugasan: ada meses cokelat, meses warna-warni, dan serbuk minuman jeruk instan – dan yang ketiga adalah favorit saya dengan gabungan rasa manis dan asam sitrus menggelitik lidah.

Masa kecil memang adalah masa yang indah dan penuh dengan pengalaman unik untuk seluruh panca indera. Banyak yang teringat kenangan lama dengan mendengarkan musik, ada juga yang menonton film, namun ada juga yang mencoba kembali ke masa lalu dengan menikmati makanan. Sama dengan anak-anak lainnya yang besar di era 90-an di Jakarta, masa kecil saya dikelilingi dengan makanan – lebih tepatnya jajanan – yang masing-masing mewakili memori tertentu. Cerita di atas hanyalah sebagian kecil dari banyaknya kisah yang tersimpan dalam jajanan masa kecil.

Izinkan saya membawa Anda kembali ke masa kecil saya melalui makanan. Baiklah, anak kecil mana yang tidak menyukai es krim? Es krim – terutama soft serve dari McDonald’s – adalah es krim favorit saya saat kecil. Saat itu harganya masih Rp 500,- per cone untuk sebuah kenikmatan. Es krim soft serve vanila klasik ini memiliki ikatan khusus dengan memori masa kecil saya bersama almarhum kakek. Ketika saya kecil, keluarga kami selalu menghabiskan waktu akhir pekan menginap di rumah beliau yang memiliki kolam renang indoor. Almarhum selalu senang untuk mengawasi saya berenang sembari duduk di sofa di sisi pinggir. Namun, yang jadi kebiasaan kami adalah beliau senang memberikan saya trivia quiz, terutama dengan tema ibukota negara. Apabila saya berhasil menjawab lima pertanyaan beliau, selesai berenang kami akan pergi ke Sarinah Thamrin untuk membeli es krim sebagai hadiah untuk saya. Alangkah indahnya masa itu. Sampai detik ini pun saya tidak pernah akan melupakan momen itu. Dalam satu cone es krim soft serve sebuah fast food chain terdapat cerita yang tak terlupakan.

Selain es krim, ada pula satu jajanan yang mengingatkan saya dengan masa-masa saat saya masih tinggal di daerah Ciputat. Masa itu sangat bahagia, sederhana, namun betul-betul bahagia. Itu adalah masa di mana saya selalu bermain di sore hari dengan anak kompleks, mulai dari bersepeda hingga petak umpet. Hal yang kami lakukan setiap sore setelah selesai bermain dengan penuh keringat adalah pergi ke warung yang dimiliki oleh salah satu dari penghuni kompleks, dan membeli jeli konyaku dingin yang terasa sangat segar di leher. Saya masih ingat siapa saja teman-teman saya: ada Megumi yang masih tinggal di sana yang setiap ulangtahunnya selalu meriah, Fadil, Anissa yang rumahnya persis di samping rumah saya, dan masih banyak lagi. Memang kami sekarang ini sudah tidak lagi berhubungan. Mungkin ada yang sudah tinggal di luar negeri atau pun berkeluarga. Namun hingga hari ini, apabila saya mengunjungi supermarket atau pergi ke mini market dan melewati lorong camilan dan melihat merek jeli yang sama, saya selalu mengalokasikan sekian detik untuk membiarkan ingatan itu timbul hingga memberikan senyum di pipi.

Melihat bagaimana masa kecil kita dipenuhi dengan cerita yang berkaitan dengan makanan sederhana ini sangat menghangatkan hati. Ketika itu kita tidak mengenal kelas. Kita tidak mengenal ras dan status sosial. Kita makan makanan yang sama dengan teman kita, kita jajan jajanan yang sama dengan siapa pun. Kita tertawa bersama, sakit gigi bersama, belepotan bersama. Kita tidak menghakimi akan apa yang teman kita makan, kita juga tidak dihakimi. Kita saling berbagi camilan, berbagi rasa, berbagi momen berharga yang akan terus dikenang hingga dewasa. Yang ada hanya keseruan dan kegembiraan. Bahkan hal yang menjurus kepada isu non-higienis pun seakan diampuni.

Camilan masa kecil yang juga saya tidak bisa lupakan adalah cokelat bermerek Superman. Di keluarga ibu, kami – para cucu – total berjumlah 18 orang. Ketika saya masih kecil, kami baru berjumlah delapan orang. Setiap kali kami bermain ke rumah oma dan opa di kawasan Cirendeu, kami ingat sebelum pulang kami harus berbaris di depan pintu kamar oma dan opa. Kamar mereka memiliki wangi yang khas, wangi yang akan abadi dalam ingatan keluarga kami. Kami berbaris bukan tanpa alasan. Opa dengan menggunakan kaos putih dan celana pendek cokelat sudah akan berdiri di depan lemari, memanggil kami satu persatu. Tentu saja kami tahu apa yang akan dilakukannya, yaitu membagikan cokelat wafer batangan tersebut. Namun walau pun itu adalah tradisi yang sudah dilakukan berulang-ulang, tidak ada rasa bosan bagi kami. Excitement selalu muncul setiap kali kami diminta berbaris. Entah mengapa masa kecil sangat penuh dengan semangat dan kegembiraan. Kami pun akan keluar dari kamar opa dan oma dengan sumringah, dengan wafer sudah di tangan. Kami para cucu pun masih membicarakan momen itu hingga sekarang, walau oma dan opa sudah sangat sepuh, dan kami sudah dewasa, cokelat Superman itu akan menjadi pengingat dan pengikat kami.

Terkadang, saya merasa ada perlunya untuk kita manusia dewasa untuk melirik sedikit ke belakang, mengingat bagaimana penuh spontanitas dan rasa positif kita di kala kecil. Dunia kala itu penuh dengan optimisme dan energi. Dan kadang kala, kita perlu menyalurkan energi saat kita kecil di saat kita sedang menghadapi tantangan di masa sekarang. Masa lalu menyimpan misteri dan terkadang jawaban untuk masa depan. Seperti kata pepatah lama, the key for future lies in the past. Apabila kita bingung bagaimana bisa kembali pada memori tersebut, mungkin saja menikmati camilan masa kecil dapat membantu. Lagi pula, terkadang kita perlu bersyukur akan masa lalu yang kita alami, masa lalu yang menjadikan kita seperti sekarang.

Ada perlunya untuk kita manusia dewasa untuk melirik sedikit ke belakang, mengingat bagaimana penuh spontanitas dan rasa positif kita di kala kecil.

Related Articles

Card image
Society
Ada Persatuan Dalam Kerelawanan

Kita – orang Indonesia – hidup dalam keberagaman. Dari Sabang sampai Merauke setiap orang memiliki latar belakang yang berbeda-beda. Suku, ras, agama, bahkan strata sosial yang amat berbeda. Tapi sadarkah selama ini kita sedang hidup dalam gelembung-gelembung sosial yang memisahkan karena adanya perbedaan tersebut?

By Widharmika Agung
07 September 2019
Card image
Society
Terbebas Dari Diskriminasi Adalah Tugas Kita Semua

Indonesia terkenal akan sebuah negara yang memiliki begitu banyak ras, suku, budaya, bahasa, bahkan agama. Namun fakta ini sepertinya tidak menjauhkan negara yang sudah 74 tahun berdiri dari isu diskriminasi. Lantas pernahkah kita bertanya-tanya sejak kapan sebenarnya isu ini berada di tengah kita masyarakat Indonesia yang penuh dengan perbedaan? Lalu seperti apa bentuk-bentuk diskriminasi yang sedang kita hadapi saat ini? 

By Andreas Harsono
31 August 2019
Card image
Society
Udara Adalah Nyawa

Manusia menjadi makhluk hidup yang berbeda dengan makhluk lain karena memiliki akal budi. Akal berarti kita diberikan kemampuan untuk berpikir dan mempelajari sesuatu sedangkan budi adalah akhlak untuk melakukan segala yang dapat bermanfaat tidak hanya untuk diri sendiri tapi orang lain. Dengan mempelajari kesehatan lingkungan dan epidemiologi, saya merasa beruntung bisa membantu masyarakat dalam menjawab berbagai pertanyaan berkenaan dengan isu kesehatan lingkungan.

By Budi Haryanto
24 August 2019