Society Science & Tech

Bernaung Dalam Hunian Ramah

Ketika melihat sebuah bangungan berdiri tegak di hadapan, kita kadang tidak menyadari betapa ia tidak hanya sekadar benda yang dapat merumahkan sejumlah manusia di dalamnya. Tetapi juga sebuah tempat di mana sejuta cerita digaungkan setiap harinya. Tempat di mana berbagai pemikiran pertama kali dicetuskan. Tempat di mana segala macam emosi menaungi tiap-tiap pribadi. Ya, setiap bangunan mempunyai kisah yang berbeda-beda dan bahkan bisa dibilang bahwa setiap bangunan memiliki jiwa. Sebab  arsitektur tidak hanya menjadi naungan praktis bagi kebutuhan keseharian manusia, ia juga bisa menjadi rumah bagi rasa, citra, aspirasi dan berbagai nilai-nilai yang diyakini oleh penghuninya. Sehingga elemen-elemen penting dalam sebuah ruang tidak hanya terdapat pada material atau desainnya saja. Melainkan bagaimana agar dapat menciptakan jiwa sehingga manfaatnya lebih besar tidak hanya untuk mereka yang ada di dalamnya tapi juga untuk orang-orang di luarnya. Namun kini jiwa-jiwa dalam ruang itu terasa dikotak-kotakan. Apalagi di kota urban yang sudah semakin sesak. Semakin banyak bangunan tertutup yang membatasi dan memberi jarak pada pihak luar. Bukannya justru mengadakan akses publik di mana sebagian dari bangunan direlakan terbuka sehingga tidak memberikan jarak pada dunia luar. 

Disebut-sebut sebagai inclusive urban design, konsep ini dapat diartikan sebagai perancangan kota atau perancangan kawasan padat, yang ramah, terbuka, dan berpihak pada kebutuhan khalayak. Contohnya beragam, dari sebuah kavling di tengah kota yang menghilangkan keberadaan pagar pembatas, area perbelanjaan yang terhubung melalui kanal-kanal underpass, atau perancangan tapak rumah tinggal yang menyisakan banyak area hijau untuk kesegaran udara di sekitarnya. Dengan tidak berjarak antara arsitektur dan publik, kita sebenarnya bisa memperluas ruang publik, menghemat lahan serta menikmati arsitektur tidak hanya secara visual (berjarak) tetapi juga menikmati keluasannya, suasananya, kegiatan di dalamnya dan terlebih lagi segi estetika yang telah dipikirkan dalam tingkatan tertentu. Lihat saya Tokyo Forum di Jepang atau Tate Museum di London. Kedua bangunan tersebut dapat dikatakan cukup mewakili kriteria konsep inclusive urban design.

Mengetahui manfaat dan tujuannya, tentu saja di perkotaan konsep ini menjadi penting diterapkan. Di tengah kepadatan lapisan perkotaan, hidup dengan cara berbagi, bertukar kontribusi, saling ramah satu sama lainnya akan membuat kualitas kehidupan lebih baik dari berbagai sisi. Di Jakarta misalnya, kita butuh pusat perhentian moda-moda transportasi yang saling terintegrasi, area pejalan kaki yang lebar dan teduh, area parkir kendaraan pribadi yang terpusat, sempadan bangunan publik yang terbuka, ramah dan hijau, serta bangunan-bangunan publik yang dapat ‘ditembus’ dengan mudah oleh pejalan kaki. Sayangnya sebagian besar bangunan baik di Jakarta maupun di kota-kota besar lainnya di Indonesia belum terbilang cukup memenuhi kriteria konsep ini. Sayangnya, kesadaran akan penataan lahan kota sebagai lingkungan yang tetap perlu dibagi untuk kepentingan khalayak belum dapat banyak diatur, dikendalikan, diimplementasikan dan dievaluasi dengan baik.

Belum lagi berbagai tantangan untuk memenuhi konsep arsitektur ramah lingkungan di tengah hidup masyarakat urban. Tantangan terberatnya tidak lain terletak pada perubahan cara pandang dan cara hidup kita di tingkat keseharian. Sebelum menyalahkan pihak-pihak lain akan tidak adanya bangunan ramah lingkungan, utamanya masyarakat harus benar-benar menyadari ada yang harus diubah dari gaya hidupnya. Harus dulu paham bahwa untuk hidup lebih baik atau melakukan pergerakan yang lebih ramah terhadap lingkungan, kita memerlukan komitmen dan keyakinan hati, terlepas dari hambatan, tantangan atau keterbatasan apapun yang ada di sekeliling hidup kita. Di kota besar yang kebanyakan sudah pada dengan bangunan sesungguhnya masih ada banyak cara membangun yang baik. Kepadatan dapat dijawab dengan mengurangi pembangunan, atau dengan membangun di daerah lain untuk mendistribusikan kepadatan itu sendiri. Kebijaksanaan membangun selalu berbeda-beda di setiap kesempatan. Sudah pasti akan ada cara yang akan selalu memiliki keunikan tersendiri. Namun, keyakinan akan pembangunan yang ramah terhadap keberlanjutan lingkungan kiranya sudah menjadi keharusan untuk diperjuangkan di berbagai situasi dan kondisi di hari ini. Dan itulah yang terpenting untuk ditanamkan pada tiap individu.

Related Articles

Card image
Society
Kebaikan Tak Terbatas Waktu

Pencapaian hidup masing-masing orang pasti berbeda. Ada mereka yang bercita-cita ingin punya banyak uang, menjadi sosok yang berpengaruh, atau jabatan tinggi. Ada pula mereka yang ingin mencari kebahagiaan sejati. Bisa dibilang saya termasuk di dalam semua kategori tersebut.

By Lisa Luhur
30 November 2019
Card image
Society
Masa Lalu Tidak Melulu Sudah Berlalu

Kini, kita dihadapkan pada era revolusi industri 4.0 yang menjadikan data sebagai basis utama dan digital sebagai sarana. Jika dikaitkan dengan konteks kesejarahan, kita seharusnya secara sadar mulai mengelola dan menginventarisir peristiwa atau kejadian sebagai basis data yang sewaktu-waktu dapat kita gunakan apabila peristiwa atau kejadian tersebut terulang kembali.

By Asep Kambali
30 November 2019
Card image
Society
Kembali ke Kampung Halaman

Kita yang bisa mengenyam pendidikan tinggi adalah orang-orang yang amat beruntung. Apalagi bisa merasakan kehidupan perkotaan dengan segala kenyamanannya. Ya, termasuk saya. Saya adalah anak muda Timor yang sangat beruntung akan kesempatan tersebut. Namun, setelah melewati berbagai pengalaman itu seakan ada bisikan yang memanggil untuk pulang.

By Dicky Senda
23 November 2019