Society Art & Culture

Berfilsafat Bersama-Sama

Terdapat berbagai alasan mengapa banyak orang merasa enggan untuk belajar filsafat. Salah satunya adalah prasangka mereka terhadap bacaan-bacaan filsafat yang dianggap berat. Wajar saja, filsafat memang menjadi salah satu bidang ilmu tertua di dunia. Ia telah hadir dari abad ke-45 SM. Saat seseorang hendak berfilsafat di era modern ini, seakan ia harus tahu riawayat diskusi filsafat dari ribuan tahun lalu. Selain itu, filsafat juga tidak tersambung dengan dunia industri. Banyak orang yang bukan akademisi dari bidang filsafat mungkin akan berpikir bahwa filsafat tidak ada manfaatnya untuk keseharian. Tidak memberikan dampak pada pekerjaan. Padahal sebenarnya elemen filsafat tersemat di berbagai aspek kehidupan. 

Dengan belajar filsafat kita sebenarnya bisa berpikir lebih kritis. Khususnya ketika kita menghadapi hoax atau berita palsu yang banyak beredar di era post truth ini. Bahkan saat kita bicara tentang mindfulness, hidup berkesadaran, kita bicara tentang filsafat yang berhubungan dengan kemawasan diri. Sejatinya, mindfulness adalah ilmu turunan dari filsafat. Yoga atau meditasi Zen muncul dalam konsep mindfulness karena dilatarbelakangi oleh pemikiran filosofis tentang makna hidup dan sebagainya. Jadi apa yang kita pelajari dan praktikan hari ini tentang mindfulness adalah hasil akhir dari filsafat. Sayangnya banyak orang belum sadar soal ini. Mereka hanya tahu hasil akhirnya saja tanpa tahu awal mula dan prosesnya. Pada dasarnya, jika kita memiliki wawasan filsafat, kita bisa meladeni aneka perkara dengan lebih dewasa. Hanya saja karena ia berupa softskill, jadi banyak orang merasa filsafat tidak terlalu bisa diandalkan dalam praktik berkehidupan. 

Dengan belajar filsafat kita sebenarnya bisa berpikir lebih kritis. Khususnya ketika kita menghadapi hoax atau berita palsu serta post truth.

Dengan kurangnya minat pada filsafat, ekosistemnya pun belum terbentuk dengan baik. Kondisi saat ini peminat filsafat belum tersambung satu sama lain. Seringnya ekosistem filsafat lebih banyak ditemukan di lingkungan akademisi; para pelajar yang mengenyam ilmu filsafat serta para dosen. Para lulusan filsafat pun tidak sedikit yang keluar jalur. Mereka lebih banyak bekerja di luar bidang filsafat. Sebetulnya, setelah buku bacaan populer seperti “Filosofi Teras” karya Henry Manampiring dipublikasikan, banyak peminat filsafat yang muncul. Tapi kemudian mereka tidak memiliki wadah untuk mendiskusikannya. Sedangkan untuk dapat terus berfilsafat, kita butuh orang lain yang dapat membuka ruang diskusi agar pengetahuan terus berkembang. Namun publikasi filsafat di Indonesia pun masih terhitung sedikit. Buku-buku terjemahan yang ada kebanyakan sulit diakses. Sekalipun mendapatkan akses, biasanya buku-buku terjemahan filsafat kurang dapat dinikmati dengan mudah. Inilah antara lain yang membuat filsafat dianggap memiliki bahasa yang berat. 

Budaya populer seperti film-film Hollywood di era modern ini juga sebenarnya sudah banyak mengandung unsur filsafat. Misalnya masalah eksistensialisme yang sudah banyak dikemas dalam bentuk lebih populer. Sejauh pengamatan saya, sebenarnya ada sejumlah orang yang sudah familiar dengan produk-produk terapan filsafat. Termasuk generasi muda yang mulai terlihat menunjukkan aspirasinya terhadap filsafat. Apalagi di era digital ini, mereka diberikan fasilitas untuk akses berbagai platform secara gratis untuk mencari tahu lebih jauh tentang filsafat. Tidak heran semakin bermunculan sederetan figur yang membicarakan filsafat. 

Fenomena post truth saya kira juga jadi alasan lain banyak anak muda menggali lebih dalam tentang filsafat. Kita sekarang hidup di era penuh keraguan. Segala sesuatunya bisa diragukan dan tidak pasti. Segala sesuatunya adalah klaim di mana kita masih bisa mempertanyakan apa dasar klaim tersebut. Menurut saya, anak-anak muda mulai tertarik pada filsafat karena memiliki kegelisahan akan segala hal yang tidak pasti tersebut. Saat mendengar jawaban dari orang tua atau institusi tertentu, mereka tidak puas sehingga butuh mencari tahu lebih. Dengan filsafat mereka merasa memiliki penddekatan alternatif untuk memahami keseluruhan fenomena tersebut. 

Membentuk ekosistem filsafat jadi penting agar para peminat filsafat tidak kehilangan semangat. Mereka memiliki begitu banyak pertanyaan tapi sedikit jawaban. Lambat laun mereka bisa lelah dan enggan mencari tahu lagi. Sementara jika dilakukan dalam sebuah komunitas, rutin berdiskusi, menulis bersama, membuat jurnal atau konten populer, mereka bisa lebih konsisten berfilsafat. Untuk membangun ekosistem sendiri, kita membutuhkan sebuah siklus rantai nilai yang terdiri dari kreasi, produksi, distribusi dan konsumsi. Kalau siklus ini terbentuk, masing-masing ada unsur yang mengampu dan akhirnya ekosistem filsafat dapat berkelanjutan. Misalnya dalam dunia sastra, unsur kreasi direpresentasikan oleh para pengarang atau penyair. Bagian produksi adalah penerbit, manufaktur atau platform yang mempublikasikan hasil sastra. Distribusi tentu saja toko buku, festival, pameran, tempat melangsungkan acara bedah buku dan diskusi sastra. Terakhir, konsumsi bisa berbentuk penghargaan sastra yang mendorong konsumsi sastra jadi terarah. Kita jadi tahu tipe sastra yang baik dan tidak. 

Siklus ini belum terbentuk dalam filsafat. Produksi filsafat kebanyakan masih berasal dari para akademisi dan didistribusikan di kalangan mereka sendiri. Para peminat filsafat yang bukan berasal dari bidang filsafat tidak tersambung hingga akhirnya bergerak sendiri-sendiri. Inilah mengapa Philofest ID, sebuah festival filsafat terbesar di Indonesia, diadakan dengan harapan dapat menyambungkan para individu atau kelompok untuk membangun ekosistem. Kemudian siklus kreasi, produksi, distribusi dan konsumsi mulai tercipta. Misalnya dari segi konsumsi kita bisa menghadirkan sayembara esai filsafat tahunan yang dapat jadi tolak ukur. Dengan begitu, kita bisa mengukur sudah sejauh mana diskusi filsafat di Indonesia dalam rangka pengembangan dan kemajuan di masa depan.

Philofest ID juga diharapkan akan jadi sebuah platform di mana akan lebih banyak lagi komunitas dan individu yang berminat pada filsafat bisa berpartisipasi. Kami berupaya untuk melibatkan semua golongan, baik dari lingkup akademisi, penerbit, hingga individu. Hasil diskusi dari Philofest ID kemarin di masa depan kami ingin membuat sebuah situs terpadu tentang filsafat. Jadi nanti akan ada sebuah portal informasi filsafat dalam bentuk semacam ensiklopedia populer yang dibuat melalui kolaborasi lintas komunitas. Jadi masyarakat luas akan memiliki akses lebih mudah untuk mengonsumsi filsafat serta membangun minatnya untuk mencari tahu lebih dalam.

Related Articles

Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021
Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021