Society Planet & People

Berbuat Baik Sedini Mungkin

Faye Simanjuntak

@chocodaawg

Aktivis Sosial

Ilustrasi Oleh: Salv Studio

Sejak saya mendirikan Rumah Faye pada 2013, saya selalu menghadapi pertanyaan yang sama – “Kamu nggak terlalu muda ya, untuk jadi aktivis?” Pertanyaan tersebut sering diajukan kepada saya, namun pertanyaan yang sama justru jarang dilontarkan kepada para anak yang diperdagangkan di Indonesia. Dengan pertanyaan itu, eksploitasi dan kekerasan yang dihadapi oleh anak-anak, secara tidak sengaja, telah dibandingkan dengan ‘kesusahan’ hidup saya sebagai aktivis muda.

Sayangnya, masyarakat Indonesia masih sulit membicarakan masalah sensitif, seperti seks. Sistem pendidikan Indonesia enggan untuk membahas kesehatan reproduktif secara komprehensif. Akibatnya, kasus incest, pelecehan, dan bahkan perdagangan seksual dapat dengan mudah dikatakan berasal dari penyebaran informasi yang salah dan ketidaknyamanan remaja untuk bertanya tentang proses reproduktif.

Ketika saya berusia sembilan tahun, saya belajar tentang perdagangan manusia. Dengan itu, saya mulai menyadari kemampuan manusia untuk bertindak kejam. Saya mulai memiliki pemahaman yang mendalam tentang kemampuan saya untuk mengubah hal yang saya tidak sukai di Indonesia.

Saya tumbuh dalam keluarga yang terus menekankan nilai yang sama – bahwa kami hidup untuk melayani orang lain. Akhir pekan saya jadinya dihabiskan untuk membagikan sembako dan bergabung dengan panti asuhan ataupun acara yang dibuat oleh LSM tertentu. Meskipun pada saat itu jujur saya tidak pernah benar-benar merasa bertanggung jawab untuk melakukan sesuatu.

Saya tumbuh dalam keluarga yang terus menekankan nilai yang sama – bahwa kami hidup untuk melayani orang lain.

Namun ketika saya belajar tentang perdagangan anak, sepertinya ada suatu perubahan dalam pola pemikiran saya. Saya baru sadar bahwa ini giliran saya untuk mengambil inisiatif agar dapat membuat perubahan dalam hidup anak-anak yang telah menghadapi eksploitasi dan kekerasan.

Ceritanya panjang dan berliku, tetapi intinya adalah bahwa saya mendedikasikan sekitar tiga tahun untuk melakukan penelitian dan wawancara untuk membuat sesuatu. Waktu itu, saya belum tahu apa. Akhirnya, pada Oktober 2013, Rumah Faye didirikan – sebuah LSM kecil yang fokus membantu anak-anak korban prostitusi. Pada tahun 2018, kami beruntung dapat memperluas visi dan misi untuk membantu anak-anak yang telah dilecehkan atau dieksploitasi.

Kami tumbuh besar, dan cepat. Mengapa? Karena saya memastikan bahwa Rumah Faye dirancang khusus untuk kaum muda. Saya sudah mengatakan ini berkali-kali, dan saya akan mengatakannya mungkin seribu kali lagi: anak-anak bukanlah masa depan, kami adalah masa kini.

Anak-anak bukanlah masa depan, kami adalah masa kini.

Saya sudah bekerja di Rumah Faye sejak usia 12 tahun. Hasilnya, saya memiliki kemampuan ekstra untuk merekrut orang muda sebagai relawan kami. Saat kami meningkatkan kesadaran masyarakat, kami tidak berbicara kepada anak-anak, kami berbicara dengan anak-anak. Kami percaya bahwa kunci untuk mengubah situasi Indonesia adalah melalui diskusi antar kaum muda. Itulah sebabnya salah satu program utama Rumah Faye adalah ‘pencegahan’, karena kami tidak hanya bertujuan untuk mengeluarkan anak-anak dari siklus perdagangan anak, tetapi juga untuk menghentikan siklus tersebut.

Bekerja di Rumah Faye tidak mudah. Saya dan tim menghadapi berbagai tantangan, mulai dari finansial hingga emosional. Menurut saya hal kedua lah yang paling sulit. Kami harus dapat memisahkan perasaan emosional mendengar cerita-cerita para korban yang seumur dan pintar-pintar mengatur emosi sehingga tidak terlarut dalam pengalaman dan emosi mereka. Saya harus mencapai dan mempertahankan keseimbangan antara empati untuk anak-anak kami dan pengertian bahwa saya tidak boleh tenggelam dalam setiap kasus. Apalagi ketika memang mereka pada akhirnya tetap tidak dapat hidup dalam kebahagiaan. Sulit sekali rasanya untuk tetap berada dalam kondisi yang tenang.

Bekerja di Rumah Faye tidak mudah. Tetapi itu pekerjaan yang harus dilakukan oleh seseorang. Manusia cenderung menunggu orang lain untuk melakukan sesuatu daripada mengambil tanggung jawabnya sendiri. Walaupun ada perasaan kasihan untuk orang-orang yang kurang daripada kita, tapi sepertinya masih terlalu jarang kemudian kita mengambil tindakan sendiri. Malahan, orang seringnya menunda perubahan yang ingin kita buat dan bahkan menunggu orang lain dulu untuk melakukannya. Ini bukan kesalahan generasi atau individu, tetapi menurut saya sikap inheren pada manusia – perasaan takut ataupun malas untuk berbuat baik dengan sikap altruis. Mungkin ini pernyataan yang terlalu sinis. Tetapi Bagaimanapun juga, saya percaya bahwa tanggung jawab manusia adalah untuk terus bertumbuh-kembang agar dapat melampaui apa yang diharapkan orang lain dari kita. Untuk berbuat dan memberi lebih banyak sekelilingnya.

Manusia cenderung menunggu orang lain untuk melakukan sesuatu daripada mengambil tanggung jawabnya sendiri.

Saya selalu ditanya, berulang-ulang, apa pesan saya kepada pemerintah atau orang dewasa pada umumnya. Saya bisa saja menjawab hal umum terkait dengan penerapan hukum atau pendidikan, tetapi pertanyaan ini memiliki kesalahan besar – dia tidak mendorong refleksi pribadi tentang bagaimana setiap anak bisa mengambil tindakan individu/inisiatif. Apa pesan saya kepada kaum muda?  Di zaman modern ini, sudah tersedia segala macam fasilitas untuk melakukan sesuatu. Akan tetapi masih banyak teman-teman seumuran saya yang masih juga mempertanyakan bagaimana caranya terlibat dalam kegiatan sosial. Faktanya, sangatlah mudah. Kita punya banyak sekali kesempatan untuk menolong bahkan sesederhana menyisihkan uang saku untuk disalurkan ke situs-situs gerakan sosial. Situs web seperti relawan.org dan kitabisa.com hanyalah dua dari sekian banyak situs lainnya yang mendorong perubahan dan memfasilitasi tindakan kita untuk menolong.

Inilah hakekatnya – perasaan Anda tidak menolong apapun. Perasaan kasihan tidak dapat mengubah hidup siapapun. Hanya tindakan nyata yang dapat memberi perubahan bagi Indonesia. Jika Anda tidak bangga dengan keadaan Indonesia sekarang, berarti saatnya Anda untuk mengambil langkah nyata agar dapat memastikan Indonesia adalah negara yang bisa dibanggakan.

Perasaan kasihan tidak dapat mengubah hidup siapapun. Hanya tindakan nyata yang dapat memberi perubahan

Mungkin saya memang terlalu muda untuk menjadi aktivis. Sebenarnya, saya ya memang terlalu muda untuk menjadi aktivis. Karena seharusnya, anak muda seperti saya tidak perlu melihat statistik perdagangan anak di Indonesia yang begitu tinggi. Seharusnya, sudah ada masyarakat lebih tua yang sadar atas isu perdagangan anak dan mulai berdiskusi agar dapat menurunkan kemungkinan adanya anak yang diperdagangkan. Seharusnya, sudah ada implementasi yang cukup untuk mencegah prostitusi anak. Seharusnya, anak-anak Indonesia diberikan kesempatan yang lebih besar untuk bersekolah dan berkarya. Tetapi ini tidak terjadi. Saya sadar, sebagai anak berusia 12 tahun, suara saya akan didengar oleh masyarakat luas. Jadi, saya membuat pilihan untuk mengambil tindakan nyata saat itu.

Saya terlalu muda untuk menjadi aktivis anti-perdagangan anak. Tetapi kalau suara saya adalah yang diperlukan untuk terus mendorong agenda anti-perdagangan anak, saya siap untuk terus memberikan suara saya.

Related Articles

Card image
Society
Pegang Kendali Hidup

Penggunaan teknologi atau media sosial bisa mengurangi esensi kehidupan jika kita membiarkannya. Pada akhirnya kita harus bisa mengendalikan teknologi bukan dikendalikan oleh teknologi. Kecanggihan hanyalah sebuah alat yang harus kita kuasai.

By Petra Sihombing
15 February 2020
Card image
Society
HIV (Tidak) Mengubah Hidup

Sebagian orang masih memandang HIV sebagai penyakit yang amat negatif. Perspektif ini berkembang dari penyebab penyakit itu sendiri. Namun ternyata setelah memiliki keberanian untuk berjuang hidup, HIV tidak seburuk itu. Tidak mengubah hidup jadi menderita. Malah sebaliknya.

By Scott Alfaz
08 February 2020
Card image
Society
Esensi Seks yang Tak Tabu

Ketika mendengar kata “seks” seringkali kita langsung memberikan konotasi negatif. Merasa kata tersebut bukanlah kata yang lumrah untuk diucapkan di keseharian kita. Membuat kita merasa seakan berdosa ketika leluasa membicarakannya. Padahal seks seharusnya bisa menjadi bahasan yang umum dan dibicarakan oleh kedua gender. Kapan pun kita butuh membicarakan seks kita bisa membicarakannya

By Jenny Jusuf
08 February 2020