Society Science & Tech

Berbincang dengan Peranti

Irzan Raditya

@irzanraditya

Praktisi Kecerdasan Buatan

Fotografi Oleh: Ayunda Kusuma Wardani

Setengah panca windu yang lalu, Google, Yahoo, Amazon, serta sejumlah pemain besar digital lainnya yang lahir di kisaran tahun 1990-an, menandai kemunculan era ‘dot com’ – (.com).

Satu dasawarsa kemudian, setelah Steve Jobs meluncurkan iPhone pertama serta berlanjut dengan berkembangnya Apple, the whole landscape changed. Datanglah era app economy. Sejumlah aplikasi telepon genggam, satu persatu bermunculan menawarkan solusi dan kepraktisan akan tuntutan gaya hidup masyarakat yang makin dinamis. WhatsApp, WeChat, hingga aplikasi buatan pemain lokal seperti Gojek pun memadati pasar.

Kini, dengan tendensi tren digital mengalami pergantian setelah 10 tahun perjalanan, setelah era kemunculan aplikasi, apa selanjutnya?

Mari kita sejenak mundur ke belakang, untuk melihat alasan penciptaan sejumlah platform digital yang kita kenal saat ini. Jaringan internet pertama kali diciptakan untuk keperluan komunikasi militer Amerika Serikat di tahun 1969. Berangkat dari sini, jaringan ini pun mengalami perkembangan melintasi batas negara, kepentingan, dan waktu. Terlepas dari seberapa luas jangkauan persebaran dan entitas yang dihubungkan, berbicara mengenai alasan keberadaanya, sulit untuk tidak mengaitkannya dengan aspek komunikasi yang merupakan salah satu kebutuhan dasar aktivitas manusia dalam menjalani kehidupan.

Berkaitan dengan komunikasi, bentuk perkembangan tren digital pun tidak pernah jauh arahnya dari pemenuhan kebutuhan manusia yang satu ini. Secara sederhana, komunikasi diperlukan dalam menghubungkan satu individu dengan yang lain dalam usaha memperoleh kebutuhan sehari-hari. Dengan makin dinamisnya ritme kehidupan, keinginan manusia yang tidak pernah habis, sementara waktu yang tetap berputar 24 jam dalam sehari, lambat laun keadaan ini mendorong untuk terciptanya sejumlah platform yang memungkinkan segala macam hal dan keperluan dilakukan dalam satu pintu. Masa super app pun tiba.

Menjawab apa yang diperlukan manusia modern saat ini, aplikasi-aplikasi yang kini tengah merajai pasar, satu persatu bertransformasi menawarkan aneka fungsi dan fitur tambahan yang makin memberi kemudahan serta kenyamanan ke tiap penggunanya. Ingat bagaimana manusia menyenangi hal yang bersifat personalisasi? Ya, makin ke sini, layanan aplikasi yang ada pun secara sadar makin ‘bersahabat’ dengan sisi humanis kita. Mulai dari tawaran cerdas rekomendasi padu padan saat kita tengah dihadapkan dengan ribuan foto pakaian di depan layar, email cinta berisi potongan harga sebagai hadiah ulang tahun, hingga album kompilasi lagu ‘kita banget’ yang tanpa kita minta telah tersedia untuk kita dengarkan sewaktu waktu. Semua ini adalah hasil dari kerja kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) yang dimiliki suatu sistem pemrograman, yang berada di balik seluruh layanan ‘personalisasi’ yang ada.

Bertambahnya layanan yang memanjakan pelanggan ini pun makin didukung dengan makin cerdasnya ‘otak’ yang berada di baliknya. Bila dikatakan kecerdasan buatan dapat menggantikan kemampuan otak manusia sepenuhnya, saya memiliki kepercayaan suatu saat hal ini mungkin saja terjadi. Di tahun 2010, tingkat akurasi manusia dalam mengenali suatu gambar atau wajah berada di angka ketepatan 90 persen, sementara AI di kisaran 60 hingga 70 persen. Selang lima tahun, di tahun 2015, tingkat akurasi AI menjadi 96 persen, sementara manusia masih tetap di 90 persen. Kini, AI bahkan telah mencapai tingkat akurasi 99 persen. Bisa dibayangkan apa yang mungkin terjadi sekian tahun mendatang?

Teknologi semakin lama bergerak semakin cepat. Tidak lama lagi, mereka akan sanggup mengadopsi kerja otak manusia secara keseluruhan. Mulai dari membuat keputusan, memberi rekomendasi, hingga mencerna dan merespon produk budaya manusia yang kompleks dan terus mengalami perubahan seperti bahasa - makin lama akan makin terasa sempurna.

Inilah yang menarik di mata saya: bahasa. Berkecimpung di dunia digital dan kecerdasan buatan sejak lama, membuat saya menyadari adanya salah satu rumpang yang dapat diisi dan difasilitasi oleh AI dalam meningkatkan kenyamanan pelanggan dan produktivitas perusahaan, dari segi komunikasi yang ditawarkan. Sebagai ilustrasi, sebanyak 80 persen pertanyaan yang umum pelanggan ajukan ke perusahaan, berkisar di topik yang sama. Sementara itu, rata-rata turnover rate customer support berada di angka 30 persen. Selain biaya cukup tinggi yang perlu dikeluarkan untuk merekrut pegawai baru serta melatih mereka, bagi karyawan bersangkutan, bekerja dengan sebagian besar waktu mendengar keluh kesah, pertanyaan, atau bahkan komplain pelanggan, sedikit banyak dapat berpengaruh terhadap kesehatan fisik dan mental.

Kecerdasan buatan hadir bukan semata-mata untuk menggantikan peran manusia dalam mengerjakan sesuatu. Namun, teknologi ini hadir untuk meningkatkan kualitas hidup manusia tanpa terkecuali. Tidak terbatas pada lingkup komunikasi dan bahasa seperti yang saya geluti saat ini, namun lebih luas lagi di seluruh bidang ilmu. Di sisi lain, akan selalu ada pekerjaan baru yang tercipta seiring berjalannya waktu. Dua puluh tahun, belum tentu pekerjaan praktisi kecerdasan buatan ada layaknya sekarang, bukan?

Tingkat kompleksitas bahasa Indonesia berada di level yang menurut saya cukup tinggi. Berbicara mengenai bahasa texting saja, coba hitung ada berapa banyak bentuk kata ganti ‘aku’ yang ada? Bila bahasa Inggris hanya memiliki kata ‘I’ dan mungkin sedikit variasi tulisan yang mendekati kata tersebut, bahasa Indonesia memiliki lebih dari 30 perbendaharaan kata ‘aku’ yang umum digunakan. Mulai dari aku, saya, gue, w, akika, dan lain sebagainya, yang bahkan belum lagi dihitung dengan adanya ragam bahasa daerah yang dimiliki bangsa ini. Mengajari ‘peranti lunak’ untuk paham dan mampu mengolah bahasa Indonesia bukanlah hal yang sederhana. Terdapat proses pengumpulan data, penelitian, uji coba, dan lain sebagainya yang memakan waktu untuk dilalui, namun sepadan menimbang hasil dan manfaat yang diperoleh. Kini, mungkin saja lawan berbicara Anda adalah sebuah program peranti lunak yang fasih berbahasa Indonesia – bahkan melebihi Anda.

Saya selalu memiliki keyakinan, diluar titel ‘buatan’ yang melekat, dalam kapasitas yang sejatinya merupakan sebuah program, AI memiliki ‘otak’ yang sangat cerdas dan tidak terbatas untuk melakukan apapun. Terlebih, dengan sejumlah terobosan penelitian yang memungkinkan computing power ‘otak’ AI berbanding sama atau bahkan melampaui otak manusia sendiri. Namun, melihat bahwa semua ini tidak ada terjadi tanpa peran buah pikir manusia yang berada di baliknya, sebuah kesadaran terlintas bahwa betapa besarnya  berkah kecerdasan yang manusia miliki. Kecerdasan buatan memang luar biasa. Namun, otak manusia jauh lebih luar biasa lagi karena mampu menciptakan teknologi yang memiliki kapasitas setara atau bahkan melampauinya di atas. Alih-alih menjadi substitusi akan peran otak, kecerdasan buatan lebih tepat bila dikatakan berdiri berdampingan dengan manusia dalam skema hubungan yang terbentuk di antara keduanya. Masing-masing saling membutuhkan keberadaan yang lain untuk bertransformasi menjadi lebih baik lagi dalam mencapai tujuan yang diharapkan.

Segala sesuatu yang pernah terlihat istimewa, lambat laun akan terasa biasa saja. Di saat internet pertama kali dikenalkan, awalnya terdengar asing dan menghadirkan wow effect. Namun kini, dapatkah kita berpisah dari internet barang sehari saja? Begitupun dengan kecerdasan buatan yang saat ini mungkin masih merupakan bagian kecil dalam jaringan komunikasi dan siklus kehidupan. Namun sekian tahun lagi, besar kemungkinan AI akan menjadi bagian tidak terpisahkan dalam hidup. Sebuah impresi pun layak terbentuk dengan melihat segala kemungkinan yang dapat manusia lakukan, memanfaatkan teknologi yang mereka ciptakan. Betapa besarnya kekuatan pikiran yang kita miliki, sebagai suatu keniscayaan, untuk kita resapi bersama.

Related Articles

Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022
Card image
Society
Apresiasi Seni di Ruang Publik

Ketika berbicara mengenai apresiasi seni, menurut saya hal ini bisa dilakukan mulai dari cara-cara yang sederhana. Bisa kita mulai dengan memajang karya seni di halaman rumah kita. Kalau mungkin kita memiliki properti lain seperti villa atau restoran, tempat-tempat tersebut juga bisa menjadi opsi bagi kita untuk mengapresiasi karya seni yang juga bisa dilihat oleh publik.

By Hafidh Ahmad Irfanda
16 April 2022
Card image
Society
Perempuan Punya Pilihan

Sebagai seorang wanita yang tinggal di Indonesia, saya merasa sampai sekarang masih ada banyak tantangan yang kita hadapi. Saya merasa halangan pertama justru datang dari dalam diri sendiri, meragukan kemampuan kita dan mempertanyakan apakah kita mampu mengemban suatu peran tertentu.

By Fitria Sofyani
09 April 2022