Society Planet & People

Berbagi Mengisi Hati

Veronica Colondam

@veronicacolondam

Pengusaha Sosial

Fotografi Oleh: Ayunda Kusuma

Hasrat berbagi pasti terselip dalam diri setiap manusia. Filantropi menjadi sarana tepat untuk menyalurkannya.

Sebuah laporan yang saya baca mengenai Global Giving Index atau indeks berbagi dalam skala dunia, menyebut tiga negara yang masyarakatnya paling suka memberi, senang melakukan kerja-kerja relawan, dan memiliki hati yang baik. Negara kita, Indonesia di urutan kedua, setelah Myanmar yang berada di urutan pertama dan Kenya di urutan ketiga. Negara-negara maju seperti Amerika Serikat, New Zealand, dan Kanada hanya berada di duapuluh besar. Hal ini mengejutkan sekaligus menggembirakan buat saya, karena dengan gamblang dapat menjelaskan pendapat yang sering saya sampaikan bahwa memberi tak berbanding lurus dengan keberadaan materi. Bahwa tabiat orang yang suka memberi tak melulu dimiliki oleh mereka yang sangat berpunya. Bahkan dengan sedikit yang dimiliki, tanpa ada keuntungan ekonomi apa pun, orang yang senang berbagi akan tetap memberi.

Hal ini sangat bertolak belakang dengan teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow. Menurut Maslow, harusnya semua kebutuhan tercukupi dulu sebelum keinginan untuk aktualisasi diri muncul. Urutan tiga besar negara dengan Global Giving Index tertinggi ini terasa seperti anomali. Karena tak berhasil membuktikan teori tersebut. Myanmar, Indonesia dan Kenya yang masih tergolong negara berkembang dengan jelas memberi contoh bahwa ketergerakan seseorang untuk berbagi, nyatanya memang tak hanya dapat diukur dengan teori Hierarki Kebutuhan. Ada banyak hal yang membuat seseorang atau sekelompok masyarakat tergerak berbagi dengan sesama yang lebih membutuhkan.

Di Myanmar, tingkat berbagi yang tinggi, kerap dikaitkan dengan pengaruh agama Buddha yang mengajarkan welas asih. Di Indonesia, niat baik untuk berbagi sangat tinggi meskipun dalam tataran komitmen dan realisasi kadangkala terjadi ketidaksesuaian. Tapi, ketertarikan untuk melakukan kerja amal atau hal-hal yang berkaitan dengan berbagi seperti ini selalu sangat tinggi. Tanpa mendapat imbalan sekali pun. Rasa berarti karena berbagi menjadi nilai tukar yang tinggi.

Memberi dan berbagi, sepanjang pengalaman saya mengelola Yayasan Cinta Anak Bangsa, sering pula berhubungan dengan bagian dari pemujaan kita pada Tuhan, pada kehidupan, pada kemanusiaan. Berbagi selalu menjadi jalan bagi para pelaku filantropi untuk memaknai hidup karena selain begerak secara horizontal, manusia sejatinya juga bergerak secara vertikal. Memberi sama seperti sebuah laku penyerahan diri, meski kadang tak bisa dipungkiri ada pula faktor aktualisasi diri yang menyertainya.

Satu fakta penting yang perlu kita ketahui juga adalah bahwa tak ada waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat, usia yang terlalu muda atau terlalu tua, juga tingkat kemampuan ekonomi yang terlalu rendah untuk berbagi atau melakukan kerja filantropi. Setiap orang umumnya bergerak dan bekerja sesuai ketergerakan dan keterpanggilan untuk berbagi. Semua bisa terjadi bersamaan seiring perkembangan usia dan perjalanan hidup kita.

Ada yang tergerak berbagi di usia sangat muda, ada pula yang baru tergerak setelah usianya cukup banyak dan telah melampaui berbagai pengalaman hidup. Saat mulai tertarik terjun ke filantropi, usia saya dulu baru 26 tahun. Pada sebuah acara Young on Top, saya menjadi salah satu pembicara tentang career path di mana usia 26 tahun dijadikan titik baliknya. Dari 8 pembicara yang semuanya berusia 26 tahun, termasuk saya, sepakat untuk melakukan pencapaian dan aktualisasi diri di usia kami saat itu. Kami pun sepakat dengan teori bahwa berbagi tak harus menunggu tua dan pensiun, karena melakukan dan memberikan yang terbaik bagi kehidupan itu bisa dimulai kapan saja. Kabar baiknya, di Indonesia, keterpanggilan itu terjadi secara mayoritas, bukan hanya perorangan saja. Hanya soal waktu yang menentukan kapan keterpanggilan itu ada dan kebaikan itu dilakukan.

Kalau ada yang bertanya, mengapa orang beramal, karena memberi dan berbagi itu memang menjadi salah satu aktualisasi diri. Ketika sudah siap atau cukup dengan diri sendiri, tahap selanjutnya biasanya kita merasa perlu memberi dan berbagi dengan orang lain. Jika tidak masuk ke ranah sana – memberi dan berbagi – sepertinya akan ada yang kurang dalam hidup. Berbagi akan menjadi bagian dari perjalanan hidup dan salah satu sarana kita memaknainya. Tanpa itu, akan ada yang terasa tidak sempurna.

Di Indonesia, soal memberi dan berbagi ini sangat erat kaitannya dengan kadar empati seseorang pada sesama, karena kita belum memiliki sistem tax reduction atau penguarangan pajak bagi mereka yang melakukan amal. Di Amerika Serikat, ada sistem pengurangan pajak yang menjadi salah satu pendorong filantropis beramal. Ada keuntungan ekonomi yang diperoleh. Tujuan pemerintah Amerika memang untuk mendorong orang untuk berbagi. Dengan pengurangan pajak, di sana tingkat amal menjadi sangat tinggi. Terkumpul hampir 1 triliun dolar per tahun. Di Indonesia, baik perorangan maupun perusahaan-perusahaan belum bisa memperoleh previlese tersebut. Amal yang dikeluarkan belum bisa dijadikan biaya, melainkan harus memotong keuntungan dan menjadi bagian dari Corporate Social Responsibility (CSR).

Related Articles

Card image
Society
Mempopulerkan Budaya

Budaya adalah yang membuat sebuah negara berbeda, lebih berwarna. Budaya juga membuat kita memiliki identitas dan tentunya membuat kita berbeda. Saat kita berada di luar negeri, budaya yang ada di dalam diri membuat kita jadi unik dan istimewa.

By Arawinda Kirana
21 November 2020
Card image
Society
Sama Namun Berbeda

Terkadang kalau bilang bangga terhadap Indonesia, saya bangga. Meski terkadang mudah diucapkan di mulut tapi tidak di hati. Saya bangga jadi orang Indonesia tapi di saat yang sama saya heran mengapa masih ada intoleransi pada orang-orang Papua padahal kami satu bangsa, satu negara. 

By George Saa
21 November 2020
Card image
Society
Terlepas Dari Belenggu Ketidaksetaraan

Menjadi seorang perempuan tidaklah mudah. Seringkali kami diperlakukan sebagai sebuah objek. Tidak perlu berpakaian terbuka, berpakaian tertutup sekalipun banyak dari kami diperlakukan tidak sepantasnya. Inilah yang membuat kami para perempuan memiliki banyak sekali insecurity atau perasaan tidak aman dan selama ini tidak berubah, akan selalu ada korban pelecehan seksual di sekitar kita.

By Suzy Hutomo
21 November 2020