Society Planet & People

Berani Berkata Tidak

Kata “tidak” memiliki begitu banyak makna. Tidak hanya sekadar kata yang ditujukan untuk menolak sesuatu tapi dalam konteks tertentu ia bisa jadi kata yang justru bisa jadi solusi sebuah masalah. Mengetahui Raisa Kamila pernah menulis buku berjudul “Bagaimana Cara Mengatakan Tidak?”, kami pun berdiskusi dengannya perihal kata “tidak”.

Greatmind (GM): Mengapa menurut Anda kita harus berani berkata tidak?

Raisa Kamila (RK): Di masyarakat kita, banyak konflik yang mengerikan terjadi tapi disepelekan dan tidak cepat-cepat diselesaikan. Kekerasan rumah tangga, pelecehan seksual, sering sekali dianggap sebuah permasalahan yang hanya berada di tingkat individu saja. Padahal kalau itu terjadi di jumlah yang besar, berarti sebenarnya ada yang salah dengan konstruksi sosial di masyarakat kita, bukan? Tidak hanya pelaku saja yang membuatnya biasa saja tapi juga masyarakat. Pada satu titik, saya mempertanyakan, “Mengapa bisa kita hidup di keadaan yang sakit seperti itu?”. Ironisnya, kita hanya akan menganggap itu mengerikan kalau ada orang terdekat mengalami hal tersebut. Kalau tidak, tidak akan berubah. 

Saya pun berpikir bahwa mengatakan “tidak” menjadi amat penting untuk keluar dari fenomena ini. Kita tidak mungkin terus-terusan dalam situasi yang sakit, yang toxic. Kemampuan kita untuk mengatakan tidak berguna untuk melawan apa yang dianggap normal, untuk bisa hidup secara lebih baik, layak dan manusiawi. Jadi ini adalah hal yang harus diperjuangkan. Kita tidak boleh menerima keadaan begitu saja. Kalau ingin keadaan berubah, kita harus menggugat dan bertanya. Mengatakan tidak adalah salah satu poin untuk bisa menuju ke perubahan di hidup.

Kemampuan kita untuk mengatakan tidak berguna untuk melawan apa yang dianggap normal, untuk bisa hidup secara lebih baik, layak dan manusiawi.

GM: Lalu, bagaimana cara Anda sendiri berkata “tidak”?

RK: Dalam kehidupan saya sendiri, saya mengatakan “tidak” tidak secara verbal namun secara perilaku. Seringnya, saya mengatakan “tidak” terhadap aturan-aturan. Misalnya jika merujuk pada konteks tempat saya lahir dan besar, Aceh, terdapat aturan wajib memakai jilbab tapi saya tidak selalu pakai. Saya melakukan hal tersebut untuk menunjukkan bahwa aturan tidak bisa mengendalikan hidup. Tentunya, aturan-aturan yang tidak saya ikuti adalah peraturan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai hidup. Saya merasa memiliki pijakan sendiri mengapa memutuskan hal tersebut. Selain itu, saya juga menggugat keadaan dengan menulis, membaca, dan melakukan penelitian. Mungkin perlawanan ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan aksi demonstrasi di luar sana. Namun, menurut saya dengan melakukan ini paling tidak saya melakukan sesuatu. 

Tentunya, aturan-aturan yang tidak saya ikuti adalah peraturan yang tidak sesuai dengan nilai-nilai hidup.

Salah satu bentuk perlawanan saya terlihat dalam buku “Bagaimana Cara Mengatakan Tidak?”. Dalam buku ini sebenarnya saya mempertanyakan pada sekitar kita, pada masyarakat tentang mengapa kita tidak berani berkata tidak. Terinspirasi dari tempat saya lahir dan besar, sering sekali saya mendengar kisah-kisah pelecehan seksual dan kekerasan rumah tangga. Namun yang tidak jarang saya dengar adalah komentar dari orang lain, “Kenapa kamu mau? Kenapa tidak menolak? Kenapa tidak bilang tidak?”. Saya pikir ini bukanlah komentar yang empatik sebab orang yang mempertanyakan itu menyamakan situasi antara pelaku dan korban. Padahal persoalannya tidak sesederhana bagaimana mengatakan tidak tapi situasi seperti apa yang dialami oleh korban hingga ia tidak punya kemampuan untuk menolak.

GM: Seperti apa isi buku “Bagaimana Cara Mengatakan Tidak?”

RK: Buku ini berisikan rangkaian kasus-kasus pelecehan seksual yang didengarkan oleh tokoh utama. Seperti ada cerita tentang anak kecil yang diperkosa oleh tukang bangunan atau ada anak SMP yang digoda oleh kakak kelas. Di setiap fase hidup tokoh utama, ia mendengar cerita-cerita mengerikan itu di mana tidak hanya korban yang tidak mengatakan “tidak”. Tapi juga orang-orang sekitarnya yang punya kemampuan atau pengaruh lebih seperti guru dan orang tua, tidak mengatakan “tidak”. Mereka tidak mencontohkan seperti apa seharusnya kita menyikapi keadaan sulit tersebut.

GM: Dari mana Anda mendapatkan inspirasi untuk menulis buku tersebut?

RK: Cerita-cerita di dalam buku tersebut berasal dari cerita-cerita yang pernah saya dengar. Dulu saya bersekolah di salah satu madrasah di Banda Aceh. Betapa miris kejadian tersebut terjadi di sebuah madrasah. Jadi saya melihat masalah tersebut bukan karena kita tidak bisa mengatakan “tidak” namun orang-orang di sekitar kita, mereka yang punya otoritas sekalipun tidak menolak konflik dengan tegas. 

Contohnya di cerita pembuka, tokoh utama pergi ke sekolah dan mendapat kabar ada anak kelas 6 yang diperkosa oleh tukang bangunan. Keesokan harinya, sekolah memberikan himbauan pada orang tua murid agar anak-anak perempuan tidak diantar terlalu pagi dan pakai celana pendek di balik rok. Respon ini menunjukkan bagaimana perempuanlah yang akan selalu disalahkan. Tidak ada satu sikap yang tegas untuk mengatakan "tidak" terhadap keadaan atau kejahatan yang terjadi. Kalau kita terus begini, bagaimana bisa ada perubahan untuk hidup yang lebih baik?

 

Related Articles

Card image
Society
Lika-Liku Ibu Kota

Seumur hidup, saya hanya tinggal di Jakarta. Tak pernah singgah secara serius di tempat lain. Di ibu kota ini saya tinggal dan tumbuh besar. Di sini pula saya mencari makan, patah hati, hingga melahirkan berbagai khayalan-khayalan. Ia adalah sebuah kota yang ‘serba ada’ dan “serba bisa”. Tapi di saat bersamaan, ia juga bisa jadi tempat yang serba sulit mendapatkan hal-hal yang sepantasnya bisa diakses dengan mudah oleh banyak orang.

By Baskara Putra
17 April 2021
Card image
Society
Sadar Kebutuhan Diri

Plastik memang diciptakan sebagai langkah ekonomis dan praktis. Bahannya yang tahan lama dan lebih murah jadi alasan plastik jadi pilihan untuk memudahkan kehidupan sehari-hari. Tapi, ia sesungguhnya diciptakan untuk dapat dipakai berkali-kali. Tidak hanya untuk sekali pakai.

By Gede Robi Supriyanto
10 April 2021
Card image
Society
Mengubah Stigma Wanita

Feminisme adalah kesetaraan posisi dalam masyarakat di mana tidak lagi ada penilaian atau stigma tertentu tentang wanita dari sesama wanita atau kelompok lain. Tidak ada lagi kata-kata, “Kok cewek banget sih” atau “Dasar cewek”. Feminisme adalah tentang perjuangan kaum perempuan dan kaum minoritas kesetaraan atas hak-hak setiap manusia tanpa memandang gender. 

By Mar Galo
03 April 2021