Society Work & Money

Beradaptasi Dengan Perubahan

Di masa pandemi ini, kita seolah seperti sedang berada dalam musim kelima. Satu musim yang tidak pernah ada sebelumnya. Satu musim di mana krisis kesehatan terjadi secara global. Satu musim di mana semua pemangku kebijakan di seluruh dunia harus menggelontorkan stimulus yaitu mencetak uang secara masif. Tentu saja peristiwa ini akan sangat berpengaruh kepada seluruh aspek bisnis. 

Dari perspektif ekonomi, bisnis bisa bertumbuh dan bertahan karena ada pendapatan. Kalau tidak berangsur-angsur akan jatuh. Di masa pandemi ini banyak sekali bisnis yang kesulitan menghasilkan pendapatan. Oleh sebab itu, para pebisnis harus bisa beradaptasi, bertahan dan berinovasi. Mereka perlu mencari ceruk market di mana aliran uang mengalir, menemukan kesempatan-kesempatan baru. Seperti ketika tren naik sepeda dan bercocok tanam sedang tinggi belakangan. Banyak orang akan berjualan sepeda dan tanaman karena uang sedang mengalir ke usaha-usaha tersebut. Memang, tidak perlu sampai ikut-ikutan banting setir. Tapi kita harus mampu untuk mencari celah untuk tetap mempertahankan bisnis terlebih dahulu agar bisa menghasilkan pendapatan.

Di awal PSBB ketat, saya memiliki rasa penasaran tinggi untuk menganalisa kondisi yang sedang dihadapi akan seperti apa ke depannya. Seperti yang saya utarakan sebelumnya, kita belum pernah mengalami ini sebelumnya. Semua manusia seumur hidupnya mungkin tidak pernah dikurung di dalam rumah selama itu. Inilah yang kemudian menjadi alasan saya membuat sebuah buku berjudul The Fifth Season. Isinya kurang lebih untuk memberikan gambaran kepada para pebisnis, investor, atau para individu yang ingin tahu tentang apa yang terjadi sekarang. Untuk menganalisa apa yang mungkin akan terjadi ke depannya setelah semua ini berakhir dan apa yang harus dilakukan. Di dalamnya, saya mencoba memberikan pandangan berdasarkan sejarah. Saya yakin apa yang pernah terjadi saat ini pasti ada kemiripan dengan fenomena yang pernah terjadi di masa lampau. Meski tidak sama persis. Terdapat tiga cuplikan peristiwa besar yang memiliki kemiripan dengan peristiwa sekarang.

Saya yakin apa yang pernah terjadi saat ini pasti ada kemiripan dengan fenomena yang pernah terjadi di masa lampau.

Pertama adalah peristiwa spanish flu. Dulu peristiwa ini juga dipertimbangan sebagai sebuah pandemi di mana terjadi krisis kesehatan yang berdampak pada seluruh dunia. Ketika itu krisis pun sampai mengalami gelombang kedua seperti apa yang sedang kita alami hari ini. Menurut saya, ini pasti akan terjadi sebab sifat dasar kita sebagai manusia masih sama. Kita masih memiliki kebutuhan untuk bersosialisasi sehingga akan sulit untuk berada di rumah dalam waktu lama. Akhirnya setelah beberapa bulan tidak bertemu banyak orang, pada satu masa akan berkumpul lagi dengan orang lain. Inilah yang juga terjadi di tahun 1918. Bedanya dulu belum ada WHO dan kita belum banyak memiliki akses untuk bepergian, belum ada pesawat komersil. Sementara sekarang karena akses perdagangan yang amat terbuka, kita memiliki kesempatan untuk bepergian. Sehingga dampaknya adalah meningkatkan potensi penyebaran virus. Namun sekarang karena ada WHO dan berbagai kecanggihan teknologi serta pengembangan riset yang luar biasa, edukasi dalam menangani virus pun lebih cepat disebarkan karena terbukanya akses tersebut. 

Peristiwa kedua adalah the great repression di tahun 1929 yang menimbulkan banyaknya pengangguran. Diikuti dengan peristiwa ketiga di tahun 2008 di mana terjadi krisis finansial secara global. Kala itu, pemerintahan di hampir seluruh dunia harus menggelontorkan stimulus yang juga kini sedang kita lakukan. Sudah terbukti di masa itu bahwa saat terjadi krisis hanya pemerintahlah sebenarnya yang bisa menolong sehingga harus dapat beraksi cepat menyelamatkan kondisi keuangan negara. Berkaca dari ketiga peristiwa tersebut, kita bisa banyak belajar untuk memikirkan solusi yang adaptif dalam berbisnis ketika krisis. 

Bisnis plant-based, misalnya, diperkirakan akan marak di masa depan. Selain adanya perhatian tentang kesehatan yang mendorong masyarakat beralih ke pola hidup sehat, perhatian tentang pelestarian lingkungan juga akan jadi tema besar untuk satu dekade ke depan. Faktanya, berbagai forum internasional seperti World Economic Forum dan The Paris Agreement sudah membicarakan tentang perubahan iklim dan green energy secara spesifik. Sehingga semua pemerintahan di dunia sebenarnya sudah memiliki kesepahaman bahwa perubahan iklim adalah nyata dan berpotensi jadi krisis besar di masa depan. Bill Gates pernah menyatakan bahwa isu perubahan iklim bahkan bisa jadi masalah yang lebih parah ketimbang pandemi jika tidak ditangani dengan baik. Para pemimpin dunia juga sudah memiliki kesepahaman untuk membuat aturan yang dapat mengurangi jejak karbon. Oleh karena itu, industri plant-based pun dipercaya akan berkembang karena industri peternakan adalah salah satu penyumbang terbesar kerusakan lingkungan. Maka, di masa depan budi daya hewan akan dibatasi. Alasan tersebut yang juga mendorong kami para investor untuk mulai menanamkan modal di berbagai bisnis plant-based terutama di sektor F&B. 

Hanya saja kendala industri plant-based di dunia, terutama di Indonesia adalah belum adanya inovasi. Saya menemukan bahwa masyarakat sulit mengubah pola makan plant-based karena masalah rasa. Kebiasaan kita makan daging hewan membuat sulit mengubah cita rasa yang ada di ingatan. Di Amerika sudah ada inovasi yang dapat menggantikan rasa asli daging-daging hewan. Mereka membuat daging plant-based yang rasa dan bentuk menyerupai daging hewan asli. Sementara di Indonesia belum sampai di sana tapi kemungkinan besar akan memilikinya juga. Kendala lain adalah daya beli masyarakat. Ketika daging plant-based ini memasuki negara kita, pertanyaannya adalah apakah masyarakat pada umumnya punya daya beli? Sebab mereka pasti akan membandingkan harga antara daging asli dengan daging plant-based tersebut. 

Akan tetapi, saya mengamati tren plant-based sudah mulai disebarkan. Ditandai oleh para pemengaruh seperti selebriti dan figur publik yang sudah mulai mengadopsi gaya hidup plant-based. Mereka bahkan tidak hanya sekadar menyebarkan informasi tapi juga mempromosikan. Biasanya kalau semakin banyak figur publik yang menyebarkan satu pola gaya hidup berarti untuk jadi tren di masyarakat sudah semakin dekat. Jadi di masa depan akan ada peningkatan permintaan karena adanya kebutuhan untuk mengubah gaya hidup ke arah yang lebih sehat dan ramah lingkungan. Maka, memahami perubahan ini kita bisa mulai memikirkan berbagai potensi yang mungkin dapat dijajaki di masa depan supaya dapat menghasilkan solusi bisnis yang adaptif.

Related Articles

Card image
Society
Beradaptasi dengan Inovasi

Saya telah mendengar dan melihat banyak cerita tentang pemilik usaha kecil yang awalnya memulai berbisnis karena penasaran. Mereka belajar dari Youtube, bereksperimen sambil terus di rumah karena pembatasan sosial, dan ternyata membuahkan bisnis yang berkembang.

By Jerome Polin
02 July 2022
Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022