Society Art & Culture

Bahasa: Pintu Pengetahuan

Mira Zakaria

@viennajakarta

Direktur Komunitas Bahasa & Spesialis Komunikasi

Ilustrasi Oleh: Robby Garsia (Atreyu Moniaga Project)

Harus diakui bahwa sebagai orang Indonesia kita mau tidak mau harus tahu budaya sendiri dulu sebelum budaya asing. Termasuk bahasa. Sebelum fasih menggunakan bahasa lain ada baiknya kita menggunakan Bahasa Indonesia terlebih dahulu.

Kalau bisa, jangan sampai kita mencampurkan beberapa bahasa saat berkomunikasi. Baik verbal atau tertulis. Paling tidak menggunakan satu bahasa dalam satu kalimat saja sudah sangat baik. Bisa dibilang cara ini adalah cara paling sederhana untuk melatih kita semakin sering menggunakan bahasa sendiri. Tapi kalau memang ada kata yang ingin diutarakan namun dalam Bahasa Indonesia terdengar aneh atau belum ada istilah umumnya, sebenarnya tidak apa-apa juga menggunakan bahasa lain. Tidak berarti kita tidak menghargai budaya atau bahasa sendiri, kok. 

Sebelum fasih menggunakan bahasa lain ada baiknya kita menggunakan Bahasa Indonesia terlebih dahulu.

Umumnya banyak kosa kata dan istilah bahasa yang mengalami pembaharuan dan menurut saya hal ini hanya kurang disosialisasikan secara efektif. Seharusnya lembaga-lembaga bahasa bisa membantu menyebarkan agar masyarakat lebih acap berbahasa dan tahu perkembangan Bahasa Indonesia sendiri. Kita sendiri juga sebenarnya harus mau dan memiliki niat untuk mengikuti saluran-saluran yang berkenaan dengan hal tersebut karena bahasa ibu adalah identitas kita. Bahasa lah yang memberikan kita identitas sebagai seorang warga negara tertentu. Contohnya saja ketika kita berada di luar negeri. Bayangkan jika kita kesulitan berkomunikasi dengan Bahasa Indonesia untuk menunjukkan identitas. Alangkah baiknya jika kita bisa memperkenalkan budaya sendiri lewat bahasa. Sehingga bahasa ibu lah yang harus kita kuasai terlebih dahulu sebelum bahasa asing. 

Namun tidak serta merta kita jadi menutup pemikiran tentang penggunaan kata serapan yang sudah masuk ke dalam kaidah tata bahasa kita. Kalau memang kata serapan tersebut sudah diakui menjadi kata yang bisa digunakan dalam berbahasa Indonesia, ya tidak masalah juga. Memang perubahan zaman bisa mempengaruhi perubahan bahasa juga. Sama saja seperti bahasa asing lainnya. Selain Bahasa Indonesia saya juga bisa berbahasa Inggris dan Jerman. Pada Bahasa Jerman pun terdapat pembaharuan yang terjadi dalam periode tertentu. Banyak kata-kata baru yang masuk ke kamus sehingga banyak juga yang berasal dari bahasa asing. Kita tidak melulu harus mengedepankan gengsi dengan menggunakan Bahasa Indonesia murni hanya untuk memperlihatkan seberapa nasionalis diri kita.

Perubahan zaman bisa mempengaruhi perubahan bahasa juga.

Banyak juga orang yang tumbuh di lingkungan yang mengharuskan berbicara dengan banyak bahasa sehingga mereka sulit menggunakan Bahasa Indonesia. Seperti ada beberapa figur publik yang mencampurkan Bahasa Inggris dan Indonesia setiap kali mengungkapkan sebuah pernyataan. Bukan berarti dia tidak mencintai negaranya tapi karena memang besar dengan ketetapan seperti itu dan itulah ekspresi mereka dalam berkomunikasi. Yang sering terjadi adalah kita malah mengejek atau mengolok mereka yang kurang fasih berbicara dengan Bahasa Indonesia, membuat mereka minder menggunakan Bahasa Indonesia. Sebaiknya kita pun harus bisa mengontrol diri untuk tidak menertawakan mereka karena itu proses pembelajaran berbahasa. Sama halnya seperti kita misalnya ingin belajar bahasa asing. Kita juga pasti tidak mau ditertawakan ketika masih mencampur dua bahasa karena belum benar-benar fasih menggunakan bahasa tersebut, kan?

Kontrol diri untuk tidak menertawakan mereka yang kurang fasih berbicara dan mencampur dua bahasa karena itu proses pembelajaran berbahasa. 

Agar perkembangan Bahasa Indonesia lebih pesat Bahasa Indonesia memang harus dipopulerkan lagi. Kita harus memperbanyak interaksi menggunakan Bahasa Indonesia supaya menyadari bahwa bahasa kita tidak kalah keren. Menurut saya sebenarnya media online dapat membantu proses tersebut, memperkenalkan Bahasa Indonesia yang sama kerennya dengan bahasa lain.

Tapi perlu kita sadari juga dari Sabang sampai Merauke penggunaan Bahasa Indonesia tidak sepenuhnya sama porsinya. Standar pendidikan di negara kita dalam penggunaan Bahasa Indonesia tidak merata. Setiap daerah memiliki kebutuhan-kebutuhan khusus saja untuk mempelajari Bahasa Indonesia. Terutama daerah yang menggunakan bahasa lokal dalam kesehariannya. Pembelajaran Bahasa Indonesia di daerah banyaknya ditujukan untuk mendukung faktor ekonomi dan sebagai cara beradaptasi di luar daerah. Misalnya mereka akan butuh Bahasa Indonesia jika harus berada di luar kota demi kepentingan ekonomi. Begitu juga dalam hal administrasi kewarganegaraan. Akan tetapi bagus juga mereka tetap mempertahankan bahasa daerah mereka sendiri. Itulah yang membuat negara kita berbeda.

Orang Jakarta contohnya, sepertinya sudah semakin menipis jumlah orang yang bisa bahasa daerah mereka. Otomatis hal ini disebabkan oleh masyarakat Jakarta yang tidak terekspos dengan bahasa daerah pada kesehariannya. Tapi sebagai orang Indonesia kita itu mudah beradaptasi jadi kalau tinggal di daerah beberapa lama pasti sedikit-sedikit bisa mempelajari logat bahasa daerah tersebut. Jadi memang permasalahan mengenai bahasa seperti ini harus dilihat dari berbagai perspektif. Tidak bisa bilang salah atau benar. Faktanya penggunaan Bahasa Indonesia tidak bisa sama rata, tidak bisa memiliki satu kurikulum pendidikan yang sama. Setiap daerah punya ciri khas masing-masing dan itulah potensi indonesia. Hanya memang aksesnya saja yang harus dibenarkan. Bahasa Indonesia di daerah-daerah menjadi akses masyarakat untuk menjangkau pengetahuan atau pengalaman yang lebih luas. Tapi tidak mesti semuanya harus benar-benar berbahasa Indonesia saja.

Bahasa Indonesia di daerah-daerah menjadi akses masyarakat untuk menjangkau pengetahuan atau pengalaman yang lebih luas.

Alasan-alasan tersebut juga sebenarnya yang mengawali terbentuknya Polyglot, sebuah komunitas bahasa yang mempertemukan orang-orang yang membutuhkan tandem untuk berlatih bahasa tertentu. Fasilitas yang disediakan tidak hanya komunitas untuk berlatih bahasa tapi juga berlatih komunikasi dengan bahasa yang dipelajari tanpa perlu takut ditertawakan meski salah. Sehingga komunitas ini menjadi komunitas yang suportif lewat diskusi sehingga setiap orang berani untuk berbahasa, berbicara selagi memperluas jaringan. Lewat komunitas ini, saya dan tim Polyglot juga memberikan kontribusi untuk memperkaya Bahasa Indonesia. Selain mengajak penutur bahasa asing untuk bergabung, kami juga mengumpulkan penutur bahasa daerah. Melakukan berbagai upaya untuk melakukan konservasi bahasa. Pada akhirnya kami berharap upaya-upaya tersebut dapat memfasilitasi setiap orang yang tidak mempunyai sarana belajar bahasa. Mereka yang kurang memiliki kemampuan untuk membayar tempat kursus bahasa bisa belajar bahasa tanpa perlu bingung biaya.

Related Articles

Card image
Society
Bercakap Bersama Hannah Al Rashid: Kekerasan Seksual

Siul-siulan yang menganggu, memandang yang terlalu lama menimbulkan rasa jijik tak nyaman, mempertontonkan alat kelamin, pemerkosaan. Semua ini tidak diinginkan. Semua ini kekerasan seksual. Saya bercakap bersama Hannah Al Rashid. Dia bercerita tentang kekerasan seksual yang dia alami, patriarki, relasi kuasa, dan pentingnya kerjasama antara perempuan dan laki-laki dalam menghapus kekerasan seksual di sekitar kita.

By Marissa Anita
28 November 2020
Card image
Society
Belajar Dari Pandemi

Seringkali kita manusia cenderung menggampangkan sesuatu yang belum ada di hadapan kita. Walaupun pandemi ini banyak menimbulkan hal yang tidak mengenakkan, namun tetap ada sisi baiknya. Banyak permasalahan di industri kesehatan yang tidak jadi sorotan sekarang akhirnya satu persatu muncul ke permukaan.

By dr. Shela Putri Sundawa
28 November 2020
Card image
Society
Berteman Tanpa Batas

Jika orang tua sudah mendidik anak-anaknya sejak kecil untuk berkelompok dan tidak mengajarkan keberagaman, di masa depan akan semakin banyak terjadi perselisihan di antara kita. Padahal kita memang diciptakan berbeda, bukan? Apalagi sebagai orang Indonesia yang begitu beragam. Mengapa kita justru sulit menerima perbedaan?

By Reda Gaudiamo
28 November 2020