Society Lifehacks

Anda Tidak Istimewa!

Gupta Sitorus

@guptasitorus

Praktisi Branding & Pemasaran

Ilustrasi Oleh: Mutualist Creative

“Saya minta 20 juta, pak.”

“Sabtu dan Minggu saya tidak bisa diganggu ya pak. Saya harus sama keluarga.”

Tidak ada minat untuk melanjutkan diskusi, saya segera mengakhiri sesi wawancara dengan kandidat-kandidat fresh graduate ini. Sedikit dongkol saya bergumam dalam hati, “Apa yang membuat mereka merasa begitu istimewa sehingga mereka berani menuntut ini-itu? Apa karena mereka merasa sangat cerdas atau sangat keren atau karena mereka memiliki ribuan pengikut Instagram?" Ijinkan saya membawa kita semua kedalam realita. Kita tidak istimewa. Generasi saat ini mungkin memiliki kebutuhan yang mendesak untuk merasa unik, istimewa, berbeda, dan dibedakan. Ini harus segera dihentikan!

Ini mungkin terdengar keras, tetapi mencintai (atau mengagumi) diri sendiri hanya baik-baik saja sampai batas tertentu. Adalah sebuah keharusan bahwa Anda perlu menerima diri Anda sepenuhnya, baik fisik maupun non-fisik. Namun berpikir bahwa Anda adalah pribadi yang luar biasa hanya karena Anda merasa istimewa adalah suatu kebebalan. Berpikir bahwa "saya istimewa" adalah cara berbahaya untuk menjalani hidup, karena tidak peduli seberapa berbakatnya Anda, cara pikir itu akan mengarahkan pada harapan yang tidak realistis dan kekecewaan.

Laporan yang dibuat Kamar Dagang Inggris menunjukkan bahwa orang-orang muda di Inggris sangat tidak siap untuk tuntutan pekerjaan. Bahkan beberapa dari mereka ada yang bertanya kepada pimpinannya di mana harus tidur siang. Dulu saya sering membuat daftar hal-hal baik tentang diri saya; saya telah bekerja di korporasi sejak umur 19 tahun, manajer pemasaran termuda, menjadi karyawan teladan, saya ini dan itu. Saya dapat terus membuat daftar hal-hal yang menjadikan saya siapa saya, tetapi ketika Anda melihat setiap hal dalam daftar itu, tidak ada satupun yang benar-benar unik. Apakah Anda tahu berapa banyak orang di luar sana yang sama seperti Anda dan saya? Anda dan saya hanyalah ikan di laut. Sejujurnya ini semacam pola pikir yang brutal untuk dimiliki, tetapi bayangkan betapa kerasnya Anda akan berusaha dan berupaya serta mencoba ketika Anda merasa tidak diistimewakan. 

Jika Anda menyadari bahwa ada satu juta orang lain yang bekerja sekeras Anda, Anda akan memiliki motivasi yang jauh lebih besar. Itulah masalah kita saat ini; semua orang berpikir bahwa mereka begitu istimewa dan hal-hal baik akan serta merta menghampiri mereka. Faktanya Anda tidak unik. Anda sangat tergantikan. Tentu saja Anda sangat berarti bagi keluarga dan teman-teman Anda, tetapi apakah Anda memiliki arti penting bagi seluruh dunia? Mungkin tidak. Kita harus sadar bahwa kita bukan yang terbaik, kita tidak akan pernah jadi yang terbaik, dan terus berusaha untuk memperbaiki diri kita sendiri dan berkontribusi kepada masyarakat.

Pola pikir bahwa Anda istimewa akan mendorong Anda ke kompetisi yang tidak sehat dan penuh rasa iri dan dengki. Anda akan fokus untuk menjadi lebih istimewa daripada yang lain dan melakukan segalanya terlebih dahulu. Anda harus menjadi yang duluan. Tenggelam dalam pusaran Instagram culture. Anda berupaya keras menjadi selebgram. Anda tidak lagi benar-benar menikmati hidup dan menyadari apa yang Anda miliki.

Membuang keyakinan bahwa Anda istimewa dan harus diistimewakan menjadi langkah awal untuk dapat benar-benar menjalani hidup. Mulai menerima bahwa Anda dan kita semua benar-benar tidak istimewa dan tidak apa-apa untuk menjadi biasa-biasa saja akan membuat Anda fokus pada kehidupan saat ini. Dan seiring itu pula kesuksesan akan tiba.

Related Articles

Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021
Card image
Society
Anak Muda dan Krisis Iklim

Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

By Adityani Putri
13 November 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021