Society Planet & People

Anak Muda dan Krisis Iklim

Adityani Putri

@dhit.ri

Direktur Eksekutif Yayasan Non Profit

Isu perubahan iklim saat ini semakin menjadi perhatian dunia disusul COP26 di Glasgow. Di Indonesia sendiri terkadang kita dihadapkan dengan anggapan bahwa generasi muda indonesia, yang masuk dalam Gen Z dan Millenials tidak terlalu peduli dengan krisis iklim. Untuk ini akhirnya Yayasan Indonesia Cerah (CERAH) dan Indikator Politik Indonesia membuat sebuah survei mengenai persepsi pemilih pemula dan muda atas krisis iklim dan kebijakan iklim di Indonesia. Berangkat dari pandangan skeptis terhadap pemuda Indonesia, kami sudah menurunkan ekspektasi. Apapun hasil dari survei ini tetap akan dirilis. Ternyata angka yang didapatkan di luar dugaan, 82% responden menyatakan mengetahui isu perubahan iklim. Sebanyak 85% responden menyatakan korupsi sebagai isu yang paling mereka khawatirkan dan diikuti kecemasan akan kerusakan lingkungan dengan 82% dari populasi responden.

Motivasi dalam melakukan riset ini adalah ingin menarik perhatian para pemangku kebijakan dan juga politisi. Paling tidak isu krisis iklim ini bisa menjadi tiga besar isu yang menjadi perhatian pemerintah atau kalau bisa nomor satu. Pemerintah sangat bisa menjadi lokomotif pengambilan keputusan terkait krisis iklim yang sejalan dengan ilmu pengetahuan. Bagaimana kita bisa mengubah sistem ekonomi kita agar bisa mengatasi masalah perubahan iklim, bagaimana kita menyesuaikan kebijakan sosial kita untuk mengatasi krisis iklim, bagaimana kita bisa melakukan pemerataan pembangunan agar masyarakat kita kuat mengatasi krisis iklim. 

Pemerintah sangat bisa menjadi lokomotif pengambilan keputusan terkait krisis iklim yang sejalan dengan ilmu pengetahuan.

Perlu ada perubahan paradigma pembangunan ekonomi kita. Merubah cara pandang dan orientasi pembangunan ekonomi tidak hanya mengandalkan konsumsi. Jangan hanya mengandalkan sumber daya alam, lalu dikeruk dengan tambang. Kalau kemudian kalau sudah habis lalu apa gunanya?. Hutan yang sehat dengan keragaman hayati yang terjaga juga merupakan kekayaan sumber daya alam yang harus dilestarikan.

Jangan hanya mengandalkan sumber daya alam, lalu dikeruk dengan tambang. Kalau kemudian kalau sudah habis lalu apa gunanya? Hutan yang sehat dengan keragaman hayati yang terjaga juga merupakan kekayaan sumber daya alam yang harus dilestarikan. 

Generasi muda juga sudah mulai terlihat rela membayar lebih untuk produk yang memang lebih ramah lingkungan. Pada pandemi ini, belakangan juga kita melihat orang lebih banyak liburan ke destinasi wisata alam dan memberi nilai lebih terhadap alam. Kesadaran bahwa krisis iklim ini mengancam eksistensi kita, juga mengancam segala harta “pertumbuhan perekonomian pribadi” yang terjadi. Contoh, kita beli rumah di pesisir tapi karena krisis iklim, air laut jadi naik atau kemudian badai dan bencana alam lainnya, lalu buat apa?. Kesadaran bahwa pertumbuhan ekonomi bukan segalanya. Menjadi kaya bukan segala-galanya, yang penting bisa hidup damai.

Sekarang mindfulness dan minimalism juga sedang naik daun. Orientasi anak muda zaman sekarang adalah merasa tenang. Bisa punya lingkungan bersih dan pertemanan abadi. Ada pergeseran dari menaruh nilai ke harta yang sifatnya materiil ke hal yang bersifat spiritual. Krisis iklim bukan hanya sekedar isu lingkungan, ini bahkan sudah disadari secara global. Isu perubahan iklim ini bersifat multipliers terhadap banyak krisis yang ada dalam kehidupan kita. Krisis ekonomi, sosial, dan kesehatan ditambah dengan krisis iklim akan memperparah tingkat kerentanan di masyarakat. Contoh, pada masyarakat yang tingkat kemiskinan tinggi, kecenderungan stunting tinggi begitu dihantam perubahan iklim itu akan memperparah keadaan.

Orientasi anak muda zaman sekarang adalah merasa tenang. Bisa punya lingkungan bersih dan pertemanan abadi. Ada pergeseran dari menaruh nilai ke harta yang sifatnya materiil ke hal yang bersifat spiritual.

Kita menemukan rata-rata kekhawatiran akan krisis iklim lebih tinggi di Gen Z. Ketika mereka diminta untuk interview atau ditanya cita-citanya apa 10 tahun lagi, lalu mereka kemudian berpikir, apakah dunia masih layak huni nggak, ya, 10 tahun lagi? Apakah pekerjaan yang mereka inginkan masih ada 10 tahun lagi?. Ketakutan-ketakutan tersebut muncul karena pemahaman mereka akan krisis iklim yang terjadi, mengubah tatanan dunia. Sekarang juga mulai pemberitaan soal terumbu karang, hutan, atau pemandangan yang rusak. Sedangkan kita tahu Gen Z sangat suka travelling dan pembelajaran yang berdasarkan pada pengalaman, kesadaran ini mewarnai itu juga. 

Gen Z, saat ini kebanyakan mungkin masih berkuliah atau baru saja memulai karir mereka. Dengan segala bucket list travelling yang mereka punya, ada kekhawatiran apakah kalau nanti uangnya sudah cukup destinasi wisata yang didambakan masih ada?. Sayangnya generasi yang sedang menjadi pemangku kekuasaan masih berkutat pada dilema ingin menang  dan mendapatkan suara untuk pemilu berikutnya. Maka mereka sulit mengambil keputusan untuk generasi mendatang. Untuk itu kita harus bisa menggunakan kekuatan kita nih sebagai pemilih, sebagai pemilih muda khususnya Gen Z dan juga milenial yang sudah sadar akan krisis iklim. Kita harus menyuarakan kalau kita nggak bisa memilih hanya berdasarkan gimik. Dalam survei juga terungkap bahwa Gen Z nggak ingin memilih hanya berdasarkan kultus individu semata, mereka mau memilih berdasarkan agenda partai. Bahkan memilih partai berdasarkan keputusan partai untuk menangani krisis lingkungan. Bahkan ada beberapa politisi yang mengkonfirmasi hal ini.

Gen Z, saat ini kebanyakan mungkin masih berkuliah atau baru saja memulai karir mereka. Dengan segala bucket list travelling yang mereka punya, ada kekhawatiran apakah kalau nanti uangnya sudah cukup destinasi wisata yang didambakan masih ada?.

Untuk mengatasi krisis iklim juga butuh dukungan secara politis, untungnya hal ini bisa diusahakan dengan kekuatan kita sebagai pemilih. Pilih pemimpin tidak hanya berdasarkan jargon tetapi juga keinginan mereka untuk mendorong masyarakat dan semua pihak yang terlibat untuk bisa mengambil tindakan untuk mengatasi krisis iklim yang sesuai dengan kebijakan. Jangan hanya sekedar ajakan, pemerintah pun harus punya target yang lebih jelas dan ambisius. Pihak swasta juga harus diarahkan untuk bisa komitmen pada hal yang sesuai dengan ilmu pengetahuan. 

Kita punya suara yang bisa kita manfaatkan agar bisa lebih sadar dan paham akan krisis iklim, bahwa ini bukan hanya isu lingkungan tapi ini adalah sesuatu yang lebih besar dan kita harus sama-sama berubah. Sebagai konsumen juga kita harus lebih kritis terhadap apa yang kita beli dan konsumsi, usahakan untuk keluar dari lingkungan yang mengatakan bahwa kita harus selalu beli hal yang baru. Pilih barang yang baik, dan jugabisa kita pakai cukup lama agar ini tidak cepat menjadi sampah. Banyak aksi kecil yang bisa kita lakukan untuk mendorong lingkungan pertemanan kita dan juga mengambil perhatian pemerintah.

Pilih barang yang baik, dan jugabisa kita pakai cukup lama agar ini tidak cepat menjadi sampah. Banyak aksi kecil yang bisa kita lakukan untuk mendorong lingkungan pertemanan kita dan juga mengambil perhatian pemerintah.

Di tahun 2050 harus mencapai 0 emisi bersih, untuk Indonesia sebagai produsen dan pengguna batu bara di tahun 2040 kita harus sudah keluar dari ketergantungan kita terhadap batu bara. Karena dunia sudah diminta stop menggunakan batu bara sebagai sumber listrik. Contoh lain, dunia meminta untuk setiap negara yang memiliki hutan untuk menghentikan penebangan liar dan menghijaukan kembali hutan di tahun 2030. Agar sama-sama selamat. Hasil lengkap dari survei ini juga bisa diakses melalui laman www.cerah.or.id  atau video pembahasan singkat yang dapat ditonton di kanal Youtube CERAH.

Related Articles

Card image
Society
Bersama Hadapi Masalah Mental

Banyak persepsi bahwa pemahaman orang Indonesia akan kesehatan mental masih rendah, sebenarnya menurut saya bukan rendah melainkan terpisah. Karena pergerakan kelompok yang bergerak di bidang kesehatan mental masih berjalan sendiri-sendiri, sehingga antar kelompok masyarakat tidak mengetahui apa yang dipikirkan oleh kelompok lainnya. Fenomena inilah yang menyebarkan narasi bahwa kesadaran akan kesehatan mental di Indonesia masih rendah.

By Dr. Sandersan Onie
04 December 2021
Card image
Society
Atasi Kelelahan Karena Teknologi

Banyak hal dalam keseharian kita yang dilakukan di depan layar. Kita menggunakan beragam perangkat digital untuk menyederhanakan dan mempersingkat aktivitas harian kita. Mulai dari mencari resep makanan hingga melihat perkiraan cuaca. Teknologi pada akhirnya telah mengubah cara kita memanfaatkan waktu.

By Greatmind x Google Indonesia
16 October 2021
Card image
Society
Damai Saat Berbagi

Mungkin saya terlihat tenang-tenang saja dari luar, tapi banyak pergumulan yang harus dihadapi. Dari semua paket pergumulan itu, saya belajar untuk membenahi diri dan berusaha menyelesaikan. Saya tidak membiarkan diri untuk panik, atau putus asa, dan saya selalu percaya pasti ada jalan keluar.

By Becky Tumewu
09 October 2021