Society Health & Wellness

Air Untuk Kehidupan

Rachmad Hidayat

Chief Representative Lembaga Nirlaba

Fotografi Oleh: Yoann Boyer (Unsplash)

Bagi kita yang hidup nyaman terutama di perkotaan, air bersih dan sanitasi seringkali bukan jadi masalah. Fakta berkata sebaliknya. Pertumbuhan penduduk yang melonjak menyebabkan penggunaan air semakin tinggi. Kebutuhan terhadap kualitas air pun turut meningkat. Air yang tercemar menimbulkan berbagai macam penyakit, bahkan acap menjadi penyebab kematian. Perihal air bersih dan sanitasi ini masuk ke dalam deretan Sustainable Development Goal (SDG) yang dikeluarkan oleh PBB pada 2015.

Tidak meratanya akses ke air bersih menyebabkan sebagian besar orang di dunia masih berjuang memiliki kualitas hidup yang baik. Akses air bersih dan sanitasi adalah salah satu kebutuhan dasar dan hak asasi manusia. Tanpa air bersih, manusia memiliki risiko kesehatan yang sangat tinggi. Sulit melakukan kegiatan produktif tanpa kondisi tubuh yang baik. Masyarakat yang tidak memiliki akses air bersih rentan terhadap risiko diare, stunting, dan gangguan ibu hamil. Di NTT sendiri bahkan tingkat anak-anak penderita stunting mencapai 41%.

Sebagian besar masyarakat dunia masih berjuang untuk memiliki kualitas hidup yang baik karena tidak meratanya akses air bersih dan sanitasi.

Secara umum, peta akses air bersih dapat terlihat seperti sebuah piramida yang dibagi tiga. Pada bagian paling bawah atau base of pyramid adalah kelas ekonomi menengah ke bawah yang kesulitan akses air bersih. Base of pyramid letaknya di negara-negara berkembang seperti Amerika Selatan, Afrika, India dan juga Indonesia.

Di Indonesia, kita memakai standar air minum baik dari PDAM. Baru 6% (dan rata-rata di perkotaan) yang tersambung ke air bersih. Jika mereka punya sumur, itu di luar hitungan. Mereka yang punya sumur pun masih memiliki risiko tidak adanya ketersediaan saat musim kering. Sejatinya, air bersih seharusnya tersedia sepanjang tahun.

Sejatinya, air bersih seharusnya tersedia sepanjang tahun.

Sebenarnya lembaga-lembaga seperti PDAM dan Sistem Penyediaan Air Minum dan Sanitasi (SPAMS) Pedesaan sudah menyediakan insfrastruktur. Tantangannya, untuk menyambungkan akses air hingga ke dalam rumah diperlukan biaya. Mungkin tidak akan menjadi isu bagi masyarakat di perkotaan, terutama mereka dengan tingkat ekonomi menengah ke atas. Namun untuk masyarakat menengah ke bawah, hal ini menjadi keresahan terutama saat mereka harus merogoh kocek di muka untuk biaya sambungan baru. Jika di daerahnya tidak memiliki PDAM, mereka perlu membuat sumur sendiri. Tetap saja, mereka membutuhkan investasi minimal lima juta rupiah untuk menggali tanah hingga kedalaman 20-30 meter.

Di sisi lain, untuk menyediakan akses air bersih dan sanitasi universal bagi 100% masyarakat Indonesia, Pemerintah harus merogoh sekitar 500 trilyun rupiah. Pemerintah dapat memenuhi 30% kebutuhan dana untuk air minum dan 52% untuk sanitasi. Untuk itu perlu sebuah gerakan bersama, semua lapisan masyarakat untuk mendukung target pemerintah dalam memberik akses universal tersebut.

Inilah yang mendorong kami di Water.org bekerjasama dengan berbagai lapisan dan elemen masyarakat dan dengan dukungan pemerintah untuk mendorong sebuah alternatif solusi yang bernama Pembiayaan Air Minum dan Sanitasi (PAMDS) atau yang biasa disebut WaterCredit yaitu menyediakan pinjaman terjangkau baik kepada rumah tangga, kelompok masyarakat, atau penyedia layanan air minum dan sanitasi yang sebelumnya tidak mendapatkan akses dari pihak non-pemerintah di sektor keuangan. Skema pembiayaan memberdayakan masyarakat agar dapat segera  memenuhi kebutuhan air minum dan sanitasi mereka sendiri. Ketika pinjaman air minum dan sanitasi dilunasi, maka pengembalian tersebut bisa digunakan kembali untuk orang lain yang membutuhkan pinjaman air minum dan sanitasi

WaterCredit membantu masyarakat menengah ke bawah mendapatkan akses air dan sanitasi yang layak.

Dengan PAMDS, program akses air bersih dan sanitasi dapat menjangkau dan memberdayakan lebih banyak orang. Skema ini dapat lebih menjamin keberlanjutan program akses air bersih dan sanitasi dibandingkan bantuan langsung yang dapat terputus apabila donasinya dihentikan. Dengan skema ini, penerima manfaat mendapatkan pemenuhan kebutuhan akses air dan sanitasi sekaligus memiliki tanggung jawab moral untuk membayar angsuran secara rutin serta memelihara fasilitas terbangun. Lembaga keuangan terkait seperti bank dan koperasi dapat turut meningkatkan portofolio serta penetrasi pasar yang lebih luas.

Melalui PAMDS ini daerah-daerah yang siap untuk solusi keuangan mikro dapat bermitra dengan lembaga keuangan yang dipilih dengan cermat untuk menyediakan pinjaman air dan sanitasi yang terjangkau bagi keluarga yang membutuhkan. Mitra keuangan mikro ini membentuk pinjaman air dan sanitasi dalam portofolio penawaran mereka. Water.org mendukung mereka dengan menyediakan sumber daya, pendidikan, koneksi dengan praktisi lain, dan bantuan teknis untuk memulainya. Peminjam menggunakan pinjaman kecil yang terjangkau ini untuk memasang keran atau toilet di rumah mereka dan mendapatkan akses ke sumber daya lokal yang dapat melakukan pekerjaan. Setiap pinjaman yang dibayar dapat memberdayakan keluarga lain dengan air yang aman

Kami tidak memberikan direct implementation atau pendampingan langsung ke rumah tangga. Tugas kami adalah mendampingi lembaga keuangan untuk membuat skema kredit air dan sanitasi. Kemudian, dari lembaga keuangan yang akan memasarkan program kredit ini dan memastikan pembangunan sesuai dengan rencana.

Berkat WaterCredit lebih dari 750,000 jiwa di Indonesia berhasil memiliki akses terhadap air dan sanitasi.

Saya pernah bertemu dengan salah satu nasabah lembaga keuangan di Tangerang. Seorang wanita sudah berumur. Saya lupa, ia penjual gado-gado atau lotek di sekitar rumahnya. Waktu itu saya bertanya pada beliau, di mana ia buang air besar sehari-hari. Ternyata, ia BAB di jalan air atau semacam saluran air di luar rumah. Saya bingung, “bagaimana saat siang hari?” Ternyata, ia (dan mungkin beberapa warga lainnya) BAB di dalam rumah dan menyimpan kotoran mereka di dalam kantong plastik terlebih dahulu, untuk dibuang ke jalur air pada malam harinya. Sementara saat malam tiba, mereka bisa langsung melakukan BAB di luar rumah. Mereka tidak punya jamban ataupun akses air yang baik.

Setelah mereka tahu ada program kredit air bersih dan sanitasi ini, mereka mulai menyicil untuk membuat jamban atau kamar mandi di rumah. Terakhir kali saya berkomunikasi dengan ibu ini, katanya cucu-cucu sudah mau menginap di rumah. Sebelumnya, mereka hanya berkunjung. Bahkan ketika masa liburan sekolah. Hanya mampir pada siang hari kemudian pulang di hari yang sama karena di sana tidak ada sarana air bersih dan kamar mandi. Jika cuci tangan dan mandi harus ke tetangga juga malu rasanya. Sekarang, hanya karena akses air bersih dan sanitasi yang layak, keluarga menjadi semakin dekat.

Tidak semua orang punya kesempatan untuk melihat langsung betapa banyaknya orang kekurangan air bersih. Saya beruntung bisa menjadi saksi. Ketika kita pernah bertemu dengan orang yang memiliki persoalan air bersih dan sanitasi, saya yakin, kita akan jauh lebih menghargai air. Paling tidak di rumah sendiri. Misalnya dengan memakai shower bukan bak dan gayung. Kita bisa menghitung kebutuhan air kita sehari-hari agar cukup dan tidak berlebihan. Hemat air sudah seharusnya menjadi gaya hidup.

Ketika kita pernah bertemu dengan orang yang memiliki persoalan air bersih dan sanitasi, saya yakin kita akan jauh lebih menghargai air.

Jika kita punya kapasitas jejaring sosial dan pertemanan yang luas, kita bisa gunakan untuk menyebarkan kesadaran tentang akses air dan sanitasi. Berikan informasi kepada masyarakat tentang solusi-solusi air bersih dan kesehatan, bukan hanya tentang masalahnya. Saat ini kita sangat butuh jalan keluar dan WaterCredit ini bisa jadi salah satunya.

Terlalu banyak masalah air dan sanitasi baik di dunia maupun di negara kita tercinta ini. Tapi alangkah baiknya kita tidak terus fokus pada masalahnya. Kita seakan selalu menekan pemerintah tentang ini dan itu, tentang air dan sanitasi. Saya yakin pemerintah tahu bahwa hal ini adalah masalah yang sangat besar di Indonesia. Namun saya ingin mengajak kita semua untuk bisa mulai melakuan sesuatu dan fokus pada solusi. Akan selalu ada jalan keluar apabila kita mau mulai dan mau bersama – sama memulainya.

Related Articles

Card image
Society
Beradaptasi dengan Inovasi

Saya telah mendengar dan melihat banyak cerita tentang pemilik usaha kecil yang awalnya memulai berbisnis karena penasaran. Mereka belajar dari Youtube, bereksperimen sambil terus di rumah karena pembatasan sosial, dan ternyata membuahkan bisnis yang berkembang.

By Jerome Polin
02 July 2022
Card image
Society
Memahami Wibu: Obsesi terhadap J-Culture

Wibu atau weeb adalah istilah yang digunakan untuk orang-orang non-Japanese yang terobsesi atau sangat menggemari kultur Jepang, khususnya yang terkait dengan game, manga, atau anime. Meskipun istilah weeb itu sendiri baru muncul di 4chan, sebuah situs berbagi gambar populer sekitar 1 dekade lalu, kultur wibu (atau Japanophilia) sebenarnya sudah lahir sejak era 80-90an.

By Pirrou Sophie
04 June 2022
Card image
Society
Tenang Bercerita

Tempaan hidup secara lahir dan batin yang awalnya disimpan dan menumpuk karena mungkin belum paham bagaimana cara merespon perasaan yang hadir. Kemudian emosi dan perasaan itu akhirnya muncul dalam bentuk rasa cemas berlebih yang saya rasakan.

By Syafwin Ramadhan Bajumi
23 April 2022