Society Art & Culture

Filsafat, Kehidupan, dan Pandemi

Filsafat sebenarnya sesuatu yang tidak jauh dari kehidupan kita. Bisa jadi, setiap hari kita berfilsafat melalui beragam pertanyaan yang reflektif dan mendalam tentang segala sesuatu. Bahkan sedari kecil, setiap anak sudah berfilsafat, dengan mengajukan berbagai pertanyaan yang nampaknya sederhana namun sebenarnya tidak mudah untuk dijawab. Semakin beranjak dewasa, seorang anak semakin dijejali berbagai dogma yang membuatnya merasa menemukan jawaban yang pasti atas segala sesuatu. Padahal, kepastian dapat diperiksa kembali oleh filsafat. Jangan-jangan, kepastian itu hanya ilusi saja, yang membuat kita merasa berdiri di atas fondasi yang kokoh, padahal sangat rapuh. Situasi pandemi ini adalah salah satu contoh betapa kita tidak bisa lagi menyandarkan diri pada kepastian. Filsafat membantu kita untuk menganalisa situasi serba asing dan menyediakan kemungkinan pemaknaan yang baru terhadap hidup.

Filsafat membantu kita untuk menganalisa situasi serba asing dan menyediakan kemungkinan pemaknaan yang baru terhadap hidup.

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia sebenarnya bergulat dengan ketidakteraturan. Itu sebabnya kita semua berusaha untuk memprediksi dan mengontrol kehidupan. Kita membuat rumusan tentang hidup, agar hidup itu sendiri dapat dikendalikan. Namun apakah kehidupan dapat sepenuhnya kita genggam? Filsafat sudah sejak lama berupaya mengartikulasikan hal-hal yang sukar dimengerti dalam hidup melalui sejumlah pernyataan maupun pertanyaan. Dengan berfilsafat, kita berusaha terus menerus mencari pengertian tentang hidup, sambil menyadari bahwa hidup itu sendiri tidak bisa sepenuhnya dipahami, apalagi diprediksi. Pada titik itu, berfilsafat adalah jalan menuju kebijaksanaan – sebagaimana definisi paling klasik tentang filsafat itu sendiri: “cinta kebijaksanaan”. 

Dengan berfilsafat, kita berusaha terus menerus mencari pengertian tentang hidup, sambil menyadari bahwa hidup itu sendiri tidak bisa sepenuhnya dipahami, apalagi diprediksi.

Lantas, mengapa filsafat sering mengacu pada pemikiran orang lain? Mengapa tidak berpikir sendiri saja?

Pertanyaan semacam itu sering sekali saya dengar. Memang betul, orang yang belajar filsafat biasanya akan membaca gagasan para pemikir dari ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu. Bukankah pemikiran mereka sudah usang? Ini yang menarik untuk kita telaah. Pemikiran Plato, misalnya, memang berasal dari sekitar 2500 tahun yang lalu. Tapi pandangan-pandangannya tetap kita pelajari hingga hari ini. Artinya, meski dunia kita sekarang dengan dunia Plato dulu sudah sangat jauh berbeda, tapi ada hal-hal yang tidak berubah. Ada hal-hal yang oleh Plato dipertanyakan, oleh kita pun masih dipertanyakan. Namun apakah itu berarti kita tidak bisa berpikir sendiri? Tentu saja bisa. Namun bagaimana kita tahu bahwa pikiran kita ini adalah pikiran sendiri, jika tidak pernah membaca beraneka ragam pemikiran orang lain? Jangan-jangan, apa yang kita pikirkan, ternyata sudah pernah dipikirkan oleh orang lain? 

Lantas, bagaimana dengan filsafat di Indonesia? Filsafat di Indonesia ternyata tumbuh subur di masa pandemi. Melalui sejumlah kelas daring, filsafat diperkenalkan pada publik secara luas dengan wajah yang lebih ramah (tidak seperti stereotip selama ini yang terkesan rumit dan terlampau serius). Filsafat tidak hanya milik para akademisi saja, melainkan bisa juga dilakukan secara intens di “alam liar” bahkan menjadi bacaan senggang para praktisi. Maraknya ketertarikan orang terhadap filsafat di masa pandemi ini, ternyata tidak hanya menarik perhatian saya saja, melainkan juga sejumlah orang dan juga komunitas yang memang sudah lebih lama bergelut di dunia filsafat. Awalnya saya berbincang dengan Martin Suryajaya, seorang kawan filsuf yang sangat produktif, tentang keadaan ekosistem filsafat. Di waktu yang bersamaan, Romo Albertus Joni juga menghubungi dan mengutarakan optimismenya tentang keadaan filsafat di Tanah Air. Akhirnya, bersama-sama dengan kawan-kawan dari komunitas seperti LSF Discourse (Malang), Ze-No Centre for Logic and Metaphysics (Yogyakarta), Schole ID (Jakarta), Logos ID (Jakarta), Masyarakat Filsafat Indonesia (Jakarta), Betang Filsafat (Pontianak), Antinomi (Yogyakarta), A Being is Asking (Jakarta), dan LSF Cogito (Yogyakarta), kami akhirnya merancang festival filsafat bernama Philofest ID. Philofest ID menjadi respons terhadap inisiasi filsafat di masa pandemi.

Filsafat tidak hanya milik para akademisi saja, melainkan bisa juga dilakukan secara intens di “alam liar” bahkan menjadi bacaan senggang para praktisi.

Festival filsafat ini diharapkan memberi atmosfer positif dari perkembangan ekosistem filsafat di Indonesia. Di dalam festival, seluruh bagian dari ekosistem filsafat dilibatkan dari mulai akademisi filsafat, penulis filsafat, pegiat filsafat, komunitas filsafat, hingga penerbit buku-buku filsafat. Dengan jumlah pengisi acara hingga 60 orang yang terbagi ke dalam sekitar 30 sesi, maka Philofest ID dapat dikatakan sebagai festival filsafat terbesar di Indonesia.  

Harapannya, dengan digelarnya acara Philofest ID, tidak hanya ekosistem filsafat yang dapat bertumbuh dengan sehat. Dampak lebih jauhnya, masyarakat secara luas dapat merasakan manfaat dari berfilsafat, baik untuk merefleksikan kehidupan, menganalisa gejala, menemukan makna, hingga berlaku praktis.  

Related Articles

Card image
Society
Bercerita Dengan Karya

Rasanya kita bisa sepakat bahwa pandemi ini memang tidak mudah bagi semua orang. Musisi dan teman-teman dari industri musik juga tidak lepas dari dampak situasi ini. Bahkan saya pikir industri musik adalah salah satu sektor yang paling awal terdampak dan mungkin akan jadi yang terakhir untuk bisa bangkit.

By Kukuh Rizal
04 September 2021
Card image
Society
Arti Popularitas

Popularitas yang saya miliki sebenarnya merupakan sebuah refleksi untuk dapat lebih berkesadaran, memerhatikan mana perilaku yang bisa memberi pengaruh baik dan tidak pada orang lain. Barulah di saat itu, popularitas dapat menjadi sebuah prestasi. 

By Omar Daniel
28 August 2021
Card image
Society
Karya Untuk Negeri

Dengan kita terus konsisten menampilkan karya-karya yang menghibur, kita sebenarnya sudah mendapatkan kebaikan yang tak terbayarkan. Seperti halnya aku yang terhibur karena melihat kreator konten dengan pesan positif dan menyenangkan, aku juga bisa melakukan hal yang sama pada orang lain lewat karyaku.

By Yohanna Sicillia
28 August 2021