Self Lifehacks

Bahagia Dimulai Dari Diri Sendiri

Desi Anwar

@desianwar

Jurnalis & Penulis

Marissa Anita

@

Jurnalis & Aktris

Fotografi Oleh: Masaaki Komori (Unsplash)

Contentment: perasaan bahagia dan puas (Cambdrige Dictionary)

Saya percaya kita manusia selalu mencari perasaan ini. Sebuah perasaan yang kelihatannya sederhana tapi pencariannya ternyata tidak selalu sesederhana itu. Suatu sore, saya duduk bersama Desi Anwar, seorang jurnalis dan teman tukar pikiran. Di meja sudah ada kue scones buatan suami lengkap dengan krim, selai dan teh hangat. Di sini, kami membedah apa itu contentment

Marissa Anita (M): Bagi Mbak Desi, apa itu contentment

Desi Anwar (D): Sebuah perasaan, bagaimana perasaan kita di saat ini. bukan apa yang kita miliki, tapi apa yang kita rasakan. Tanpa ada merasa kekurangan apa pun. Sederhana sekali. Itu adalah contentment.

M: Apa yang Anda lakukan dalam keseharian untuk menjaga adanya contentment dalam hidup Anda?

D: Manusia cenderung memikirkan sesuatu, apakah itu mengenai masa lampau yang penuh dengan penyesalan atau rasa tidak puas, atau berpikir tentang masa depan yang ditakuti atau dicemaskan, atau tidak sabar ingin maju ke depan. Ini disebut attachment atau keterikatan. Kunci contentment adalah membebaskan diri kita dari keterikatan-keterikatan itu. Bentuk keterikatan contohnya emosi.

Misal kita sedang duduk minum teh tiba tiba berpikir tentang kenangan masa lalu. Kemudian kita buka Facebook atau Instagram, melihat mantan pacar dengan pacar baru. Ini membawa kita ke masa lalu di mana dulu kita merasa tidak dihargai (pacar). Kemudian kita kembali tenggelam dalam kekecewaan dan kemarahan.

Dalam satu hari ada 24 jam. Saya mengisi setiap waktu itu dengan kesadaran terhadap apa yang saya lakukan setiap saat.

Kalau saat ini sedang minum teh, ya kita fokus ke minum teh — menikmati, merasakan, merasa bersyukur, dan menghargai waktu kesendirian itu. Ketika kita minum teh sambil lihat handphone, ini mengundang ‘tamu’ (perasaan tidak enak) yang tidak kita undang dan kurang menyenangkan. Tamu yang tidak diundang ini pasti akan merusak momen saya untuk benar-benar menikmati teh ini. Bukan saja merusak momen, tetapi juga sebetulnya tidak ada gunanya. Jadi, jangan undang hal-hal yang tidak kita undang secara sadar dan tidak ada gunanya.

Manusia cenderung memikirkan sesuatu baik itu masa lalu atau masa depan. Kunci contentment adalah membebaskan diri kita dari keterikatan-keterikatan itu.

M: Tapi bukankah pemikiran itu terkadang adalah sebuah masalah yang perlu solusi?

D: Berbeda misal saya punya masalah. Cara mengatasinya yakni dengan sadar kita berpikir (sehingga) ada pemecahan terhadap apa yang dipikirkan, bukannya kita malah hilang dalam emosi.

Misal saya bertemu Marissa, pertemuan kita berakhir tidak enak. Saya coba refleksikan: "Apakah saya tadi salah ngomong? Apakah dia sedang sedih tentang anggota keluarga yang sakit?" Dan ketika saya bertemu Marissa, saya akan diskusikan, dan kalau saya melakukan kesalahan, saya akan minta maaf, finish. Jangan pernah dibawa arus oleh pikiran dan emosi kita sendiri, tapi lihat, tatap dan cari jalan keluar.

M: Jadi kita tidak menjadi sekedar manusia yang reaktif?

D: Betul sekali. Itu yang membuat kita tidak bahagia, ketika kita tidak bisa mengendalikan emosi, pikiran, atau mood. Ini yang membuat manusia itu galau, uring-uringan, dan tidak paham kenapa tidak pernah puas.

Ketika kita tidak bisa mengendalikan emosi, pikiran, atau mood. Ini yang membuat manusia itu galau, uring-uringan, dan tidak paham kenapa tidak pernah puas.

M: Bagaimana menjaga contentment di era digital penuh distraksi?

D: Kita perkuat benteng diri dengan disiplin diri. Benteng diri ini yang seharusnya kita ajarkan pada anak anak muda kita yang hidup dan tumbuh di generasi medsos. Mereka cenderung ringkih terhadap opini orang, thumbs up atau thumbs down [likes]. Kalau thumbs up, merasa sangat tersanjung. Kalau thumbs down, merasa depresi, merasa dirinya tidak berguna. Untuk memperkuat emosi, mental, psikologis ini memerlukan disiplin. Kita tidak bisa mengontrol apa pun kalau kita tidak bisa mengontrol diri kita sendiri. Untuk mengontrol diri kita, dibutuhkan disiplin yg dilatih terus menerus. 

M: Ponsel pintar dan segala yang ditawarkan di dalamnya adalah salah satu godaan terbesar dalam hidup...

D: Paling gampang, bagaimana kita melihat suatu gadget. Apakah alat ini menjadi safety blanket atau tool. Apakah alat ini punya fungsi yang jelas dan sesuai dengan kebutuhan saya. Saya gunakan alat ini sesuai fungsinya. Bagi saya, alat ini untuk mencari informasi dan berkomunikasi. Ketika menggunakannya, saya juga alokasikan waktu dan durasi menggunakannya. Ketika baca koran dulu setengah jam selesai. Baca koran tidak mungkin seharian, kan? Sama seperti ponsel.

Saya juga matikan notifikasi. (Ponsel saya) tidak bergetar, tidak berbunyi. Kalau ada telepon masuk dan saya tidak tahu siapa, ya saya tidak angkat. Bagi mereka yang kenal saya, mereka biasa akan kirim pesan dulu dan janjian kapan bisa berbicara di telepon.

M: Ini bentuk-bentuk disiplin diri juga?

D: Discipline gives its own contentment. Disiplin menghasilkan bentuk kebahagiaan dan kepuasaan tersendiri. Misal ketika buka medsos, kita alokasikan khusus, misal 30 menit pada jam tertentu. Jadinya you have something to look forward to and when you watch the time, you can actually do so much in half an hour! 

Disiplin menghasilkan bentuk kebahagiaan dan kepuasaan tersendiri.

M: Apakah meditasi bisa menjadi alat untuk melatih disiplin diri?

D: Meditasi alat salah satu yang dipakai untuk mengatasi berbagai masalah termasuk kesehatan mental, mengatasi stres, mencapai ketenangan. Banyak yang bingung dengan definisi meditasi itu apa. Ada yang berpikir: "Aduh, kalau meditasi nanti masuk ashram, terus nggak boleh ngomong. Meditasi vipassana 10 hari, ponsel dikurung, makan sedikit, duduk di lantai, nggak sesuai dengan kepercayaan saya," dan lain sebagainya — mikirinnya saja sudah stres. Jadi saya juga hati-hati dengan kata meditasi, saya lebih suka kata mindful. Tujuan sholat lima waktu itu kan kita ber-mindful atau meditasi. Paling tidak diingatkan untuk lima kali sehari dimana kita sepenuhnya berinteraksi dengan sesuatu yang di luar kita. Sadar terhadap saat ini dan tidak terusik dengan hal-hal yang lain.

Tujuan sholat lima waktu itu kan kita bermeditasi. Paling tidak diingatkan untuk lima kali sehari dimana kita sepenuhnya berinteraksi dengan sesuatu yang di luar kita. Sadar terhadap saat ini dan tidak terusik dengan hal-hal yang lain.

Sebenarnya ini bisa dilakukan kapan saja. Contoh kita sedang ngobrol dengan teman atau pasangan, sadar bahwa ini adalah waktu kita berkomunikasi ketika berkomunikasi. Waktu Marissa lagi bicara, ya saya dengarkan. Tapi yang biasanya terjadi adalah orang berkomunikasi tidak secara sadar. Dia tidak mendengarkan, pikirannya kemana-mana, atau sambil liat ponsel, atau tidak mendengarkan sama sekali tapi hanya menunggu giliran waktunya untuk bicara supaya dia bicara apa yang dia inginkan.

M: Kemudian jadi konflik lalu bertengkar?

D: Saya tidak percaya multitasking karena kita melakukan banyak hal (di waktu yang sama) tapi tidak ada yang bagus kualitasnya.

Saya tidak percaya multitasking karena kita melakukan banyak hal (di waktu yang sama) tapi tidak ada yang bagus kualitasnya.

M: Bagaimana Anda melatih disiplin diri?

D: Saya dari kecil dipupuk untuk memiliki kesadaran tinggi karena orangtua saya, gaya mengasuh anak orangtua saya bukan helicopter parenting. Mereka sibuk dengan kehidupan sosial mereka karena mereka akademisi. Jadi mau tidak mau saya harus bisa self-comfort (memberikan rasa nyaman pada diri sendiri). Waktu kecil, misal saya dirundung kakak, saya ngadu ke ibu, ibu saya bilang: "Salah sendiri, sudah tahu orangnya seperti itu, ngapain juga dekat-dekat?"

M: Mbak Desi sudah mandiri dari kecil?

D: Ya. I need to be able to look after myself. Mau tidak mau jadi harus mencari jalan keluar untuk bagaimana menjaga diri sendiri. Ini bagus untuk mendisplinkan diri kita sendiri.

M: Tapi tidak semua orang dengan masa kecil seperti itu menjadi seperti Desi Anwar sekarang, kan?

D: Memang tidak. Setiap orang punya pengalaman sendiri, karakter sendiri, dan tujuan hidup sendiri. Tapi setiap orang punya pengalaman masa kecil yang membentuk dia dan dia bawa sampai dewasa.Masalahnya apakah kita mau terus menerus terjerat dalam perasaan-perasaan seperti (waktu kecil nggak disayang, favorit orang tua itu kakak). Apakah itu yang mau dibawa terus menerus? Atau kita bisa move on dengan mengelola emosi kita.

Setiap orang punya pengalaman masa kecil yang membentuk dia dan dia bawa sampai dewasa.

M: Saya kerap berpikir, musuh terbesar kita seringkali adalah diri kita sendiri. Anda punya cara untuk berdamai dengan diri sendiri?

D: You’ve hit the nail on the head there (pemikiran kamu akurat — red.). Pada akhirnya, hanya kita sendiri yang harus menghadapi diri kita sendiri. Dan ini sangat susah. Penyakit yang paling sering diderita adalah penyakit mental. Sekarang ada adiksi Opioid di Amerika Serikat; kasus bunuh diri lebih tinggi dari kasus perang dan konflik. Ini berarti apa? Pergulatan manusia paling besar adalah dengan dirinya sendiri. Tapi seringkali pergulatan ini akhirnya menjadi pergulatan dengan orang lain. Karena kita tidak happy dengan diri sendiri, kita tidak bisa menguasai diri jadi semua orang diajak bertengkar. Ketika kita membenci diri sendiri, kita mau semuanya jadi penuh kebencian. It’s a cry for help.

Bagaimana berdamai dengan diri sendiri? Waktu saya kecil di Padang, suatu hari saya terbangun dan menemukan orangtua saya sudah pindah ke London bersama salah satu kakak saya. Saya umur 10 atau 11 tahun saat itu. Saya menangis dan berpikir: "Bagaimana saya akan hidup ketika sendirian seperti ini?" Ketika saya menangis, kebetulan di depan saya ada kaca. Saya melihat refleksi saya sendiri, seorang anak perempuan dengan mata merah penuh air mata, dengan rambut awut-awutan. Saya tiba-tiba merasa malu dengan penampakan saya sendiri di kaca. Saya terus perhatikan refleksi saya kemudian saya ubah ekspresi wajah saya dengan senyum. Saya kemudian berpikir: "Hey. Sekarang tidak ada lagi yang menyuruh-nyuruh saya. Saya tidak perlu mandi kalau saya tidak mau, saya bisa melakukan apa pun yang saya mau di rumah ini. Asyik!"

Pergulatan manusia paling besar adalah dengan dirinya sendiri. Tapi seringkali pergulatan ini akhirnya menjadi pergulatan dengan orang lain. Karena kita tidak happy dengan diri sendiri, kita tidak bisa menguasai diri jadi semua orang diajak bertengkar.

M: Jadi ini tentang perspektif mana yang bisa kita ambil ketika melihat hidup? 

D: Ya. Dan karena saya melihat diri saya sendiri di kaca, saya jadi mampu menciptakan jarak dengan diri saya sendiri. Sometimes that’s what you have to do, when you’re sad, you just have to look at yourself in the mirror.

M: Selama hampir tiga dekade Anda berkarir di dunia jurnalistik, Anda telah mewawancarai banyak tokoh spiritual dan non spiritual. Apa benang merah dari mereka semua?

D:  Yang saya tangkap, semua orang ingin memiliki kehidupan yang bermakna, berguna. Manusia paling happy secara utuh ketika dia merasa berguna untuk orang lain dan lingkungannya. Ketika kita bisa memberikan kontribusi, kita merasa bahagia.

M: Apa yang membuat Anda discontented atau tidak bahagia?

D: Ketika saya tidak punya kendali; ketika saya mengalami perasaan, emosi, dan mood yang saya tidak paham sumbernya dari mana; krisis eksistensi pada usia muda dimana muncul banyak pertanyaan seputar kehidupan dan tidak menemukan jawabannya. Frustrasi. Maka itu selalu ada keinginan untuk selalu mencari jawaban dan proses pencariannya terus menerus.

M: Sudah ketemu jawabannya?

D: Mungkin ketemunya ketika proses belajar meditasi yang tidak semua orang bisa mengikuti — selama 10 hari hanya dengan diri sendiri, tidak bisa lari dari diri sendiri. Waktu meditasinya begitu dalam dan saya merasa diri saya satu dengan sesuatu yang lebih besar. Dan ketika mencapai titik ini, hal kecil tidak lagi menjadi masalah, little things stop to matter. Kita bukan emosi kita. Kita bukan keinginan kita. Kita bukan masa lalu kita. Kita bukan masa depan kita.

M: What is your contentment first aid? Apa ‘kotak P3K’ atau pertolongan pertama Anda untuk merawat rasa bahagia? 

D: Pertama, what is the worst thing that can happen? Apa sih skenario terburuk yang bisa terjadi? Misal skenario terburuk adalah kita mati. So, what? Terus kenapa? Semua orang juga suatu hari akan mati. Kedua, not everybody’s opinions matter. Tidak semua opini orang itu penting dan harus kita dengarkan. Kemampuan mengelola kritik. Ketiga, don’t take things personally. Tidak gampang tersinggung. Lalu, if you make a mistake, just treat yourself the same way as if your mother make a mistake. It’s okay, no big deal.

Tidak semua opini orang itu penting dan harus kita dengarkan.

M: Dunia ini penuh masalah-masalah besar yang terus berulang. Misal, perang masih terjadi di mana-mana meski kita tahu perang itu tidak ada gunanya. Kebakaran hutan dengan skala parah juga terus berulang, dan masalah besar sejenis lainnya. Saya khawatir ini membuat kita manusia makin hari makin pesimistis. Bagaimana Anda menjaga optimisme dalam kehidupan?

D: Kita harus memilah-milih informasi yang kita baca, dan seberapa banyak yang kita baca dalam satu hari. Batasi paparan kita terhadap berita buruk tentang dunia. Kalau kita terlalu banyak terpapar berita buruk, perasaan kita akan terdampak.

Memang betul, permasalahan yang sama terjadi lagi dan lagi, ini karena sifat manusia. Lalu apa yang bisa kita lakukan? Kalau kita bisa melakukan sesuatu dan membawa perubahan, ya lakukan (misal membuat petisi, menulis artikel, membuat film tentang permasalahan ini, dll.). Kalau kita tidak bisa, ya tidak apa-apa juga, tapi jangan kemudian mengeluh dan hanya menambah energi negatif saja. 

Satu hal lagi, siapa bilang kondisi dunia kini makin parah dibandingkan sebelumnya? Ini pentingnya membaca sejarah. Ada yang bilang: "Dunia menuju kehancuran, makin banyak gun violence, kekerasan senjata, koruptor merajalela." Tunggu dulu, belum lama kita mengalami Perang Dunia II dimana 40 juta orang tewas. Ya, manusia memang melakukan banyak hal buruk, tapi manusia juga sebagian sudah berjalan di arah yang benar — mengurangi kemiskinan, menciptakan manusia yang lebih sehat, lebih berpendidikan. It depends on how you look at the world, the perspective. Tergantung perspektif kita melihat dunia.

Being cynical, if it solves the problem, by all means indulge in it (sinis, kalau itu memecahkan masalah, silakan). Tapi kalau tidak memecahkan masalah, supaya kita merasa lebih baik, pikirkan perubahan apa yang bisa kita buat di sekitar kita, sekecil apa pun itu.

Batasi paparan kita terhadap berita buruk tentang dunia. Kalau kita terlalu banyak terpapar berita buruk, perasaan kita akan terdampak.

Related Articles

Card image
Self
Kegagalan Bagian Dari Kebahagiaan

Manusia hidup dalam keseimbangan; seimbang antara berjuang dan beristirahat, maju dan mundur, atau berhasil dan gagal. Sering sekali ketika kita berusaha, kita hanya berfokus pada satu sisi – sisi yang enak saja. Tentu berfokus pada keberhasilan itu baik, namun dengan melupakan sisi lainya perjuangan menjadi mudah melelahkan.

By Jiemi Ardian
19 October 2019
Card image
Self
Mengapa Harus Minder?

Apakah kalian adalah mereka yang duduk di deretan paling belakang ketika mengikuti suatu acara? Berharap tidak terlihat oleh pembicara di depan agar tidak diminta menjawab pertanyaan. Apakah kalian adalah mereka yang mengarahkan pandangan ke bawah ketika berjalan melewati banyak orang? Jika ya, kalian tidak sendirian. Saya pun begitu – dulu.

By Aulia Meidiska
19 October 2019
Card image
Self
Bertanggung Jawab Dengan Pilihan

Setiap orang memiliki perjalanan spiritual yang berbeda-beda. Kisah tiap manusia dalam berhubungan dengan Sang Pencipta, nyatanya, tidaklah memiliki ukuran tertentu. Ketaatan dan kesalehan seseorang adalah tentang totalitas dirinya kepada segala pilihannya dalam hidup. Hanya Tuhanlah yang bisa menilai apakah seseorang bisa dibilang saleh atau tidak.

By Dewi Sandra
19 October 2019